Foto: Perayaan Cue Lak, Hari Lahirnya Para Dewa oleh Suku Asli di Riau

SELASAR RIAU, BENGKALIS - Bagi warga Tionghoa, hari keenam dari Tahun Baru Imlek 2570 merupakan hari ditunggu-tunggu. Ribuan warga Tionghoa tumpah-ruah di jalanan Kota Bengkalis, Provinsi Riau.
Mereka memadati beberapa ruas jalan protokol di Kota Terubuk itu guna mengikuti arak-arakan dikenal dengan nama Cue Lak. Tradisi Cue Lak dirayakan setiap tahun ini merupakan peringatan hari ulang tahun atau kelahiran para dewa dan dewi.
Dengan pawai keliling dimulai dari Vihara Hok Ann Kiong menuju Jalan Ahmad Yani kemudian belok kiri menuju Jalan HangTuah hingga perempatan Hang Tuah-Pattimura, selanjutnya kembali ke Vihara jalan Yos Sudarso.
Ketua Pimpinan Bathin Suku Asli, Kabupaten Bengkalis, Hendi Cong Meng, Minggu, 10 Februari 2019, mengatakan, dalam perayaan Cue Lak seluruh suku asli turut andil dan tampil pada arak-arakan ini.
Bukan hanyna di Bengkalis, dari luar Pulau Bengkalis hadir mengikuti perayaan Cuer lak ini.
"Tradisi Cue Lak ini dimaknai sebagai kelahiran Dewa-Dewi. Di antaranya, ulang tahun Dewa Sesekong, Kuan in, ada Dewa Kera ada juga Dewa Kuan Te. Tetapi dibesarkan itu namanya Dewa Sesekong. Dewa-dewa itulah akan menghilangkan masalah buruk agar kedamaian diberikan di Bengkalis ini," kata Cong Meng, usai arak-arakan.
Ia menjelaskan, tadisi Cue lak merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang hingga kini masih tetap dilakukan warga Tionghoa.
"Seingat saya, tradisi Cue lak ini sekitar dimulai sejak tahun 1911. Seingat saya di Bengkalis ini saya ikut pawai itu sejak umur 7 tahun. Dulunya, saya berjalan kaki dari Kembung Luar dengan berjalan selama dua hari baru sampai ke Bengkalis," ungkapnya.
Cerita Cong Meng terkait Cue Lak, sebelum pawai dimulai terlebih dahulu dilakukan ritual di Vihara Hok Ann Kiong, disertai dentuman genderang dan alat musik lainnya dimainkan sejumlah warga Tioghoa.
Satu per satu peserta dirasuki roh dewa dan ritual dimulai dengan cara menusuk mulut dengan besi dari berbagai ukuran, dan ada juga yang memukulkan pedang ke badan mereka.
"Orang melakukan itu memiliki ilmu diberi Tuhan. Artinya, mereka melakukan ritual itu bukan sembarangan. Itu memang dicucuk, tidak main-main. Saat pertama dicocok (dicucuk) orang itu ngak sadar setelah masuk baru mereka sadar. Di antaranya juga ada parang panjang, lidah dibelah, cocok besi itu semua itu dilakukan oleh orang yang diberi kelebihan oleh Tuhan," papar Cong Meng.
Peserta pawai Cue Lak, lanjut pria kerap disapa Suhu ini mengatakan, pawai atau arak-arakan dibawah menuju Kota Bengkalis. Selain itu, pawai juga diiringi bunyi petasan dipasang peserta sepanjang jalan. Bunyi petasan saling bersambut itu menjadi semakin meriah perayaan Cue lak tahun ini.
"Kalau peserta pawai membawa sejumlah bendera itu dari peserta dirasuki roh dewa. Mereka sambil berjalan diiringi dentuman genderang. Dalam pawai itu ada juga peserta membawa tandu disebut Kiu dan didalam tandu itu sudah ada dewa-dewanya," ungkap Suhu.
Pantauan SELASAR RIAU, saat arak-arakan melintasi Jalan Sudirman, tepatnya di depan Hotel Wisata, dilakukan ritual sembahyang dipimpin seorang pimpinan dewa.
Selain ritual, juga dilakukan permainan Kiu (rumah dewa). Sekitar enam unit Kiu (rumah dewa) dimainkan empat orang bahkan lebih dengan cara menggoyangkan ke kiri dan kekanan.
Setelah ritual selesai dilakukan di Jalan Sudirman, peserta pawai kembali menuju Vihara Vihara Hok Ann Kiong. Pawai Cue Lak ini selain jadi perayaan bagi warga Tionghoa juga menjadi perhatian bagi masyarakat setempat yang menyaksikan ritual itu.
