Idola Digital atau Berhala Baru? Fenomena Fanatisme di Media Sosial

Public Speaking & Communication Enthusiast Pamulang University Communication Science
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ridho Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepanjang sejarah, manusia menunjukkan kecenderungan yang konsisten, mencari sesuatu untuk diagungkan. Pada masa lalu, praktik ini tampak dalam bentuk penyembahan berhala, objek fisik yang diyakini memiliki kekuatan supranatural. Di era modern, fenomena tersebut mengalami transformasi menjadi pengidolaan figur publik melalui media sosial. Meskipun konteks dan bentuknya berbeda, terdapat pola psikologis dan sosial yang serupa di antara keduanya. Artikel ini membahas persamaan tersebut dari sudut pandang ilmiah sekaligus memberikan refleksi kritis terhadap fenomena kontemporer.
Dalam psikologi, manusia dikenal memiliki kebutuhan untuk mencari figur panutan. Teori social identity menjelaskan bahwa individu membentuk identitas dirinya melalui afiliasi dengan kelompok atau tokoh tertentu. Sementara itu, konsep parasocial interaction menggambarkan hubungan satu arah antara individu dengan figur publik, di mana seseorang merasa dekat secara emosional meskipun tidak memiliki interaksi nyata.
Pada masa penyembahan berhala, objek yang diagungkan berfungsi sebagai simbol kekuatan, perlindungan, atau harapan. Dalam konteks modern, figur publik seperti selebriti atau influencer mengisi peran serupa sebagai representasi kesuksesan, kecantikan, atau gaya hidup ideal.
Secara ilmiah, keduanya memenuhi kebutuhan manusia akan:
• Kepastian (sense of control),
• Ientitas diri,
• dan aspirasi hidup.
Persamaan Pola Perilaku
1. Pemusatan Perhatian dan Emosi
Baik dalam penyembahan berhala maupun pengidolaan modern, terdapat fokus perhatian yang intens terhadap objek tertentu. Hal ini sering kali disertai keterlibatan emosional yang tinggi.
2. Fanatisme dan Loyalitas
Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa keterikatan emosional yang kuat dapat memicu perilaku defensif. Pada masa lalu, hal ini terlihat dalam pembelaan terhadap kepercayaan. Saat ini, fenomena serupa tampak dalam perilaku “fanbase” yang membela idolanya secara agresif di ruang digital.
3. Imitasi Perilaku (Modeling)
Teori social learning dari Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi dan peniruan. Dulu, ini tercermin dalam ritual keagamaan. Kini, terlihat dalam peniruan gaya hidup, bahasa, hingga nilai-nilai yang ditampilkan figur publik.
4. Ilusi Kesempurnaan
Baik berhala maupun figur digital sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang “lebih tinggi” atau ideal. Dalam media sosial, hal ini diperkuat oleh kurasi konten, sehingga menciptakan realitas yang tidak sepenuhnya autentik.
Perbedaan Kontekstual
Meskipun terdapat kemiripan, penting untuk menekankan perbedaannya:
• Penyembahan berhala bersifat religius dan sakral, sedangkan pengidolaan modern lebih bersifat kultural dan hiburan.
• Dalam banyak kasus, masyarakat modern memiliki kesadaran bahwa figur yang mereka idolakan adalah manusia biasa.
• Interaksi di era digital bersifat lebih dinamis dan dua arah, meskipun sering kali tetap ilusif.
Perkembangan teknologi, khususnya media sosial, mempercepat dan memperluas fenomena pengidolaan. Algoritma platform digital dirancang untuk memperkuat keterlibatan pengguna, sehingga konten dari figur populer terus muncul secara berulang. Hal ini menciptakan efek echo chamber, di mana pengguna semakin terpapar pada sosok yang sama, memperkuat keterikatan emosional.
Dari perspektif sosiologi, fenomena ini juga berkaitan dengan budaya konsumerisme. Figur publik tidak hanya menjadi objek kekaguman, tetapi juga alat pemasaran yang memengaruhi preferensi dan perilaku konsumsi masyarakat.
Menurut penulis, pengidolaan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Dalam batas wajar, memiliki figur panutan dapat memotivasi individu untuk berkembang. Namun, masalah muncul ketika kekaguman berubah menjadi ketergantungan emosional atau kehilangan objektivitas.
Fenomena ini menjadi berbahaya ketika:
• Individu mengukur nilai dirinya berdasarkan standar yang tidak realistis,
• Terjadi pembelaan buta terhadap figur tertentu,
• Atau ketika kehidupan pribadi terganggu oleh keterikatan yang berlebihan.
Dalam perspektif komunikasi media, fenomena pengagungan, baik terhadap berhala di masa lalu maupun idola di media sosial saat ini, dapat dipahami sebagai hasil dari bagaimana pesan dibentuk, disampaikan, dan diterima oleh khalayak. Media bukan sekadar saluran, tetapi juga aktor yang membentuk realitas sosial. Teori konstruksi sosial menyatakan bahwa realitas tidak sepenuhnya objektif, melainkan dibentuk melalui proses komunikasi. Pada masa lalu, narasi tentang berhala dibangun melalui tradisi lisan, mitos, dan otoritas kelompok. Saat ini, media digital berperan sebagai “pabrik realitas” yang membentuk citra idola.
Platform seperti Instagram dan TikTok memungkinkan penciptaan citra yang sangat terkurasi. Dengan teknik visual, storytelling, dan editing, figur publik dapat ditampilkan seolah-olah sempurna. Akibatnya, audiens mengonsumsi realitas yang telah “dikonstruksi”, bukan realitas apa adanya. Menurut pandangan ini, media bukan sekadar memfasilitasi pengidolaan, tetapi secara aktif merancangnya. Algoritma dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan, bukan keseimbangan psikologis pengguna. Akibatnya, pengguna didorong untuk terus terhubung secara emosional dengan figur tertentu.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa audiens bukanlah pihak pasif. Mereka tetap memiliki kemampuan untuk memilih, menyaring, dan menginterpretasikan pesan. Oleh karena itu, tanggung jawab tidak hanya berada pada media, tetapi juga pada literasi kritis pengguna.
Dalam konteks ini, yang perlu ditekankan bukanlah menghilangkan kecenderungan mengagumi, melainkan mengelolanya secara sadar dan proporsional.
Transformasi dari penyembahan berhala ke pengidolaan digital menunjukkan bahwa pola dasar manusia tidak banyak berubah, yang berubah hanyalah medianya. Secara ilmiah, fenomena ini berakar pada kebutuhan psikologis akan identitas, makna, dan figur ideal. Namun, di era modern, teknologi memperkuat dan mempercepat proses tersebut secara signifikan.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengembangkan literasi digital dan kesadaran diri, agar mampu membedakan antara kekaguman yang sehat dan pengagungan yang berlebihan. Pada akhirnya, kemampuan untuk tetap kritis dan seimbang menjadi kunci dalam menghadapi fenomena ini.
