Konten Media Partner

Kisah Panglima Asal Batusangkar Bangun Mesjid Kuning Bengkalis, Riau

Selasar Riauverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
MASJID Kuning yang dibangun Gombak Bauh gelar Panglima Minal
zoom-in-whitePerbesar
MASJID Kuning yang dibangun Gombak Bauh gelar Panglima Minal

SELASAR RIAU, BENGKALIS - Warga Bengkalis tentunya tidak asing lagi dengan Masjid Kuning, di Jalan Panglima Minal, Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis.

Letaknya sekira empat kilometer menuju arah Pusat Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bengkalis, Riau.

Masjid didominasi warna kuning ini dibangun sekitar tahun 1817 silam oleh seseorang memiliki nama asli Gombah Bauk.

Gombak Bauk kemudian dikenal dengan sebutan Panglima Mina, berasal dari Batusangkar, Sumatera Barat.

Masjid Panglima Minal awalnya berupa sebuah masjid kecil. Namun, berjalannya waktu, semakin berkembangnya Islam di Desa Senggoro, maka masjid itupun dibangun menjadi masjid paling besar masa itu.

MASJID Kuning dibangun oleh Panglima Minal asal Batusangkar, Sumatera Barat, usai menumpas lanun atau perompak di laut.

Kendati sudah terjadi beberapa kali rehab atau perubahan, namun tidak mengubah ciri khasnya sejak dahulu.

Masjid Kuning memiliki dua kubah, juga terdapat tiga pintu utama, satu di pintu belakang dan dua di samping kiri dan kanan. Selain itu, memiliki 20 jendela samping dan belakang.

Bagian dalam dipenuhi tulisan kaligrafi serta berplafon kayu. Tiang utamanya berada di tengah-tengah masjid berdiri kokoh ditopang empat tiang penuh ukiran indah tulisan Arab.

Konon, Masjid Kuning dipercaya masyarakat sebagai masjid tertua di Kota Terubuk, Kabupaten Bengkalis. Kini, usianya 202 tahun masih berdiri kokoh dan cantik terlihat dengan warna khasnya, kuning.

Sejarah Masjid Kuning

Ketua pengurus Masjid Kuning, Azhar Efendi, menceritakan, Panglima Minal atau Gombak Bauk, tiba di Bengkalis saat pulau tersebut dikuasai lanun atau perampok laut di bawah pimpinan Megat.

"Perampok masa itu sangat meresahkan masyarakat karena sering merampok kapal-kapal masyarakat yang melintas di perairan Selat Bengkalis dan Tanjung Jati," cerita Azhar Efendi kepada Selasar Riau, Senin, 25 November 2019.

MASJID Kuning di Desa Senggoro, di Pulau Bengkalis, Riau.

Kata Azhar, akibat seringnya terjadi perampokan menbuat Sultan Siak saat itu resah. Kemudian, ia mengeluarkan sayembara membasmi lanun-lanun di Selat Bengkalis ini.

"Raja Siak saat itu menjanjikan akan menjadikan Panglima bagi siapa saja yang sanggup menumpas lanun atau perompak laut ini," ujar Azhar Efendi.

Sayembara itu kemudian didengar oleh Gombak Bauk di kampung halamannya, di pedalaman Minangkabau.

Diam-diam mengunakan perahu, Gombak Bauh berangkat ke daerah Tanjung Jati. Di saat itulah ia menantang para lanun untuk adu kesaktian.

Singkat cerita, Gombak Bauk atau Minal berhasil mengalahkan pimpinan lanun, dan mereka kemudian ditawan dihadapkan ke depan Sultan Siak.

"Sesuai janjinya, Sultan Siak memberikan gelar Panglima kepada Gombak Bauk atau Minal, hingga di zamannya dikenal Panglima Minal," cerita Azhar.

Setelah mendapat gelar Panglima ini, Minal pindah ke Pulau Bengkalis bersama istrinya. Saat pindah itulah, Panglima Minal membuat sebuah masjid, kemudian hingga kini masih berdiri kokoh.

Awalnya, masjid itu terbuat dari kayu. Kemudian, jemaah dan masyarakat maupun pemerintah ikut menyumbang hingga akhirnya masjid ini berkembang sampai seperti sekarang.

Dibalik Penamaan Masjid Kuning

Nama Masjid Kuning, diceritakan Azhar Efendi, memiliki sejarah unik yang dipercaya masyarakat.

Konon, menurut warga Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis tersebut, masjid ini awal dibangun tidak diberi nama oleh Panglima Minal.

Selesai membangun masjid ini, Panglima Minal bersama istrinya, menanam pohon kenanga di sisi kanan dan kiri masjid.

"Pohon ini kemudian tumbuh besar dan bunga-bunga kenanga berwarna kuning terus berguguran di atas masjid. Sehingga lama-kelamaan menutupi masjid. Karena tertutup bunga kenanga, masjid ini terlihat kuning dari kejauhan," ujarnya.

Bagi warga yang melintas di depan masjid, menyebutnya bangunan ibadah itu masjid kuning karena pantulan warnanya.

Nama Masjid Kuning inilah yang digunakan oleh masyarakat Desa Senggoro dan melekat hingga sekarang.

Azhar mengakui, meskipun mengetahui sejarah Masjid Kuning, tetapi warga sekitar tidak memiliki catatan resmi terkait sejarah ini.

"Cerita ini kami dapatkan dari mulut ke mulut orang tua tua di sini. Bahkan sekarang mereka yang tau cerita ini juga sudah tidak ada lagi," tutupnya.