Tradisi Turun Tanah atau Tedhak Siten dalam Masyarakat Jawa

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi turun tanah atau tedhak siten adalah suatu upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa secara turun temurun. Pada umumnya, tradisi ini diselenggarakan bagi anak yang berusia delapan bulan.
Sugiati dalam Simbolisme Pada Tradisi Tedhak Siten (Ritual Turun Tanah) di Desa Bandar Lor Kota Kediri menyebutkan bahwa tradisi turun tanah adalah suatu tradisi yang dilaksanakan untuk mendoakan anak yang baru lahir.
Untuk mengetahui informasi mengenai tradisi turun tanah, cari tahu selengkapnya dalam artikel berikut.
Apa itu Tradisi Turun Tanah?
Tradisi turun tanah adalah upacara adat yang banyak diselenggarakan oleh masyarakat Jawa secara turun temurun. Turun tanah atau tedhak siten adalah tradisi yang dilaksanakan untuk anak yang baru lahir dengan menginjakkan kakinya ke tanah.
Umumnya, tradisi ini diselenggarakan untuk anak yang baru menginjakkan kaki pertama kalinya di tanah. Pada dasarnya, tradisi ini dilaksanakan untuk anak berusia 7 bulan dalam kalender Jawa maupun 8 bulan menurut kalender Masehi.
Sebab, anak umumnya akan belajar berjalan pada usia tersebut. Jadi, saat itulah momen anak pertama kali menapak tanah. Selain sebagai kebudayaan, turun tanah juga termasuk sebagai aktivitas yang melambangkan cara orang tua dalam membimbing anak untuk menjalani kehidupannya melalui prosesi serta uborampe yang digunakan dalam upacara adat.
Pelaksanaan Tradisi Turun Tanah
Terdapat sejumlah langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara turun tanah. Adapun beberapa tahapan tradisi turun tanah adalah:
1. Membersihkan Kaki
Salah satu tahap pelaksanaan tradisi turun tanah adalah orang tua menggendong anak untuk dibersihkan kakinya sebelum mulai menginjakkan kaki ke tanah.
2. Berjalan Melalui 7 Jadah
Tahap pelaksanaan tradisi turun tanah berikutnya adalah anak dituntun untuk berjalan di atas tujuh jadah yang mempunyai warna berbeda-beda. Mulai dari jadah merah, putih, kuning, hijau, biru, ungu, serta merah jambu.
3. Menaiki 7 Tangga
Selanjutnya, orang tua akan menuntun anak untuk menaiki 7 tangga yang berasal dari tebu wulung atau batang tebu. Hal ini menyimbolkan bahwa anak akan menghadapi perjalanan hidup mulai dasar hingga ke puncak.
4. Memasukkan ke Dalam Kurungan
Tahap pelaksanaan upacara adat turun tanah berikutnya adalah dengan memasukkan anak ke dalam kurungan ayam. Di dalam kurungan akan diletakkan perhiasan, beras, mainan, buku tulis, dan lainnya.
5. Memandikan Anak
Pelaksanaan tradisi turun tanah selanjutnya adalah dengan memandikan anak. Orang tua perlu mengambil air untuk mandi mulai dari pukul 10-12 siang hari dan didiamkan semalaman.
6. Memberikan Udhik-Udhik
Pelaksanaan tradisi turun tanah yang terakhir adalah dengan memberikan udhik-udhik atau uang logam yang dicampurkan bunga.
Demikian informasi mengenai apa itu tradisi turun tanah dan tata caranya. [ENF]
