Benarkah Kenaikan PPN Selalu Merugikan? Perspektif dari Konsumen dan Negara
Tulisan dari selvia rahmaaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika tarif PPN naik, banyak orang langsung merasa dirugikan sebagai konsumen. Wajar, karena yang paling terasa adalah kenaikan harga di hal-hal sehari-hari: beli kopi susu, check out skincare, sampai top-up e-wallet buat ongkir. Rasanya kayak “kok biaya hidup makin naik terus?” dan itu keluhan yang valid.
Tapi di sisi lain, negara punya alasan kenapa tarif PPN naik. Pajak adalah sumber utama untuk membiayai layanan publik: jalan yang kita pakai tiap hari, subsidi kesehatan, pendidikan, hingga program bansos. Ketika kebutuhan negara meningkat, pemasukan juga perlu ikut naik. Jadi bukan hanya soal beban ke masyarakat, tapi tentang menjaga agar sistem tetap berjalan.

Namun, yang perlu dipahami adalah penerapan kebijakan pajak berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas negara dalam menyediakan layanan publik. Ketika penerimaan pajak meningkat, ruang fiskal menjadi lebih luas untuk mendukung program-program yang menyentuh masyarakat, seperti kesehatan, infrastruktur, dan pendidikan. Di sisi masyarakat sendiri, pemahaman bahwa pajak kembali dalam bentuk manfaat bersama juga perlu terus dibangun.
Karena itu, pembahasan soal kenaikan PPN bukan hanya soal beban atau keuntungan satu pihak. Melainkan bagaimana semua pihak – pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen – bisa selaras dalam melihat pajak sebagai gotong royong modern. Jika kesadaran ini tumbuh, maka dampaknya bisa menjadi lebih seimbang dan saling menguatkan.

