News
·
23 September 2019 23:02

Penjelasan dari BMKG soal Hujan Es yang Turun di Pelalawan, Riau

Konten ini diproduksi oleh Selasar Riau
Penjelasan dari BMKG soal Hujan Es yang Turun di Pelalawan, Riau (157015)
Hujan disertai es. (Foto: Ardana pragota/kumparan)
SELASAR RIAU, PEKANBARU - Hujan dengan intensitas ringan mengguyur sebagian wilayah di Provinsi Riau, Senin petang (23/9). Namun di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, bukan hanya hujan air yang turun, tetapi juga hujan es.
ADVERTISEMENT
Analis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Yudhistira, memberikan penjelasan ihwal fenomena hujan es itu.
"Kejadian hujan es mungkin saja bisa terjadi," kata Yudhistira, kepada Selasar Riau, Senin malam (23/9).
Ia menjelaskan bahwa yang namanya hujan es, hujan lebat, ditambah lagi yang disertai kilat atau petir dan angin kencang dengan durasi singkat, memang lebih banyak terjadi pada masa transisi musim.
"Atau pada saat pancaroba musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya," ujar Yudhistira.
Ia menjelaskan, indikasi terjadinya hujan mengandung es juga mungkin terjadi saat angin kencang dengan durasi singkat. Hal itu, tuturnya, bisa terjadi akibat sehari sebelum hujan, atau pada malam hingga pagi harinya, suhu terasa panas.
ADVERTISEMENT
Semua itu, menurutnya, hujan es terjadi akibat radiasi matahari cukup kuat yang ditunjukkan lewat nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (Waktu Matahari) (>4,5°C); dan disertai kelembaban cukup tinggi yang ditunjukkan dengan nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%).
"Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol," ujar Yudhistira.
Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus). Tahapan itu kemudian membentuk hujan dengan potensi mengandung es seperti yang terjadi di Pelalawan.
ADVERTISEMENT