Konten dari Pengguna

Upacara Adat Tingkeban untuk Ibu Hamil

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi upacara adat tingkeban. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi upacara adat tingkeban. Foto: Pixabay

Dalam tradisi Jawa, selamatan perlu diadakan sejak awal kehamilan hingga melahirkan. Namun, salah satu yang paling banyak dilakukan adalah upacara adat Tingkeban.

Upacara adat Tingkeban disebut juga mitoni. Berikut adalah pembahasan tentang Tingkeban dan tata cara upacara adat tersebut.

Upacara Adat Tingkeban

Ilustrasi upacara adat tingkeban. Foto: Pixabay

Dalam buku Kitab Primbon Jawa Serbaguna karya R. Gunasasmita, Tingkeban dikatakan lebih spesial dari acara kehamilan lain karena biasanya akan diselenggarakan secara besar-besaran.

Acara Tingkeban biasanya diadakan pada hari Rabu atau Sabtu pada tanggal ganjil sebelum tanggal 15. Ada sesaji khusus yang harus disiapkan dalam upacara tersebut.

Sesaji yang dimaksud, termasuk nasi dan urap, jajanan pasar, bubur merah, bubur putih, ampyang, emping ketan, penyon, tumpeng robyong, sampora, dan pring sedapur.

Upacara adat Tingkeban dilakukan dengan tujuan mendoakan bayi yang dikandung agar terlahir dengan sehat, lancar, dan dijauhkan dari berbagai bahaya.

Tata cara Tingkeban sendiri tidak bisa dilakukan sembarangan dan hal pertama yang harus dilakukan adalah ibu hamil harus dimandikan air kembang setaman oleh kerabat.

Ibu akan duduk di kursi kecil dengan alas tikar dan berbagai daun khusus. Begitu juga kain yang digunakan untuk prosesi, semuanya perlu dipersiapkan khusus.

Setelah mandi, ibu hamil akan berganti pakaian yang dilingkari benang merah, putih, dan hitam yang diikat longgar. Setelah itu mertua akan menjatuhkan alat pemintal benang.

Kemudian dua kelapa gading yang sebelumnya sudah digambar oleh tokoh laki-laki dan perempuan, akan dijatuhkan dengan dibacakan mantra tersendiri.

Setelah selesai, ibu hamil akan kembali masuk ke rumah. Ibu akan memakai kain dengan tujuh helai kemben. Tamu yang hadir akan berseru ketika ibu hamil mengenakan satu per satu kemben secara bergantian.

Tamu harus berseru ora pantes yang berarti tidak pantas, hingga kemben dibiarkan berserakan untuk diduduki. Ibu hamil kemudian akan memakai pakaian sesungguhnya.

Kalau sesuai tradisi, maka ibu hamil harus menggunakan kemben dringin dan kain batik tuntrum. Setelah itulah tamu undangan batu bisa berseru wis patut atau sudah pantas.

Demikian adalah penjelasan tentang upacara adat Tingkeban yang masih banyak dilakukan di Jawa hingga saat ini. (SP)