Konten dari Pengguna

Upacara Kasada: Sejarah, Makna, dan Praktik Pelaksanaannya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi upacara Kasada. Sumber: Camille Bismonte/unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi upacara Kasada. Sumber: Camille Bismonte/unsplash.com

Upacara Kasada adalah upacara adat Suku Tengger yang diselenggarakan di Gunung Bromo pada bulan ke-10 berdasarkan kalender Tengger. Tradisi ini diselenggarakan dengan membuat sesaji yang dihaturkan untuk leluhur.

Pramita, Indriyani, dan Hakim dalam Etnobotani Upacara Kasada Masyarakat Tengger, di Desa Ngadas, Kecamatan Malang, Poncokusumo, Kabupaten Malang juga menyebutkan bahwa upacara Kasada dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi masyarakat Tengger.

Jika ingin tahu tentang sejarah dan makna upacara Kasada, simak informasinya dalam bacaan berikut.

Sejarah Upacara Kasada

Ilustrasi upacara Kasada. Sumber: Hebert Kostan/unsplash.com

Upacara Kasada atau Yadnya Kasada adalah suatu bentuk tradisi yang diselenggarakan masyarakat Suku Tengger setiap setahun sekali di tanggal 15, bulan ke-10 berdasarkan kalender Tengger. Sejarah Yadnya Kasada diperkirakan berawal dari kisah Jaka Seger dan Roro Anteng yang merupakan keturunan dari Raja Majapahit.

Di tahun kedua pernikahannya, mereka belum dikaruniai anak, sehingga melakukan pertapaan di Gunung Bromo untuk meminta keturunan kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Di tengah pertapaan tersebut, mereka juga berjanji untuk mengorbankan anaknya ke kawah Gunung Bromo apabila doanya terkabulkan.

Akhirnya, keduanya memperoleh 25 anak dan merawatnya dengan baik, tetapi lupa akan janji yang pernah dibuatnya dan enggan menceritakan hal tersebut kepada anak-anaknya. Akhirnya, anak terakhir mereka, Kusuma diputuskan untuk dikorbankan.

Kusuma juga berpesan kepada keluarga serta seluruh masyarakat Tengger, jika dirinya telah menjadi tumbal dan meminta persembahan setiap tanggal 15 di bulan Kasada. Hal itulah yang menjadi latar belakang pelaksanaan upacara Kasada setiap tahunnya.

Makna Upacara Kasada

Pada dasarnya, upacara Kasada dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Suku Tengger yang mendiami 4 kabupaten di sekelilingnya. Masyarakat setempat memaknai tradisi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap Kusuma yang telah mengorbankan diri.

Lebih dari itu, masyarakat Tengger juga memaknainya bahwa Gunung Bromo adalah alam suci yang sudah memberikan mereka penghidupan, sehingga mereka perlu menghormatinya dengan menghaturkan sesembahan berupa hasil alam di Kawah Gunung Bromo.

Pelaksanaan Upacara Kasada

Seperti penjelasan sebelumnya, pelaksanaan upacara Kasada dilakukan tanggal 15 bulan Kasada dalam penanggalan Suku Tengger. Dalam upacara adat ini, masyarakat akan membawa sesaji besar untuk dilarungkan di kawah Gunung Bromo. Adapun pelaksanaan upacara Kasada adalah:

  • Persiapan upacara di Pura Luhur Poten, dekat Gunung Bromo.

  • Kidung-kidung atau uyon-uyon.

  • Penyucian tempat sembahyang atau nglukat.

  • Membacakan kitab suci Weda.

  • Membacakan cerita perkawinan Jaka Seger dan Rara Anteng sebagai sejarah upacara Kasada.

  • Menyucikan jiwa umat atau nglukat.

  • Persembahyangan atau muspa.

  • Doa pasca sembah.

  • Memilih calon dukun pandita umat Hindu di Tengger untuk periode berikutnya.

  • Melabuhkan sesaji atau larung sesaji.

  • Slametan desa.

Itulah informasi penting mengenai sejarah upacara Kasada, makna, dan pelaksanaannya. [ENF]