Konten dari Pengguna

Ketika Cinta Orang Tua Justru Menjadi Tekanan: Anak Kebanggaan

Selvi Ramah Hadi

Selvi Ramah Hadi

Mahasisiwi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvi Ramah Hadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber pexels.com

Apa jadinya jika kasih sayang orang tua yang katanya tulus dan penuh pengorbanan, justru berubah menjadi sumber tekanan terbesar bagi anak? Cerpen Anak Kebanggaan karya A.A. Navis menggambarkan kenyataan itu dengan getir. Di balik kisah yang tampak penuh cinta, tersimpan kisah tentang ambisi yang dibungkus dengan alasan kasih sayang.

Tokoh utama cerpen ini, Ompi, adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya, Indra Budiman. Segala hal ia lakukan demi anak semata wayangnya itu mulai dari mengganti nama, membiayai sekolah, hingga membayangkan gelar dokter tersemat di depan namanya. Tapi, tanpa disadari, semua itu berubah jadi tekanan. Indra Budiman tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memenuhi harapan besar sang ayah.

Yang menyedihkan, Ompi tidak menyadari bahwa harapan-harapannya justru membelenggu. Ketika anaknya mulai berbohong demi menjaga citra, Ompi ternyata makin larut dalam ilusi, ikut membohongi diri sendiri. Hubungan mereka berubah jadi sandiwara yang melelahkan, hingga pada akhirnya hanya menyisakan penyesalan.

Latar budaya Minangkabau dalam cerpen ini juga menarik untuk dikulik. Meski secara adat bersifat matrilineal, nilai-nilai patriarki tetap kuat, terutama soal tanggung jawab anak laki-laki. Mereka sering diposisikan sebagai tumpuan keluarga, simbol keberhasilan orang tua. Maka tidak heran jika mereka sering dibebani harapan yang terlampau tinggi, tanpa diberi ruang untuk menentukan arah hidupnya sendiri.

Adapun, yang membuat cerpen ini terasa dekat adalah kenyataan bahwa fenomena seperti ini masih banyak terjadi. Saat ini, tak sedikit anak muda yang merasa hidupnya bukan milik sendiri. Mereka diarahkan untuk kuliah di jurusan tertentu, bekerja di bidang yang “menjanjikan”, bahkan memilih jalan hidup yang sesuai keinginan orang tua semuanya hanya demi satu kalimat, “Ini semua untuk kebaikanmu.”

Cerpen Anak Kebanggaan menjadi pengingat bahwa cinta yang baik bukanlah yang mengatur, melainkan yang memberi ruang. Anak bukan alat pencapaian atau lambang keberhasilan orang tua. Mereka adalah manusia yang punya hak untuk bermimpi, untuk gagal, dan untuk menentukan jalannya sendiri.

Mungkin, sebelum kita berkata “semua ini demi kamu,” ada baiknya kita jeda sejenak dan bertanya, “apa sebenenarya yang kamu inginkan?”