Konten dari Pengguna

Keindahan Citraan dalam Novel Namaku Hiroko karya Nh. Dini

Selvi Ramah Hadi

Selvi Ramah Hadi

Mahasisiwi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvi Ramah Hadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi

Dalam karya sastra, teknik penggunaan citraan (imagery) menjadi salah satu unsur penting untuk menghidupkan cerita, memperkaya pengalaman membaca, serta membangun hubungan emosional antara teks dengan pembacanya. Menurut pendapat Nurgiyantoro, saat kita membaca atau mendengar kata-kata yang mengandung citraan, imajinasi kita secara otomatis membentuk gambaran konkret tentang objek yang dimaksud dalam benak kita. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji keindahan citraan dalam novel Namaku Hiroko, karya sastrawan Nh. Dini, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1970. Berikut ini akan disajikan penjelasannya;

• Citraan Pengelihatan

Tubuhnya kurus, agak tinggi, memakai celana dari kain tipis

(halaman 32)

Kutipan tersebut merupakan citraan pengelihatan karena menggambarkan ciri-ciri fisik tokoh yang bisa dilihat oleh pembaca. Uraian mengenai tubuh yang "kurus," "agak tinggi," serta penggunaan "celana dari kain tipis" menimbulkan gambaran yang jelas di benak pembaca. Melalui citraan ini, penulis membentuk karakter tokoh secara fisik dan memberikan kesan tertentu, seperti gambaran tentang latar belakang ekonomi, keadaan sosial, atau sifat tokoh tersebut.

• Citraan Pendengaran

Lalu kudengar langkahnya mendekati dapur

(halaman 37)

Kutipan tersebut menggambarkan penggunaan citraan pendengaran karena mengacu pada pengalaman mendengar, di mana tokoh dalam cerita mendengar suara langkah kaki yang mendekat menuju dapur. Dengan kata "kudengar," penulis menyampaikan bahwa suara tersebut cukup jelas bagi tokoh, yang dapat menambah kedalaman suasana dalam cerita. Melalui citraan auditori ini, pembaca dapat merasakan ketegangan atau intensitas yang dirasakan tokoh.

• Citraan Gerak

Kepalanya menoleh seakan-akan mencari

(halaman 25)

Kutipan tersebut memperlihatkan penggunaan citraan gerak, yakni gambaran tentang gerakan fisik yang dapat divisualisasikan oleh pembaca. Aksi kepala yang menoleh sambil menunjukkan sikap mencari memberikan kesan gerak yang hidup dan menambah dinamika suasana dalam cerita. Melalui citraan gerak ini, penulis berhasil menghidupkan tokoh sehingga pembaca dapat ikut merasakan ketegangan atau rasa ingin tahu yang sedang dialami.

• Citraan Rabaan

Dengan secarik kain handuk basah, aku menyeka dan menyegarkan badan

(halaman 29)

Kutipan tersebut memperlihatkan penggunaan citraan rabaan melibatkan indra peraba. Pada frasa "kain handuk basah" dan tindakan "menyeka dan menyegarkan badan" membangkitkan sensasi dingin atau segar yang dapat dirasakan melalui kulit. Dengan menghadirkan citraan rabaan ini, penulis berhasil membangun pengalaman fisik tokoh, sehingga pembaca seolah-olah ikut merasakan kesejukan yang dialami dalam peristiwa tersebut.