Konten dari Pengguna

Pentingnya Pendidikan Seks pada Anak Sejak Dini

Dyah Ayu Sekar Negari

Dyah Ayu Sekar Negari

Student at BINUS University, Mass Communication Department.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dyah Ayu Sekar Negari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keluarga. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga. Foto: Shutter Stock

Pendidikan seks atau yang lebih kita kenal dengan “Sex Education” harus diajarkan mulai dari prasekolah maupun remaja awal, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal.

Hal ini tergolong penting agar mereka dapat menghindari kegiatan yang bisa membahayakan diri dan menyadari pentingnya memahami isu-isu yang berkaitan dengan seksualitas pada remaja.

Lalu, hal lainnya yang harus diperhatikan dalam isu ini adalah agar anak tidak terkejut saat memasuki usia pubertas dengan menyadarkan mereka tentang organ reproduksi, mencegah anak melakukan aktivitas seksual yang tidak benar, dan menghindari kehamilan usia dini.

Namun sayangnya, masih banyak orang tua menganggap edukasi seks merupakan suatu hal yang tabu. Di Indonesia, pendidikan seks semacam ini dinilai dengan kata-kata “mengajari anak bersenggama”.

Ketika orang berbicara tentang seks, orang-orang di sekitar mereka langsung berpikir porno dan “saru”, meskipun itu bukan tentang pornografi melainkan semacam kontrasepsi. Bersamaan dengan alasan pertama, hal itu membuat masyarakat Indonesia semakin awam soal seks.

Faktanya, edukasi seks sangat penting untuk semua orang terutama anak-anak tanpa harus menunggu masa puber mereka. Pendidikan seks dini penting untuk melindungi anak-anak dan remaja dari berbagai bentuk kekerasan seksual yang semakin marak terjadi di era globalisasi ini.

Ilustrasi guru. Foto: Thinkstock

Sebuah riset tentang Kesehatan Reproduksi dan Seksual menunjukkan bahwa 84% remaja berusia 12 hingga 17 tahun di 5 kota besar di Indonesia belum mendapatkan pendidikan seks.

Pendidikan seks adalah keterampilan dan pengetahuan yang harus ditanamkan pada anak tentang perilaku seksual sedini mungkin. Sehingga, mereka dapat menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan ketika mereka dewasa dan membentuk karakter, serta perilaku mereka sedemikian rupa yang lalu memungkinkan mereka untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Seorang ahli psikoanalisis, Sigmund Freud menyatakan bahwa terdapat 5 fase perkembangan seks, yaitu;

1. Fase Oral (0-2 tahun). Pada fase ini, pemenuhan kenikmatan seksual awal anak terjadi di dalam mulut. Misalnya, seperti saat ibu menyusui atau saat benda-benda masuk ke dalam mulut.

2. Fase Anal (2-3 tahun). Fase ini terjadi saat persepsi anak terhadap kenikmatan seksual terjadi di dalam dan sekitar anus. Misalnya, saat anak buang air besar atau buang air kecil.

3. Fase Phalik (3-6 tahun). Fase ini menjelaskan bahwa anak mengalami kenikmatan seksual, ketika alat kelaminnya mengalami kontak atau sentuhan. Dan pada tahap ini, anak mulai mengenal perbedaan lawan jenis.

4. Fase Laten (6-11 tahun). Pada fase ini, aktivitas seksual yang dialami anak sudah mulai berkurang karena anak fokus pada perkembangan fisik dan kognitifnya saat memasuki masa transisi sekolah.

5. Fase Genital (12 tahun ke atas). Tahapan perkembangan seksual ini saling terkait dan tidak berdiri sendiri. Perkembangan manusia selalu terkait dengan perkembangan aspek biologis, sosial, dan emosional. Aspek-aspek tersebut mendukung perkembangan kematangan seksual pada anak yang memasuki usia remaja.

Permasalahan pada pendidikan seks anak usia dini adalah informasi dan pengajaran yang hanya sebatas pemberitahuan tentang perbedaan toilet pria dan wanita. Selain itu, orang tua dan guru merasa kesulitan dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anak karena dianggap tabu, dan kurangnya informasi atau media dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anak.

Ilustrasi edukasi seks. Foto: Getty Images

Pendidikan seks memastikan laki-laki dan perempuan memahami konsekuensi dan risiko yang akan mereka hadapi ketika mereka berhubungan dan mengarahkan penyaluran hasrat seksual ke hal-hal yang lebih positif. Sebagai layer of security, pendidikan seks biasanya juga mengajarkan cara aman sebagai pencegahan, dengan mengenalkan alat kontrasepsi agar tidak terjadi kehamilan di usia dini.

Pendidikan seks juga mengenalkan berbagai penyakit yang muncul saat berhubungan seks dengan banyak pasangan, seperti HIV/AIDS, sifilis, gonore, dll. Pada dasarnya, remaja akan tahu persis apa yang harus dilakukan dengan alat kelaminnya, apa yang dapat dilakukannya dengan organ tersebut, dan mengetahui berbagai risiko yang terlibat dalam hubungan seks bebas/di luar nikah.

Sikap orang tua adalah menjadikan anak sebagai sahabat agar mereka dapat terbuka dengan masalah-masalah yang dimilikinya dan saat mereka menanyai tentang seksualitas pada diri mereka, orang tua yang seharusnya mengerti tentang perkembangan anak tersebut.