Saat Podcast Menantang Jurnalisme: Siapa Kini Lebih Dipercaya?

Public Speaking & Communication Enthusiast Pamulang University Communication Science
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ridho Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, kita sedang menyaksikan pergeseran besar dalam lanskap komunikasi, otoritas informasi tidak lagi sepenuhnya berada di tangan media arus utama, tetapi mulai berpindah ke ruang-ruang alternatif seperti podcast. Platform seperti YouTube melahirkan fenomena baru di mana podcaster, selebritas, bahkan kreator independen menjadi “penyampai kebenaran” bagi publik. Pertanyaannya, apakah ini kemajuan demokratisasi komunikasi, atau justru krisis baru dalam ekosistem informasi?
Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari konsep media credibility atau kredibilitas media. Kredibilitas bukan hanya soal benar atau salahnya informasi, tetapi tentang bagaimana publik mempercayai sumber informasi tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap media sangat dipengaruhi oleh persepsi objektivitas, keadilan, dan independensi sumber informasi . Ketika media arus utama dianggap tidak lagi memenuhi standar tersebut, maka audiens akan mencari alternatif.
Di sinilah podcast muncul sebagai “penantang baru” jurnalisme.
Ketika Podcast Menjadi Otoritas Baru
Podcast bukan lagi sekadar media hiburan. Ia telah berkembang menjadi medium komunikasi yang kuat, bahkan dalam beberapa kasus lebih dipercaya dibanding media konvensional. Studi terbaru menunjukkan bahwa podcast memiliki tingkat kredibilitas yang cukup tinggi karena menghadirkan narasi yang lebih transparan, mendalam, dan personal .
Hal ini diperkuat oleh penelitian lain yang menemukan bahwa audiens podcast cenderung lebih engaged, memiliki kedekatan emosional dengan host, dan bahkan menganggap informasi yang disampaikan lebih dapat dipercaya dibanding media besar. Salah satu responden dalam studi tersebut bahkan menyatakan, “Saya lebih percaya pada podcast dibanding korporasi media besar.”
Fenomena ini juga melahirkan istilah baru dalam studi media “newsfluencer”, yaitu individu non-jurnalis seperti podcaster atau kreator konten yang berperan sebagai penyampai berita. Dalam laporan Reuters Institute, audiens kini menganggap YouTuber, podcaster, dan influencer sebagai bagian dari “jurnalis baru” .
Dari sudut pandang teori komunikasi, ini menunjukkan pergeseran dari institusional trust ke personal trust. Jika dulu kepercayaan diberikan pada institusi media, kini kepercayaan diberikan pada individu.
Alasan lain, karena podcast begitu digemari adalah karena efek kedekatan. Ketika mendengar seseorang berbicara selama satu jam penuh, audiens merasa seperti sedang ngobrol langsung.
Fenomena ini dikenal sebagai parasocial interaction, hubungan semu antara audiens dan pembicara yang terasa personal. Akibatnya, apa yang disampaikan host sering dianggap lebih autentik, bahkan tanpa disadari langsung dipercaya.
Mengapa Jurnalisme Kehilangan Kepercayaan?
Krisis kepercayaan terhadap media bukan terjadi tanpa sebab. Dalam kerangka teori ekonomi politik media, seperti yang dijelaskan oleh para ahli komunikasi kritis, kepemilikan media yang terpusat pada segelintir elite seringkali menghasilkan bias dalam pemberitaan.
Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa legitimasi jurnalisme sebagai “penyampai kebenaran” mulai dipertanyakan di era digital . Hal ini diperparah oleh:
• Polarisasi politik
• Kepentingan pemilik media
• Sensasionalisme demi klik dan rating
• Kurangnya transparansi proses jurnalistik
Akibatnya, public terutama generasi muda mulai meragukan netralitas media arus utama.
Sebaliknya, podcast menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki media tradisional, intimasi dan autentisitas. Dalam teori yang dikembangkan oleh peneliti media seperti Dowling, podcast memiliki karakter unik berupa kedekatan emosional dan refleksivitas yang membuat audiens merasa “lebih dekat dengan kebenaran”
Meski sedang kehilangan kepercayaan, jurnalisme sebenarnya masih punya peran penting. Proses verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab publik adalah hal yang tidak dimiliki semua konten kreator.
