Konten dari Pengguna

Analisis Film "Wicked: For Good" sebagai Alegori Politik Pemerintahan Modern

Sekarsari Sugihartono

Sekarsari Sugihartono

PR & Media. Independent Analyst.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sekarsari Sugihartono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film "Wicked: For Good," yang awalnya dikenal sebagai adaptasi cerita anak-anak klasik dan sekarang ditayangkan versi film musikalnya, kini dapat ditafsirkan dengan cara yang lebih kompleks, menggambarkan dinamika kekuasaan dan manipulasi dalam pemerintahan modern. Melalui karakter-karakter sentralnya, Glinda dan Elphaba, film ini menyajikan kritik tajam terhadap bagaimana kekuatan bisa disalahgunakan dan kebenaran dapat dikesampingkan.

Film Musikal Fantasi "Wicked" yang menggambarkan dinamika kekuasaan dan manipulasi dalam pemerintahan modern. Sumber: Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Film Musikal Fantasi "Wicked" yang menggambarkan dinamika kekuasaan dan manipulasi dalam pemerintahan modern. Sumber: Shutterstock.

Glinda: Boneka Pemerintahan

Glinda, karakter yang sering dilihat sebagai penyihir baik hati, dalam konteks baru ini dapat dilihat sebagai perwujudan dari "boneka" dalam struktur pemerintahan. Sebagai tokoh yang populer dan disukai publik, Glinda dimanfaatkan oleh otoritas untuk memanipulasi opini publik dan menutupi kelemahan serta korupsi yang terjadi di belakang layar. Glinda menjalankan perannya dengan memproyeksikan citra kebaikan dan keadilan, padahal kenyataannya ia digunakan untuk membelokkan fokus masyarakat dari isu-isu penting dan mendesak yang tidak ingin diungkap oleh penguasa.

Sebagai boneka pemerintahan, Glinda berfungsi sebagai alat untuk memuluskan agenda-agenda tersembunyi, memastikan bahwa kebijakan-kebijakan koruptif tetap berjalan tanpa gangguan berarti dari masyarakat. Hal ini mencerminkan bagaimana pemerintah modern kadang memanfaatkan figur publik yang karismatik untuk membangun narasi yang menguntungkan, sementara di belakang layar mereka mungkin melakukan penyimpangan dan tindakan tidak etis.

Karakter "Glinda" sebagai Protagonis yang menggambarkan perwujudan dari "boneka" dalam struktur pemerintahan. Sumber: shutterstock.

Elphaba: Kambing Hitam

Sementara itu, Elphaba, yang sering dibayangkan sebagai penyihir jahat, diinterpretasikan sebagai sosok yang dijadikan kambing hitam oleh kekuasaan. Meskipun sebenarnya ia berjuang untuk melakukan kebaikan dan kebenaran, narasi yang dibangun oleh pemerintahan dan disebarluaskan oleh media sosial menjadikannya sasaran empuk untuk disalahkan atas segala masalah yang terjadi dalam masyarakat.

Elphaba dijadikan simbol dari bagaimana pemerintah dapat dengan mudah mengubah pandangan publik terhadap individu atau kelompok tertentu melalui penyebaran informasi yang salah. Karakter ini menggambarkan bagaimana yang benar dapat dengan cepat dibelokkan menjadi salah di mata publik dengan propaganda yang sistematis dan tersebar, terutama di era media sosial yang memfasilitasi penyebaran berita palsu dan gimmick secara masif.

Manipulasi Kebaikan sebagai Keburukan

Film ini pada intinya menunjukkan betapa mudahnya kebaikan dimanipulasi menjadi keburukan di mata masyarakat ketika dikendalikan oleh kekuatan yang berkuasa. Dalam konteks pemerintahan, hal ini berkaitan dengan bagaimana kebijakan yang tampaknya dirancang untuk kebaikan umum ternyata dikendalikan oleh motif tersembunyi yang merugikan.

Pengaruh Media Sosial

Media sosial dalam skenario ini berperan sebagai pedang bermata dua, menjadi alat bagi pemerintah untuk menyebarkan propaganda yang menyesatkan. Fakta dapat dengan mudah dipelintir dan disampaikan kepada masyarakat luas sebagai kebenaran, menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi dalam mengelola informasi di era digital. Berita palsu dan dramatisasi menjadi bagian dari strategi untuk menjaga kontrol atas narasi publik, sekaligus melemahkan perlawanan dari pihak-pihak yang mengancam status quo, seperti yang dialami oleh karakter Elphaba.

Film "Wicked: For Good" memberikan refleksi yang kuat mengenai dinamika kekuasaan dan manipulasi media dalam pemerintahan modern. Dengan narasi cerdas dan penggambaran karakter yang kuat, film ini mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan terhadap kebenaran dan kebaikan yang sering kali diselimuti oleh selubung manipulasi dan propaganda dalam sistem sosial dan politik hari ini.