Konten dari Pengguna

Tugas Heiho sebagai Tentara Pembantu Jepang

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tugas Heiho. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tugas Heiho. Foto: Pexels

Tugas Heiho dikatakan adalah untuk berbakti pada bangsa dan tanah air Indonesia. Namun, tentu saja hal tersebut hanyalah propaganda Jepang untuk menarik perhatian pemuda Indonesia.

Sejatinya, tugas Heiho hanyalah untuk membantu Jepang yang menduduki Indonesia saat itu. Simak pembahasan lebih lanjut mengenai tugas Heiho melalui artikel di bawah ini.

Tugas Heiho

Ilustrasi tugas Heiho. Foto: Pexels

Dalam buku Saudara Tua Seumur Jagung karya Joesoef Adipatah, komando tertinggi wilayah militer di Saigon, pertama kali mengumumkan mengenai pembentukan barisan Heiho.

Pasukan Heiho dibentuk pada 2 September 1942 dan mulai merekrut pada 22 April 1943. Syarat untuk menjadi Heiho adalah pemuda berusia antara 18 - 25 tahun, dengan badan yang sehat dan kelakuan yang baik.

Jepang sengaja menyelipkan propaganda dengan mengatakan bahwa bergabung dengan Heiho adalah kesempatan untuk berbakti pada tanah air dan bangsa demi kemerdekaan Indonesia.

Pemuda yang bergabung di Heiho, berasal dari bekas KNIL (Koninklijke Indische Leger) yang merupakan tentara Belanda keturunan Indonesia yang ditawan oleh Jepang.

Selain itu, Jepang juga banyak merekrut pemuda dari Jawa. Calon Heiho mendapatkan pelatihan militer di berbagai pusat latihan, seperti Magelang dan Cimahi.

Pada awalnya, Heiho dilatih untuk membantu pekerjaan tentara Jepang, seperti menjaga pertahanan, membangun kubu dan parit pertahanan, mengemudi di medan tempur, artileri medan, keahlian senjata, dan lainnya.

Heiho mengenakan seragam mirip dengan tentara Jepang dan segera membantu operasi militer Jepang di luar negeri, misal Burma, Thailand, juga Kepulauan Solomon.

Namun, tugas Heiho ternyata tidak terbatas pada pekerjaan militer di medan perang, tapi juga berhadapan langsung dengan pasukan lawan, setelah situasi perang menjadi semakin rumit.

Heiho juga melakukan pekerjaan kasar, seperti menebang pohon, membangun jalan, memasak, dan lain sebagainya. Hal ini membuat mereka kelaparan, sakit, hingga tewas karena kelelahan.

Namun demikian, meskipun anggota Heiho telah bekerja dengan sangat keras, mereka tidak akan bisa diangkat menjadi perwira karena pangkat tersebut hanya bisa diemban oleh tentara Jepang.

Demikian adalah tugas Heiho sebagai organisasi pembantu prajurit Jepang di Indonesia. (SP)