Konten dari Pengguna

Air dan Energi: Keterkaitan Kritis di Dunia yang Kekurangan Sumber Daya

Sekarsari Sugihartono

Sekarsari Sugihartono

PR & Media. Independent Analyst.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sekarsari Sugihartono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat dunia berlomba menuju masa depan energi yang lebih bersih, satu sumber daya diam-diam muncul sebagai masukan vital sekaligus kendala yang semakin besar: air. Hubungan antara air dan energi jauh lebih saling terkait daripada yang disadari kebanyakan orang, dan seiring meningkatnya permintaan global untuk keduanya, memahami dan mengelola hubungan ini telah menjadi prioritas mendesak.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai contoh bahwa air memegang peranan penting sebagai sumber energi. Sumber: Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai contoh bahwa air memegang peranan penting sebagai sumber energi. Sumber: Shutterstock.

Setiap kali kita menghasilkan listrik atau menyediakan air bersih ke keran kita, kita memanfaatkan salah satu hubungan terpenting dan paling kurang dipahami di dunia, keterkaitan air-energi. Memproduksi listrik membutuhkan sejumlah besar air, sementara membersihkan dan mendistribusikan air sangat bergantung pada energi. Lingkaran umpan balik ini sangat dalam: menurut Badan Energi Internasional, produksi energi menyumbang sekitar 10% dari penarikan air tawar global, sementara sektor air itu sendiri mengkonsumsi hingga 4% dari listrik global.

Air bukan lagi sekadar utilitas, air semakin menjadi sumber daya energi strategis. Perusahaan energi mempercepat upaya untuk mengolah dan menggunakan kembali air limbah yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari operasi minyak dan gas, sementara perusahaan seperti ExxonMobil dan Chevron berinvestasi dalam mengekstraksi litium dari air hasil produksi, mengubah apa yang dulunya dianggap sebagai limbah menjadi komoditas berharga.

Namun, ketergantungan yang semakin besar pada air untuk energi ini terjadi pada saat yang genting. Permintaan air global diproyeksikan meningkat sebesar 20 hingga 30% pada tahun 2050, didorong oleh peningkatan populasi, urbanisasi yang cepat, dan pertumbuhan ekonomi. Di banyak wilayah, kelangkaan air akibat perubahan iklim dapat menyebabkan konsekuensi ekonomi yang menghancurkan. Di India saja, kerugian dapat melebihi $2,5 triliun pada tahun 2050 jika penggunaan air dalam irigasi dan energi tidak ditingkatkan.

Masa depan membutuhkan solusi yang lebih cerdas dan terintegrasi. Pergeseran ambisius menuju energi terbarukan dan teknologi pendinginan yang lebih baik dapat mengurangi intensitas pengambilan air di sektor tenaga listrik hingga 84% pada tahun 2030, seperti yang ditunjukkan oleh analisis di India dan Cina. Di bidang inovasi, Singapura telah mempelopori model holistik yang menggabungkan desalinasi bertenaga surya dan teknologi jaringan air pintar, mencapai pengurangan konsumsi energi hingga 20% sekaligus memenuhi 40% kebutuhan air nasional melalui air daur ulang.

Pada akhirnya, pendekatan sistematis diperlukan untuk memastikan bahwa transisi ke ekonomi rendah karbon tidak memperburuk tantangan air, khususnya di wilayah yang kekurangan air di mana persaingan sumber daya sudah tinggi. Para pembuat kebijakan, industri, dan masyarakat harus memperlakukan air bukan sebagai hal yang dipikirkan belakangan, tetapi sebagai pilar fundamental perencanaan energi berkelanjutan karena di era globalisasi, tidak ada sumber daya yang dapat berdiri sendiri.