Konten dari Pengguna

Generasi Paling Terdokumentasi, Tapi Paling Tidak Bahagia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvia Noviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi generasi Z yang sibuk mendokumentasikan hidup di media sosial. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generasi Z yang sibuk mendokumentasikan hidup di media sosial. Foto: Freepik

Tidak ada generasi sebelumnya yang hidupnya terekam sepanjang dan sedetail Generasi Z. Setiap momen tersimpan dari sarapan pagi, perjalanan ke kampus, hingga momen random sebelum tidur. Semua ada jejaknya. Semua bisa dilihat ulang. Semua bisa ditunjukkan kepada dunia. Tapi ada ironi besar yang jarang dibicarakan: generasi yang paling banyak mendokumentasikan hidupnya justru adalah generasi yang paling banyak merasa hidupnya tidak cukup.

Ada ritual kecil yang hampir semua anak muda lakukan setiap hari, yaitu membuka ponsel begitu bangun tidur, dan menutupnya tepat sebelum mata terpejam. Di antara dua waktu itu, layar terus menyala saat makan, saat belajar, bahkan saat duduk bersama orang-orang terkasih. Media sosial bukan lagi sekadar aplikasi, tetapi telah menjadi kebiasaan bahkan kebutuhan yang sulit dilepaskan dari keseharian.

Tidak bisa dipungkiri, media sosial membawa banyak manfaat nyata. Informasi mengalir lebih cepat, jarak terasa lebih dekat, dan peluang yang dulu hanya tersedia bagi sebagian orang kini terbuka lebar bagi siapa saja. Tidak sedikit anak muda yang berhasil membangun usaha, mengembangkan bakat, atau belajar hal-hal baru berkat platform digital ini. Namun, di balik semua kemudahan itu, ada beban yang sering kali tidak terasa hingga terlambat disadari, yaitu fenomena FOMO (Fear of Missing Out).

FOMO adalah rasa takut tertinggal atau perasaan cemas bahwa hidup orang lain seolah lebih penuh, lebih menyenangkan, atau lebih bermakna dibandingkan milik kita sendiri. Perasaan ini bukan hal baru. Namun, media sosial justru membuat perasaan itu terus bertahan, bahkan semakin kuat setiap kali kita membuka layar. Setiap kali membuka Instagram, kita disambut oleh foto liburan yang tampak sempurna, pencapaian karier yang membanggakan, dan kehidupan sosial yang selalu tampak ramai dan berwarna.

Yang jarang kita ingat adalah bahwa semua itu merupakan versi rekayasa dari kenyataan. Tidak ada yang mengunggah foto saat sedang menangis sendirian di malam hari, saat gagal dalam ujian, atau saat merasa hidup tidak berjalan sesuai rencana. Yang tersaji di layar adalah sorotan terbaik momen-momen pilihan yang telah dipilah, diedit, dan dipilih sedemikian rupa agar tampak menarik. Kita pun tanpa sadar membandingkan kehidupan kita yang utuh, lengkap dengan segala kekurangannya, dengan highlight reel milik orang lain.

Dampak yang paling mengkhawatirkan dari FOMO adalah pergeseran cara anak muda memandang diri mereka sendiri. Perlahan banyak orang mulai mengukur nilai diri dari angka-angka di media sosial, seperti berapa banyak pengikut yang dimiliki, berapa likes yang diraih dari sebuah unggahan, berapa kali sebuah video ditonton. Ketika angka-angka itu tinggi, ada rasa senang dan diterima. Namun ketika respons terasa sepi, muncul pertanyaan menyakitkan "Apakah aku kurang menarik? Apakah hidupku kurang berharga untuk diperhatikan?"

Hal ini bukan soal kerapuhan karakter. Ini adalah respons alami terhadap lingkungan yang terus-menerus memicu perbandingan sosial. Otak manusia memang secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang-orang di sekitarnya. Masalahnya, media sosial memperbesar lingkaran perbandingan itu tanpa batas, bukan lagi tetangga atau teman sekelas, melainkan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia yang semuanya tampak lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sempurna.

Akibatnya, banyak anak muda yang mengalami kecemasan kronis, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan motivasi. Semua itu bukan karena hidup mereka buruk, melainkan karena mereka terus-menerus merasa tidak cukup. FOMO juga menciptakan lingkaran setan, seperti semakin sering scrolling, semakin besar rasa tertinggal dan semakin sulit untuk berhenti scrolling.

Solusinya bukanlah membuang ponsel dan menghilang dari dunia digital. Media sosial, bila digunakan dengan kesadaran penuh, tetaplah alat yang berdaya guna. Yang diperlukan adalah literasi digital yang lebih mendalam untuk memahami bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kenyataan, bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.

Langkah sederhana seperti membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih akun-akun yang memberikan inspirasi positif daripada memicu kecemburuan, atau sekadar meletakkan ponsel selama makan bersama keluarga. Hal-hal kecil semacam itu berdampak jauh lebih besar dari yang kita kira. Waktu yang dihemat dari scrolling tanpa tujuan bisa diarahkan pada hal-hal yang benar-benar bermakna, seperti olahraga, membaca, atau sekadar mengobrol sungguh-sungguh dengan orang di depan kita.

Lingkungan sosial juga memiliki peran yang tidak kecil. Ketika teman dan keluarga mampu menjadi ruang aman yang bebas dari tekanan untuk terlihat sempurna, anak muda dapat lebih mudah melepaskan diri dari jebakan perbandingan. Perlu ada percakapan yang lebih jujur di antara kita, bahwa kehidupan yang nyata tidak selalu fotogenik, dan justru di situlah letak keindahannya.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah cermin dan hanya menampilkan apa yang kita hadapkan padanya. Bila kita terus-menerus menggunakannya untuk mengukur seberapa jauh kita tertinggal dari orang lain, maka itulah yang akan selalu kita lihat. Namun bila kita menggunakannya dengan sadar dan selektif, ia bisa menjadi jendela yang membuka peluang, menghubungkan kita dengan komunitas yang menginspirasi, dan memperluas wawasan.

Hidup yang bahagia tidak ditentukan oleh seberapa sempurna tampilannya di layar ponsel. Ia ditentukan oleh seberapa dalam kita mampu hadir dalam setiap momen nyata yang kita Jalani. Tanpa kamera, tanpa filter, dan tanpa kekhawatiran bahwa seseorang di luar sana sedang hidup lebih baik dari kita. Setiap orang punya waktunya sendiri, jalannya sendiri, dan prosesnya sendiri. Hidup bukan perlombaan, dan tidak ada hadiah untuk orang yang paling banyak dilike.