Konten Media Partner

Penambahan Corona Tak Turun-turun, Jubir: Riau Masuk Fase Pandemic Fatigue

Selasar Riauverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
GUBERNUR Riau, Syamsuar (tengah) saat ikut Salat Jenazah almarhum dr Oki Alfin bin Alamsyah, Sabtu (12/9/2020), di halaman RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru.
zoom-in-whitePerbesar
GUBERNUR Riau, Syamsuar (tengah) saat ikut Salat Jenazah almarhum dr Oki Alfin bin Alamsyah, Sabtu (12/9/2020), di halaman RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru.

SELASAR RIAU, PEKANBARU - Tidak turun-turunnya warga Riau yang positif Virus Corona mengakibatkan munculnya kejenuhan dan kelelahan hadapi pandemi.

Apalagi, sejak sembilan bulan pandemi berlangsung, bukannya berkurang, malah terjadi peningkatan kasus positif COVID-19 di Riau.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan COVID-19 Riau, dr Indra Yovi mengatakan, rata-rata per hari penambahan kasus di Riau antara 100-200 orang tiap harinya.

"Apakah sudah ada tanda-tanda melambat, belum. Angkanya masih berkisar 100-200 kasus perhari, dengan jumlah rata-rata angka kematian per hari 5-6 kasus," kata dr Indra Yovi, Rabu (2/11/2020).

Ia menjelaskan, saat ini jumlah kasus di Riau belum memperlihatkan tanda-tanda turun. Ia melihat memang ada sedikit, faktor jenuh sebenarnya.

"Ada faktor jenuh, dan WHO juga menyatakan ada istilahnya Pandemic Fatigue, kelelahan akibat pandemi," jelas dokter spesialis paru-paru tersebut.

Ia menuturkan, sudah sembilan bulan ini, tentu orang ada rasa jenuh, bosan, dibicarakan dan disampaikan itu-itu saja.

"Tentu ada jenuhnya, cuma ini kita mengingatkan terus kepada masyarakat jangan sampai faktor jenuh dan bosan itu menjadi risiko sangat besar," jelasnya.

Satgas COVID-19, tuturnya, mengingatkan dalam beberapa hari kedepan, akan ada pencoblosan Pilkada di beberapa daerah

"Ini juga kita sudah berkoordinasi dengan pihak Kepolisian, Bawaslu, KPU, supaya betul-betul protokol kesehatan di waktu dilakukannya Pilkada itu betul-betul dilakukan dengan baik," harapnya.

Menurutnya jika ada kerumunan yang berisiko tinggi menjadi transmisi Covid-19 agar menindak tegas dan membubarkannya.

"Tidak boleh ada kerumunan yang tidak perlu, dan memang harus tegas dinyatakan atau dibubarkan kalau ada kerumunan yang berisiko tinggi untuk menjadi transmisi Covid-19," pungkasnya.

Laporan: WAYAN SEPIYANA