Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026: Pentingnya Pastikan Keamanan Obat

Ketika menjalani pengobatan, perhatian terhadap kondisi kesehatan biasanya berfokus pada diagnosis, pilihan terapi, hingga perubahan yang dirasakan setelah mengonsumsi obat.
Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu memastikan obat yang digunakan aman, berasal dari sumber yang tepat, dan digunakan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Hal ini menjadi semakin relevan bagi masyarakat yang hidup dengan penyakit tidak menular atau noncommunicable diseases (NCDs), seperti diabetes dan obesitas.
Pengobatan untuk kondisi kronis dapat berlangsung dalam jangka panjang sehingga membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan, termasuk terhadap keamanan obat yang digunakan selama proses pengobatan.
Berangkat dari perhatian terhadap keamanan pengobatan tersebut, Novo Indonesia, bagian dari perusahaan kesehatan global asal Denmark yang memproduksi terapi untuk obesitas dan diabetes, turut menegaskan komitmennya terhadap keselamatan pasien.
Dalam momentum Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026 yang diperingati setiap 17 September, Novo menyoroti pentingnya peran berbagai pihak, termasuk pasien, dalam memastikan keamanan sepanjang perjalanan pengobatan.
“Melalui kolaborasi dan peran aktif setiap pihak, kita dapat bersama-sama mendukung perjalanan pengobatan yang lebih aman bagi pasien. Bagi Novo, upaya tersebut dimulai dari penerapan proses dan standar kualitas sebelum produk dipasarkan, sistem untuk memastikan keaslian produk, upaya mendukung deteksi produk ilegal, hingga pemantauan keamanan setelah produk digunakan melalui tanggung jawab Pharmacovigilance,” ujar dr. Riyanny Meisha Tarlinan, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia.
Mengenali Produk Ilegal dan Risikonya bagi Pasien
Dalam rangka memperingati Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026, Novo Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung keselamatan pasien melalui pengelolaan kualitas dan keamanan produk di setiap tahapan product life cycle, mulai dari pembuatan produk hingga digunakan oleh pasien.
Masyarakat juga memiliki peran aktif dalam menjaga keamanan pengobatan. Salah satunya dengan memastikan obat yang dibeli dengan resep (prescription) diperoleh melalui jalur resmi, memastikan legalitas produknya, serta menggunakan obat sesuai dengan resep dari tenaga kesehatan.
Seiring semakin beragamnya pilihan bagi masyarakat dalam memperoleh produk kesehatan, memastikan keabsahan dan sumber obat menjadi bagian penting dari keselamatan pengobatan. Pemahaman mengenai produk ilegal dan risiko yang dapat ditimbulkannya juga diperlukan agar masyarakat dapat lebih berhati-hati sebelum menggunakan obat.
Berdasarkan U.S. Food and Drug Administration (FDA), produk ilegal yang termasuk produk medis substandard dan falsified dapat mencakup produk palsu, produk yang diperoleh melalui jalur distribusi tidak resmi, produk yang sengaja dicampur, menjadi objek transaksi penipuan, atau produk yang tampak tidak layak untuk didistribusikan.
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa produk medis substandard dan falsified dapat mengandung bahan berbahaya atau memiliki dosis yang tidak tepat sehingga efikasi, keamanan, dan kualitasnya tidak terjamin. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kegagalan pengobatan, memperburuk kondisi kesehatan, bahkan berisiko menyebabkan kematian.
Membeli obat melalui jalur yang tidak resmi juga membawa risiko karena keaslian, keamanan, dan kualitas produk tidak dapat dipastikan. Karena itu, masyarakat dianjurkan memperoleh obat melalui jalur resmi, termasuk apotek, klinik, telehealth, maupun rumah sakit yang berizin.
Sebelum menggunakan produk, masyarakat juga dapat memeriksa nomor izin edar melalui website Cek BPOM untuk memastikan keabsahan produk.
Jika menemukan atau mencurigai adanya obat ilegal, laporan dapat disampaikan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui kanal resmi, termasuk Halo BPOM di 1500533, WhatsApp di +62 811-9181-533, email halobpom@pom.go.id, media sosial resmi BPOM, maupun Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) BPOM, Balai Besar POM, Balai POM, atau Loka POM setempat.
Menjaga Keselamatan Pasien di Setiap Tahapan
Keselamatan pasien perlu dijaga sepanjang siklus hidup obat, mulai dari memastikan ketertelusuran dan keamanan produk hingga memantau keamanannya setelah obat beredar melalui pelaksanaan farmakovigilans.
“Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga sepanjang siklus hidup obat, mulai dari memastikan ketertelusuran dan keamanan produk hingga pemantauan keamanannya setelah beredar melalui pelaksanaan farmakovigilans," ujar Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S., Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM.
Menurut Nova, BPOM mendorong masyarakat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan untuk berperan aktif melaporkan setiap kejadian tidak diinginkan atau dugaan efek samping obat. Sebab setiap laporan menjadi informasi penting dalam pemantauan profil keamanan obat dan upaya perlindungan keselamatan pasien.
Dalam upaya menjaga keamanan produk sebelum didistribusikan ke pasar, Novo menerapkan sistem serialisasi. Sistem ini memungkinkan produk dipindai melalui aplikasi BPOM Mobile untuk memverifikasi informasi seperti nomor izin edar (NIE), nomor bets, dan tanggal kedaluwarsa.
Setelah produk didistribusikan ke pasar, Novo juga bekerja sama dengan pemangku kebijakan untuk mendukung deteksi produk ilegal di platform daring demi memastikan keselamatan pasien.
Perusahaan turut berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas dan diabetes sebagai penyakit kronis, sekaligus memberikan edukasi berkelanjutan tentang akses terhadap pengobatan yang aman dan inovatif.
Secara global, Novo memiliki tenaga profesional pharmacovigilance yang menerapkan proses dan sistem untuk mengumpulkan informasi keamanan serta data efek samping, baik selama pengembangan klinis maupun setelah produk dipasarkan.
Di Indonesia, tim pharmacovigilance Novo bekerja sesuai dengan ketentuan BPOM, termasuk menerima dan menindaklanjuti laporan mengenai kemungkinan efek samping. Informasi tersebut membantu memahami profil keamanan produk secara berkelanjutan.
Ketika pasien mengalami kejadian tidak diinginkan atau efek samping setelah menggunakan obat, Novo mengajak pasien untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Hasil pelaporan dan konsultasi tersebut menjadi langkah lanjutan yang dapat membantu menjaga keselamatan pasien sekaligus mendukung pemantauan keamanan produk secara berkelanjutan.
“Keselamatan pasien dimulai dari setiap keputusan dan tindakan dalam perjalanan pengobatan. Oleh karena itu, kami terus berupaya memastikan kualitas dan keamanan produk, sekaligus mendorong pasien untuk lebih aktif menjaga keselamatannya dengan memperoleh obat dari sumber tepercaya dan selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di sepanjang tahapan pengobatan,” tutup dr. Riyanny.
