Satu Jalur, Banyak Cerita: Solidaritas Pendaki di Tengah Perjalanan

Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Selvia Dwi Yanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, mendaki gunung semakin populer, terutama di kalangan anak muda. Foto di puncak, pemandangan dari ketinggian, hingga suasana berkemah sering muncul di media sosial. Hal tersebut membuat banyak orang tertarik mencoba mendaki setelah melihat pengalaman orang lain. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman yang sedang dilakukan orang lain.
Menurut saya, ketertarikan karena media sosial bukan selalu sesuatu yang buruk. Justru, dari rasa penasaran tersebut seseorang bisa mendapatkan pengalaman baru. Namun, mendaki seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan untuk mengikuti tren. Ada banyak hal yang bisa dipelajari selama perjalanan, salah satunya tentang bagaimana memperlakukan orang lain yang memiliki kemampuan berbeda.
Saya merasakan hal tersebut ketika pertama kali mendaki gunung. Sebagai pendaki pemula, saya masih belum terbiasa dengan kondisi jalur yang penuh bebatuan. Saat itu, saya tidak merasa harus mengikuti kemampuan teman yang sudah lebih sering mendaki. Teman yang lebih berpengalaman justru membantu dan memberikan arahan tanpa menganggap saya lebih rendah karena masih pemula.
Sikap tersebut merupakan contoh dari penerapan sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ketika seseorang masih belajar, memberikan bantuan dan tidak merendahkannya merupakan bentuk menghargai sesama.
Pengalaman lain terjadi ketika salah satu teman mengalami kedinginan. Kami kemudian berusaha mencari teh hangat di warung yang berada di sekitar jalur pendakian agar kondisinya lebih nyaman. Kami tidak menyalahkannya karena merasa tidak kuat. Memang, kesiapan fisik merupakan hal penting sebelum mendaki karena kegiatan ini memiliki risiko. Namun, ketika masalah sudah terjadi di perjalanan, menurut saya yang lebih penting adalah bagaimana teman-teman di sekitarnya dapat merespons dengan bijak.
Pengalaman tersebut juga berkaitan dengan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Persatuan tidak berarti semua orang harus memiliki pengalaman atau kondisi yang sama. Justru, ketika terdapat perbedaan, setiap orang dapat mengambil peran untuk saling melengkapi. Pendaki yang lebih berpengalaman dapat membantu pendaki pemula, sementara anggota lain dapat memberikan dukungan ketika ada yang mengalami kesulitan.
Hal ini sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di jalur pendakian, orang-orang dapat datang dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Sisi seperti inilah yang sering tidak terlihat dalam konten pendakian di media sosial. Media sosial biasanya memperlihatkan hasil akhirnya yaitu pemandangan puncak. Padahal, proses menuju ke sana juga memiliki cerita. Ada rasa lelah, belajar memahami kemampuan teman, membantu ketika ada yang kedinginan, dan menerima bahwa setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda.
Pada akhirnya, mendaki gunung memang bisa dimulai karena rasa penasaran. Namun, pengalaman di jalur pendakian dapat memberikan pelajaran yang jauh lebih luas. Dalam satu jalur, orang-orang dengan pengalaman berbeda dapat belajar untuk menghargai, membantu, dan berjalan bersama. Bagi saya, di situlah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya menjadi sesuatu yang dipelajari, tetapi juga dapat terlihat dalam tindakan sederhana sehari-hari.
