News
·
9 Juli 2021 18:54
·
waktu baca 2 menit

Cegah Karhutla, 4,8 Ton Garam Ditabur di Langit Riau

Konten ini diproduksi oleh Selasar Riau
Cegah Karhutla, 4,8 Ton Garam Ditabur di Langit Riau (63344)
searchPerbesar
BERKARUNG-KARUNG garam atau NaCL dimasukkan ke dalam pesawat Cassa untuk disemai atau ditabur di langit berpotensi mengandung butiran hujan.
SELASAR RIAU, PEKANBARU - Memasuki musim kemarau di bulan Juli 2021 ini, sudah 4,8 ton NaCl (garam) disemai pada langit tiga kabupaten dan kota di Riau.
ADVERTISEMENT
Penyemaian ini dilakukan guna mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Garam 4,8 ton tersebut disemai di langit Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis serta Rokan Hilir (Rohil).
“Sudah 4,8 ton garam disemai, di wilayah Dumai, Bengkalis dan Rokan Hilir,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerag (BPBD) Riau, Jim Gafur, Jumat (9/7/2021).
Jim menyebut, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sudah dilaksanakan sejak Sabtu (3/7/2021) hingga (8/7/2021).
“Sudah dilakukan sejak 3 Juli hingga 8 Juli 2021,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan TMC di wilayah Riau menggunakan pesawat Cassa A-2103 dan dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologoi (BPPT). “Untuk penyemaian garam ini kita gunakan pesawat Cassa A-2103,” tuturnya.
Diharapkan dengan kegiatan TMC ini dapat mengoptimalkan potensi curah hujan sehingga dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Riau.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, BPPT dalam rilisnya menjelaskan, garam yang disemai dibagi dalam 4 sorti di langit Riau untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Koordinator Lapangan BBTMC-BPPT Posko TMC Pekanbaru, Tukiyat, menilai TMC menjadi satu dari berbagai solusi pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
"Penyemaian ditargetkan di Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Siak, Bengkalis, Pelalawan dan Kota Dumai sekitarnya," ujar Tukiyat.
Kepala BPPT Hammam Riza, mengklaim TMC di hari ke-4 di Riau menghasilkan volume air hujan ignifikan. Hujan terjadi mampu mempertahankan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) lahan gambut, dan meredam munculnya titik panas atau hotspot.
"Dapat dipantau dari jumlah hotspot nol dengan tingkat kepercayaan >80 persen selama kegiatan TMC berlangsung," katanya.
Kepala BBTMC-BPPT, Jon Arifian, mengatakan pada kondisi curah hujan rendah, potensi kemunculan titik panas mudah terjadi dan memicu karhutla secara masif. Sehingga upaya penerapan TMC diharapkan mampu mengurangi potensi tersebut.
ADVERTISEMENT
"Bulan Juni mulai memasuki masa transisi dan kemarau berikutnya dimulai pada bulan Juni hingga September dan peralihan bulan Oktober hingga Desember memasuki musim hujan periode kedua," ujar Jon.
Laporan: RAMADHI DWI PUTRA
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020