Jernang: Penjaga Hutan TNBT dengan Harga Lebih Tinggi dari Sawit
·waktu baca 6 menit

SELASAR RIAU, PEKANBARU - Perlahan-lahan kebiasaan menebang pohon di kawasan Taman Nasional Bukit Betabuh (TNBT) oleh warga Desa Air Buluh, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), mulai berubah.
Selama ini, warga sangat bergantung kehidupan ekonominya dengan aktivitas penebangan liar (illegal logging) di kawasan TNBT. Pohon-pohon diameter di atas 50 sentimeter menjadi sasaran empuk untuk ditebang dan diolah, kemudian dijual secara bebas ke penadah.
Namun, ketergantungan hidup dengan menebang pohon-pohon alam di kawasan hutan taman nasional kini sudah mulai berubah. Warga setempat justru menjaga hutan mereka dari penebangan.
Alasannya sederhana, ditegakan pohon yang tinggi-tinggi hidup sejenis rotan warga Desa Air Buluh mengenalnya dengan nama jernang.
"Sejak 2016, kami menanam jernang di atas lahan seluas 50 Hektare. Lahan kelompok kami yang pertama ditanami jernang di desa ini," ungkap Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bukik Ijau, Hendriyanto, Senin (12/7/2021).
Ia menjelaskan, sejak jernang ditanam oleh kelompok tani hutan, warga selalu menjaga pertumbuhannya dengan mendatangi hutan di TNBT.
Dampaknya, penebang liar atau illegal logger terusik dengan aktivitas petani yang datang ke kawasan hutan dimana mereka menebang pohon.
Hendriyanto menyebutkan, lahan yang ditanami jernang selain dimaksudkan menjaga alam dari degradasi hutan, juga memberi efek positif dari sisi ekonomi kepada masyarakat.
"Dengan menanam pohon jernang (di dalam hutan) kita sekalian menjaga rimba (hutan) tetap lestari. Kami masyarakat juga terbantu disi ekonomi kami,” ungkap Hendriyanto.
Ia menjelaskan, tujuan budidaya jernang ini bermula dari melihat deforestasi disebabkan para pembalak liar yang menebang pohon serta merambah hutan.
Saat itulah, pohon jernang yang tumbuh di sekitar area penebangan, tertimpa dan tidak dapat menghasilkan buah.
Dari sanalah, tutur Hendriyanto, warga melihat hutan tempat mereka mencari nafkah semakin rusak. Timbul pikiran bagaimana bisa mencari rezeki sembari menjaga hutan.
Berangkat dari keresahan tersebut serta didampingi duo Melki Rumania dan Widya dari Yayasan Hutan Riau, masyarakat mulai memikirkan, bagaimana menjaga hutan, namun warga sekitar hutan tetap hidup dengan nilai keekonomian.
Melki menceritakan, sejak 2016, setiap tahunnya petani tergabung dalam 29 kelompok tani sudah menghijaukan kembali dan mencegah deforestasi kawasan TNBT seluas 8.700 Ha.
Pada 2017, tanaman jernang secara khusus ditanam pada 25 Ha kawasan hutan lindung terdegradasi.
Jumlah penanaman khusus jernang kemudian meningkat setahun kemudian, 2018 seluas 30 Ha. Tahun 2019, jelasnya, setelah mendengarkan permintaan warga, tak lagi jernang ditanam secara khusus.
"Warga kemudian meminta jangan lagi menanam jernang secara khusus. Kasihlah kami bibit petai, jengkol, gaharu, coklat, kopi serta tanaman-tanaman umur pendek dan panjang yang menghasilkan, ekonomi," jelas Melki.
Hasilnya, perambah hutan dari warga setempat turun drastis. Justru penebang liar dari provinsi tetangga, Sumatera Barat, dan daerah tetangga, mulai berdatangan untuk menebang pohon di kawasan TNBT secara ilegal.
Semenjak tahu jernang, tutur Melki, warga dan petani mulai mempertahankan kebun. Mereka tak lagi memprioritaskan sawit semata, melainkan juga karet yang tumbuh berdampingan.
Melki menceritakan, dibalik penanaman tanaman jernang, selain menjaga hutan dan kawasan dari deforestasi, juga mendatangkan nilai ekonomis tertinggi.
Lebih tinggi dibandingkan harga kelapa sawit selama ini menjadi komoditas utama di Riau.
"Satu Ha bisa ditanam 200-700 batang jernang. Estimasi kasar hitungan per tahun, 1 Ha jernang sebanding dengan hasil dari 15 Ha sawit," ujar Direktur Program Yayasan Hutan Riau, Melki Rumania.
Secara matematis sederhana, Melki menjelaskan, satu batang jernang kalau sudah berbuah normal, tandan buahnya bisa 13-17 tandan. Setiap tandan beratnya 500-1.500 gram. Dari berbentuk jantung hingga buah maksimal untuk dipanen berkisar 11-13 bulan.
"Anggaplah harganya sekarang Rp 2 juta saja. Artinya satu batang jernang bisa menghasilkan uang Rp 1,6 juta," ungkap Melki.
Bahkan menurut Melki, hitungan ini justru adalah hitungan minimalis, dalam kondisi realnya justru hasilnya lebih tinggi lagi.
