Antara Sensasi dan Strategi: Membaca Viralitas Aldi Taher di Era Perhatian

Public Speaking & Communication Enthusiast Pamulang University Communication Science
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ridho Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, viralitas sering kali tidak lagi ditentukan oleh kualitas pesan semata, tetapi oleh seberapa besar perhatian yang mampu direbut. Dalam konteks ini, fenomena Aldi Taher yang kembali ramai diperbincangkan publik menjadi contoh menarik: apakah ini sekadar perilaku “nyeleneh”, atau justru strategi komunikasi yang efektif?
Beberapa waktu terakhir, Aldi Taher mencuri perhatian publik melalui cara promosi bisnisnya yang tidak biasa. Ia secara masif meninggalkan komentar promosi di berbagai unggahan, bahkan yang tidak relevan dengan produk yang ia tawarkan. Sekilas, tindakan ini tampak seperti spam yang mengganggu. Namun, respons publik justru tidak sepenuhnya negative, sebagian menganggapnya lucu, sebagian lain menjadikannya bahan meme, dan tidak sedikit yang akhirnya penasaran hingga datang membeli produk yang dipromosikan.
Fenomena ini tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Dalam perspektif ilmu komunikasi, apa yang dilakukan Aldi Taher justru dapat dibaca sebagai bentuk strategi, meskipun bukan strategi konvensional. Ia tampaknya bermain dalam lanskap yang disebut sebagai attention economy, di mana perhatian menjadi komoditas utama yang diperebutkan.
Dalam teori komunikasi pemasaran klasik, terdapat model AIDA, Attention, Interest, Desire, dan Action. Tahapan ini menggambarkan proses bagaimana seseorang dari yang awalnya tidak tahu menjadi akhirnya melakukan tindakan, seperti membeli produk. Jika dianalisis lebih dalam, pola komunikasi Aldi Taher justru mengikuti model ini, meski dengan pendekatan ekstrem.
Pertama, ia berhasil mencuri perhatian (attention) melalui perilaku yang tidak biasa. Komentar yang repetitif dan terkesan “tidak nyambung” justru membuat orang berhenti sejenak dan memperhatikan. Kedua, perhatian itu berubah menjadi ketertarikan (interest), karena publik mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya sosok ini dan apa yang sedang ia lakukan? Ketiga, muncul rasa penasaran yang berkembang menjadi keinginan (desire), terutama karena fenomena ini terus dibicarakan. Terakhir, keinginan tersebut berujung pada tindakan (action), yaitu datang membeli produk yang dipromosikan.
Menariknya, keberhasilan ini juga tidak lepas dari prinsip repetisi dalam komunikasi. Dalam banyak penelitian, pengulangan pesan terbukti mampu meningkatkan daya ingat audiens terhadap suatu brand. Meskipun dalam konteks tradisional repetisi dilakukan secara terukur dan strategis, di era media sosial, repetisi yang berlebihan justru bisa menjadi ciri khas yang melekat. Dalam kasus Aldi Taher, pengulangan bukan hanya memperkuat pesan, tetapi juga membentuk identitas komunikasinya.
Namun, yang membuat fenomena ini semakin kuat adalah keterlibatan audiens. Di era digital, komunikasi tidak lagi bersifat satu arah. Publik tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga produsen yang ikut menyebarkan, memodifikasi, bahkan memparodikan pesan tersebut. Inilah yang disebut sebagai participatory culture. Ketika netizen mulai meniru gaya promosi Aldi Taher atau menjadikannya bahan candaan, mereka sebenarnya sedang memperluas jangkauan pesan secara organik.
Dengan kata lain, strategi ini tidak bergantung pada biaya iklan besar, melainkan pada partisipasi kolektif audiens. Viralitas yang terjadi bukan hasil dari distribusi terpusat, tetapi dari efek berantai yang melibatkan banyak individu. Inilah yang membuat strategi semacam ini sangat relevan di era algoritma media sosial.
Selain itu, aspek personal branding juga memainkan peran penting. Aldi Taher sejak lama dikenal sebagai figur publik dengan karakter yang tidak konvensional. cenderung absurd, spontan, dan sulit diprediksi. Dalam ilmu komunikasi, ini disebut sebagai distinctive persona, yaitu karakter yang cukup kuat sehingga mudah diingat dan dibedakan dari yang lain. Persona semacam ini memiliki keunggulan dalam menarik perhatian, terutama di tengah lautan konten yang homogen.
Namun demikian, pendekatan ini tidak lepas dari kritik. Dari sisi etika komunikasi, praktik seperti spam komentar dapat dianggap mengganggu dan menurunkan kualitas ruang digital. Jika terlalu banyak aktor yang meniru strategi ini, maka ekosistem komunikasi di media sosial bisa menjadi penuh dengan noise, sehingga pesan-pesan yang lebih substantif justru tenggelam.
Selain itu, terdapat pula risiko backlash. Publik digital memiliki ambang toleransi yang dinamis. Apa yang awalnya dianggap lucu bisa berubah menjadi menjengkelkan jika dilakukan secara berlebihan atau terlalu lama. Dalam jangka panjang, strategi yang terlalu bergantung pada sensasi berpotensi kehilangan efektivitasnya ketika audiens mulai jenuh.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah implikasi di dunia nyata. Viralitas digital sering kali berujung pada perilaku offline, seperti meningkatnya jumlah pengunjung secara tiba-tiba. Tanpa manajemen yang baik, hal ini bisa memicu masalah sosial, seperti kerumunan atau konflik dengan lingkungan sekitar. Artinya, keberhasilan komunikasi digital perlu diimbangi dengan kesiapan operasional di lapangan.
Lalu, apakah ini benar-benar strategi yang direncanakan, atau sekadar kebetulan yang viral? Dalam kajian komunikasi, keduanya tidak harus dipisahkan secara tegas. Sebuah tindakan bisa saja berawal dari eksperimen atau spontanitas, tetapi menjadi strategi ketika pola tersebut diulang dan terbukti efektif. Selama ada konsistensi dan hasil yang dapat diamati, maka tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai strategi komunikasi.
Dalam konteks ini, apa yang dilakukan Aldi Taher dapat dilihat sebagai bentuk adaptasi terhadap logika media sosial modern. Algoritma platform cenderung mengangkat konten yang memicu interaksi tinggi, terlepas dari apakah interaksi tersebut positif atau negatif. Dengan menciptakan konten yang memancing reaksi baik berupa tawa, keheranan, maupun kritik, ia berhasil “memainkan” mekanisme algoritma tersebut.
Kesimpulannya, fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara “strategi” dan “sensasi” semakin kabur di era digital. Apa yang terlihat tidak rasional di permukaan, bisa jadi merupakan bentuk rasionalitas baru yang menyesuaikan dengan ekosistem media saat ini. Aldi Taher bukan hanya sekadar viral karena keanehan, tetapi juga menjadi contoh bagaimana perhatian dapat dikapitalisasi menjadi nilai ekonomi.
Namun, penting untuk diingat bahwa strategi semacam ini tidak selalu dapat direplikasi dengan hasil yang sama. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga oleh konteks, timing, dan karakter individu yang membawanya. Tanpa persona yang kuat atau momentum yang tepat, pendekatan serupa justru bisa berakhir sebagai gangguan semata.
Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan satu hal penting dalam komunikasi modern: di tengah banjir informasi, yang paling menentukan bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cara menarik perhatian di detik pertama. Karena di era scroll tanpa henti, perhatian adalah segalanya dan siapa pun yang mampu menguasainya, memiliki peluang besar untuk menang.
