Konten Media Partner

Penjahit, Kuli Bangunan, Korban PHK hingga Janda Terima Sembako dari kumparan

Selasar Riauverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
MARDI, penjahit penerima bantuan sembako dan uang tunai diberikan DCODE bekerjasama dengan Kumparan di Pekanbaru, Riau.
zoom-in-whitePerbesar
MARDI, penjahit penerima bantuan sembako dan uang tunai diberikan DCODE bekerjasama dengan Kumparan di Pekanbaru, Riau.

SELASAR RIAU, PEKANBARU - Mardi (61), bukan orang sembarangan. Ia seniman gaek Pekanbaru dan sempat menjadi figuran dalam film layar lebar Me Vs Mami.

Laki-laki paruh baya itu berperan sebagai tokoh adat Minangkabau di Payakumbuh. Ia beradu peran dengan artis Irish Bela dan Cut Mini.

Namun, bakat akting di depan kamera tak ia lanjutkan. Mardi kembali ke habitatnya, tukang jahit. Ia membuka usaha menjahit diberi nama "Sahabat" di Jalan Beringin, Kelurahan Sungai Sibam, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru.

Ia berjuang sendiri. Mardi sudah hampir lima tahun menghuni kedai kecil berukuran 2x3 meter di atas tanah yang ia sewa per bulannya Rp 400 ribu. Dari usaha inilah, ia menghidupi seorang anak dan istrinya.

"Sejak pindah ke sini, kami tak ada usaha lain. Rumah masih menyicil per bulan. Alhamdulillah kalau hasil lagi bagus, cukup terbantu untuk biaya cicil dan beli makan keluarga," kata Mardi.

Biasanya, jelang Idul Fitri seperti sekarang, Mardi panen jahitan dari pelanggan setianya.

MARDI, tukang jahit penerima bantuan sembako kerjasama DCODE dengan Kumparan di Pekanbaru.

Mereka terpaksa antre minta dijahitkan pakaian akan digunakan di hari penuh kemenangan tersebut. Namun, kondisi ini berbalik 180 derajat saat pandemi COVID-19 'menghajar' Indonesia.

"Sekarang luar biasa sepi, entah karena lebaran dilarang untuk berkumpul, jadi orang pada tak memerlukan baju baru," kata Mardi sambil menyeka mata tuanya.

Kondisi ini semakin diperparah dengan penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Pekanbaru.

"Sulit sekali rasanya tahun ini. Kalau biasanya satu bulan bisa dapat Rp 1 hingga Rp 1,5 juta. Bahkan kalau dekat hari raya, dapatlah sampai Rp5 juta. Kalau sekarang, satu orderan sudah luar biasa. Bahkan selama puasa saya banyak duduk saja menonton mesin jahit," lirihnya.

Kondisi ini diperparah dengan tidak tercatatnya dirinya sebagai penerima bantuan sosial terdampak COVID-19 dari Pemerintah Kota Pekanbaru. Mardi tidak mengerti, kenapa bisa tak masuk dalam daftar penerima.

"Saya bersyukur dan berterima kasih. Bantuan dari kumparan ini perdana bagi saya. Jauh dari Jakarta, masih memikirkan kami di sini. Semoga bantuan ini berkah," kata Mardi saat menerima penyaluran sembako dan uang donasi kerja sama DCODE dan kumparan, Senin (18/5).

Penyaluran Sembako dan uang tunai di Pekanbaru kerja sama DCODE dengan kumparan ini diterima oleh masyarakat tak mampu dengan beragam latar belakang. Mereka terdampak dari COVID-19.

Di antara penerima tersebut, ada janda, tak bekerja dengan kondisi sakit, penjual sate, penjahit, kuli bangunan, buruh, tukang parkir, tukang kebun, serta para pekerja yang dirumahkan oleh perusahaan mereka.

Pedagang Kelapa Muda

Sebelum kembali ke Pekanbaru, Sofyan (38), sempat berjaya dengan usaha gerai telepon seluler (Ponsel) di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Perputaran roda kehidupan, membuat usaha sudah dirintis Sofyan dengan susah payah di tanah rantau mengalami kebangkrutan.

SOFYAN dan istri di lapak kelapa muda di tepi jalan.

Ketika itu, ia berpikir untuk kembali ke Pulau Sumatera, dan menetapkan Pekanbaru sebagai tanah peruntungan nasib.

Di Kota Bertuah, Sofyan mulai merintis usaha kecil-kecilan lagi. Dimulai dari mengantarkan sayur-mayur ke Pasar Senapelan atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Kodim.

Jualan sayur-mayur ini pernah dilakoninya kala pertama kali merantau dari kampung halaman, Pariaman, Sumatera Barat, ke Pekanbaru, puluhan tahun silam.

"Jauh sekali bedanya. Kalau dulu saya punya langganan tetap. Akhirnya saya berhenti jualan ke pasar. Apalagi kebun sayur di Pekanbaru sudah semakin berkurang. Kebanyakan pasokan dari Sumbar," kata Sofyan disela-sela melayani pembelian kelapa, Senin (19/5).

Namun, berdagang sayur-mayur ini tak bertahan lama ia tekuni. Sofyan kemudian beralih ke dagangan lainnya, hingga kini berjualan kelapa muda.

Sayangnya, sejak tiga bulan terakhir, mulai Maret 2020, saat COVID-19 baru-baru mulai "melejit", jualan kelapa mudanya langsung terdampak.

Sepi pembeli ia alami. Sebaliknya, kebutuhan hidup tak juga berkurang, malah bertambah. Apalagi, ia memiliki cicilan rumah KPR saban bulan harus dibayar.

"Berat rasanya cukupi kebutuhan keluarga saat COVID-19 ini. Rumah saya kredit sudah di-take over oleh orang lain, padahal baru tiga tahun saya tempati," cerita Sofyan.

Tak hanya cicilan rumah, ia juga harus mencukup kebutuhan dua anaknya kini sudah beranjak besar. Azam dan Patih, nama keduanya. Mereka sudah mulai banyak kebutuhan. Azam sekarang menuntut ilmu di Sekolah Dasar (SD).

Pilihan jualan kelapa muda, tutur Sofyan, belum menampakkan hasil menggembirakan.

SOFYAN, pedagang kelapa muda.

"Hasilnya jauh dari harapan. Apalagi sekarang ini COVID-19, orang jarang beli kelapa. Hampir tidak ada hasil setiap hari jualan saya," kata Sopyan.

Ia pasrah melihat kondisi saat ini. Ia dan keluarga makan seadanya. "Hikmah selama bulan puasa ini, tak ada makan siang. Agak ringan juga belanja," sedikit berseloroh.

Saat didatangi ke lapak jualan kelapa muda ia sewa, Sofyan berterima kasih ke Kumparan telah menerima bingkisan sembako serta uang tunai.

Paket ini sangat berarti bagi saya dan keluarga hadapi lebaran sebentar lagi," jelasnya.

Artikel ini bentuk kerja sama antara DCODE dan Kumparan, saatnya kita beraksi bukan berpangku diri #MauGerakWithDCODE more info click Dcode.id.