"Untuk jernang itu hitungannya sudah sangat minimal sekali, kita belum menghitung jernang jantung yang tumbuh berumpun. Satu batang ditanam, bisa belasan batang naik ke atas," terang Melki.
Sekilo Jernang Rp 2 Juta
Melki menceritakan, jernang mungkin masih asing di telinga kita sehari-hari. Namun ternyata banyak kebutuhan sehari-hari khususnya berwarna merah mulai dari kosmetik hingga obat berasal dari jernang atau juga disebut si darah naga.
Walaupun, kini lebih banyak perajin kayu menggunakan bahan pewarna sintetis, jernang masih digunakan sebagai pewarna biola karena warnanya yang khas.
Untuk mendapatkan pewarna alami ini, pengolah jernang harus memukul-mukul kumpulan buah jernang yang ditempatkan dalam sebuah keranjang kecil. Dalam bahasa lokal disebut "pangisai" atau "pangguncang jonang."
Hal ini dilakukan agar getah atau resin jernang yang menempel di buahnya dapat luruh. Proses ini biasanya dilakukan sebanyak 2 kali, agar seluruh getah jernang yang menempel di kulit buahnya dapat diambil.
"Jadi harus kita pukul-pukul supaya bisa diambil getahnya," jelasnya seorang petani pengelola Jernang, Hendriyanto.
Setelah seluruh resinnya diperoleh, pengolah jernang akan membiarkannya selama satu hari penuh, hingga seluruh resin jernang mengkristal. Atau jika ingin mendapatkan warna lebih merah pekat, dapat juga diendapkan bersama air panas.
Tidak sampai disitu aja. Buah jernang yang sudah diambil getahnya, masih dapat diolah kembali. Para pengolah jernang akan menumbuk buah jernang hingga menjadi bubuk. Para pengolah jernang menyebut sebagai 'tepung jonang.'
Harga resin jonang dan tepung jonang tidak jauh berbeda. Kini harga jernang di pasaran berkisar Rp 2 juta per kg.
Eksperimen Petani Jernang
Melki menceritakan, hasil pendamping petani selama ini membuahkan hasil. Melalui eksperimen dilakukan petani, akhirnya selama tujuh hari pembibitan Jernang sudah tumbuh kecambah.
"Di masyarakat sendiri, Alhamdulillah sudah mulai bagus. Awalnya masyarakat itu membibitkan pecah kecambah dari biji keluar kecambah itu delapan bulan. Setelah berbagai perlakuan, tiga bulan, satu bulan terakhir satu minggu sudah bisa keluar kecambah," ungkap Melki.
Selaku pendamping, selalu mendorong dan mengarahkan petani jernang agar hasil pembibitan bisa optimal dengan pertumbuhan baik dan cepat.
"Jadi, kita mencoba mendorong masyarakat untuk bereksperimen, riset secara partisipatif dan mandiri, serta mendokumentasikan, perlakuannya, hasil gimana, ini gimana. Akhirnya dapatlah perlakuan optimal," jelasnya.
Melki menceritakan sebutan berbagai macam jenis-jenis jernang yang ada di daerah perbatasan dengan Riau.
"Kalau di Riau itu yang memang kita jumpa tumbuh alami untuk di Kuansing itu ada dua jenis, pertama jernang jantung dan kedua kalau di sana (Kuansing) bilangnya jernang beruk," jelas Melki.
Ia melanjutkan,tapi di daerah Indragiri Hulu (Inhu) itu disebut sebagai jernang kelukup, orang Jambi selain bilang jernang kelukup disebut juga jernang burung.
"Jadi jernang kelulup, burung, atau jernang beruk itu sama. Nah, untuk jernang jantung sebarannya kalau di Riau hanya ada di sebagian Kuansing dan Inhu terutama dearah yang berbatasan dengan Sumatera Barat (Sumbar) dan Jambi hanya spesifik disana," ungkapnya
Sementara itu, untuk jernang beruk hanya ada di kawasan hutan."Jernang beruk burung mulai dair inhu sampai ke kuansing kampar, rohul yang sebagian masih berada dikawasan hutan," pungkasnya.
Pemprov Riau Siapkan Kembangkan Jernang
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Riau, Maamun Murod, mengatakan akan tetap melakukan upaya agar petani jernang bisa berkembang. Menurutnya, petani jernang juga harus bisa tata kelola dalam berniaga untuk kesejahteraan hidup para petani jernang.
Ia menegaskan akan merencanakan penampungan jernang yang berkonsep berkeadilan.
"Jadi, saya inginnya itu, nanti ada pengepul jernang ini berkeadilan. Artinya, ia tidak hanya mengambil keuntungan sendiri saja," tegas Murod.
KLHK, tuturnya, juga ingin agar masyarakat yang menjadi petani jernang terus dapat berkembang.
"Bagaimana supaya masyarakat itu bisa hidup, terus jernang bisa berkembang. Nah, dari tata niaga juga bisa berjalan dengan baik," ujarnya
Murod menuturkan dengan nada semangat, bahkan sudah menghubungi rekan kerjanya di Dirjen Perdagangan untuk berdiskusi lebih lanjut perihal jernang ini.
"Makanya kemarin saya menelepon salah satu Dirjen Perdagangan, kemungkinan dalam waktu dekat akan melakukan zoom meeting," pungkasnya.