Masalahnya, banyak media gagal beradaptasi. Gaya komunikasi yang terlalu formal, kurang transparan, dan terkesan “berjarak” membuat generasi muda tidak merasa terhubung.
Sebaliknya, podcast hadir dengan pendekatan yang lebih santai dan relatable. Menariknya, beberapa media mulai menggabungkan keduanya, menghadirkan jurnalisme dalam format podcast. Ini menunjukkan bahwa masa depan bukan soal memilih salah satu, tapi bagaimana keduanya bisa berkolaborasi.
Demokratisasi atau Ilusi Kebenaran?
Di satu sisi, kebangkitan podcast bisa dilihat sebagai bentuk demokratisasi komunikasi. Siapa pun kini bisa berbicara, menyampaikan opini, dan menjangkau audiens global tanpa harus melalui institusi media. Ini sejalan dengan gagasan public sphere dari Jürgen Habermas, di mana ruang diskursus publik terbuka bagi semua warga.
Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menyimpan bahaya serius.
Tidak seperti jurnalisme profesional yang terikat pada kode etik, verifikasi fakta, dan standar editorial, podcast independen seringkali tidak memiliki mekanisme kontrol yang jelas. Hal ini membuka peluang besar bagi:
• Misinformasi
• Disinformasi
• Bias personal yang tidak terdeteksi
• Polarisasi opini
Bahkan, penelitian tentang podcast politik menunjukkan adanya kecenderungan munculnya konten toksik dan emosional dalam diskursus podcast .
Lebih jauh lagi, batas antara fakta dan opini menjadi semakin kabur. Sebuah laporan menunjukkan bahwa podcast sering kali “mengaburkan garis antara jurnalisme dan komentar” . Dalam konteks ini, publik berisiko menganggap opini personal sebagai kebenaran objektif.
Dalam situasi ini, literasi media menjadi sangat penting. Dan Gillmor, seorang pakar media, menekankan bahwa di era digital, audiens harus menjadi mediactive, yakni pengguna media yang aktif, kritis, dan skeptis terhadap informasi .
Literasi media bukan hanya soal kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kemampuan untuk:
• Memverifikasi sumber
• Membedakan fakta dan opini
• Memahami bias media
• Mengkritisi narasi yang disajikan
Tanpa literasi media yang kuat, publik akan mudah terjebak dalam apa yang disebut sebagai echo chamber, di mana mereka hanya mengonsumsi informasi yang memperkuat keyakinan mereka sendiri.
Menariknya, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jurnalisme tidak sepenuhnya kalah dari podcast, tetapi justru mulai beradaptasi. Banyak organisasi media kini memanfaatkan podcast sebagai format baru untuk menyampaikan berita secara lebih mendalam dan menarik. Bahkan, podcast dianggap mampu membantu memulihkan kepercayaan publik terhadap jurnalisme melalui pendekatan yang lebih humanis dan transparan .
Ini menunjukkan bahwa masa depan komunikasi bukanlah pertarungan antara podcast dan jurnalisme, melainkan konvergensi keduanya. Namun, tantangan utamanya tetap sama: bagaimana menjaga kredibilitas di tengah arus informasi yang semakin cepat dan tidak terkontrol.
Siapa yang Harus Kita Percaya?
Fenomena podcast vs jurnalisme bukan sekadar soal platform, tetapi soal krisis kepercayaan dan perubahan otoritas informasi. Kita sedang hidup di era di mana kebenaran tidak lagi ditentukan oleh institusi, tetapi oleh persepsi audiens. Podcast menawarkan kebebasan dan kedekatan, tetapi juga membawa risiko bias dan misinformasi. Jurnalisme menawarkan struktur dan verifikasi, tetapi seringkali kehilangan kepercayaan publik.
Di tengah dilema ini, satu hal menjadi jelas, masa depan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh media, tetapi oleh seberapa kritis audiens dalam menyaring informasi.
Pertanyaannya bukan lagi “media mana yang benar”, tetapi, apakah kita sebagai audiens sudah cukup cerdas untuk membedakan mana yang layak dipercaya?
