Konten dari Pengguna

Upacara Adat Jawa Tengah Masih Dilestarikan Hingga Kini

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi upacara adat jawa tengah. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi upacara adat jawa tengah. Foto: Pixabay

Upacara adat Jawa Tengah berbeda-beda, sebab bergantung pada wilayahnya. Ditambah lagi adanya akulturasi dari berbagai budaya yang berbeda.

Artikel berikut akan membahas tentang beberapa upacara adat Jawa Tengah yang populer dan masih dilakukan hingga saat ini.

Upacara Adat Jawa Tengah

Ilustrasi upacara adat jawa tengah. Foto: Pixabay

Upacara adat merupakan kebudayaan yang berasal dari keberadaan sebuah tradisi di suatu daerah. Upacara adat biasanya digunakan untuk mengekspresikan berbagai kejadian dan kebiasaan penting.

Upacara adat memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah dalam mempererat hubungan sosial antarmasyarakat dengan kebudayaan karena di dalamnya terdapat nilai budaya yang ditekankan.

Dalam buku Kearifan Lokal Jawa Tengah: Tak Lekang Oleh Waktu, dituliskan beberapa upacara adat Jawa Tengah, antara lain:

1. Upacara Mondosiyo - Karanganyar

Upacara Mondosiyo biasanya digelar setiap Selasa Kliwon Wuku Mandasiya. Prosesi dimulai dengan berkumpulnya warga membawa tumpeng dan uborampe lengkap di sekitar Candi Cetho. Upacara ini merupakan penghormatan mendalam kepada leluhur sekaligus pemersatu semua warga dengan silaturahmi.

2. Upacara Lomban - Jepara

Upacara adat ini menjadi puncak dari syawalan yang diselenggarakan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Lomban berarti masyarakat nelayan yang bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut. Pusat perayaan berada di Pantai Kartini, tetapi bisa juga disaksikan di Ujung Gelam, Pantai Koin, Karimunjawa, dan beberapa tempat lainnya.

3. Upacara Grebeg Maulud - Yogyakarta

Upacara ini diadakan setiap 12 Rabiul Awal sebagai wujud syukur dan sedekah dari Keraton Yogyakarta. Upacara ini memperingati dan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada awalnya, tradisi ini digunakan sebagai sarana dakwah oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.

4. Upacara Dugderan - Semarang

Merupakan upacara yang dilaksanakan sebelum datangnya bulan Ramadan. Dugderan diambil dari kata dugder yang berasal dari dua kata, yaitu dug dari bunyi bedug yang ditabuh dan der dari bunyi tembakan meriam. Upacara dugderan berlangsung sejak tahun 1881, saat masa pemerintahan Bupati RMTA Purbaningrat.

5. Upacara Tedak Siten

Ialah upacara pada saat anak menginjak tanah untuk pertama kali. Upacara ini dilakukan saat anak berusia 7 bulan kalender jawa atau 8 bulan kalender masehi. Tradisi ini memiliki makna filosofi bimbingan orang tua kepada anaknya dalam meniti kehidupan melalui serangkaian prosesi.

Demikian adalah beberapa upacara adat Jawa Tengah yang masih dilakukan hingga saat ini. (SP)