Konten dari Pengguna

Anak Belajar Daring, Ibu Pusing

Selvia Parwati Putri

Selvia Parwati Putri

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvia Parwati Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak belajar ditemani ibu. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar ditemani ibu. Foto: Shutter Stock

“Udah masak, nyuci, nyapu, ngepel. Eh, ditambah ngerjain PR bocah.”

Masa pandemi seperti ini membuat semua sektor melemah dan terpaksa dialihkan, yang tadinya luring menjadi daring. Anak-anak yang semula mengenyam pendidikan di sekolah, terpaksa harus dilakukan di rumah masing-masing. Menatap ponsel atau laptop mereka dengan berbagai tugas dan instruksi dari gurunya.

Ilustrasi dibuat secara pribadi oleh penulis.

Terlebih lagi bila anak yang masih duduk di sekolah dasar, anak yang seharusnya mendapatkan pengalaman belajar di sekolah, mau tidak mau harus menjalani aktivitas pendidikannya di rumah.

Belum lagi apabila ada tugas untuk membuat video, banyak drama yang bermunculan. Dari menangis dahulu, minta dibelikan es krim dahulu, seperti tradisi rutin dari anak yang merengek kepada orang tuanya ketika akan mengerjakan tugas. Apalagi para ibu, di masa yang mengharuskan anak belajar secara daring ini kerap membuat mereka seperti ketambahan beban baru.

Akhir-akhir ini, tiap pagi, saya selalu mendengar omelan ibu yang bersumber dari tetangga sebelah rumah. Entah yang menyuruh belajar Matematika, Bahasa Indonesia, menghafal lagu Hari Merdeka, membuat video perkenalan, dan lain sebagainya.

Tiap pagi, sang ibu selalu mengeluarkan “jurusnya” untuk menyuruh sang anak mengerjakan tugas. Sepertinya, tidak semua guru memperhatikan kondisi anak dan situasi rumah. Buktinya, masih ada saja guru yang dengan enteng membeni anak dengan tugas yang menumpuk.

Kondisi sang anak yang mulai jenuh dan tidak termotivasi, menjadikan mereka terbawa “ogah” mengerjakan tugas dari gurunya. Entah karena susah atau karena sudah telanjur kesal dengan rentetan tugas yang diberikan.

Apabila situasinya seperti ini, para ibu mulai jadi guru dadakan. Selain harus mengurus tuntutan pekerjaan rumah tangga, para ibu juga menambah profesi menjadi guru untuk anaknya di rumah.

Mulai dari harus menyapu dan mengepel tiap pagi, ke tukang sayur untuk belanja bahan masakan hari itu kemudian meraciknya menjadi makanan untuk disantap orang serumah, mencuci pakaian, dan berbagai pekerjaan lainnya harus para ibu pegang sendirian.

Boro-boro mau membayar ART, kebutuhan untuk makan sudah tercukupi saja sudah bersyukur. Belum lagi yang suaminya harus kena dampak dirumahkan. Uang hasil dirumahkan tidak seberapa, tetapi keluarga harus bertahan untuk makan dan hidup dalam jangka waktu lama.

Ketika anak sudah ogah mengerjakan tugas sekolahnya, para ibu banyak mengambil tindakan. Dari yang halus sampai ke yang tidak sabaran. Tadinya bicara pelan-pelan, makin lama makin geregetan.

Akibatnya, para ibu mengambil alih seluruh tugas yang harusnya dikerjakan oleh sang anak. Seharusnya tugas berperan menjadi sarana evaluasi, bila berlebihan ujung-ujungnya jadi beban ibunya sendiri.

Saat ibu sedang mengerjakan tugasnya, sang anak memilih untuk bermain bersama teman-temannya. Tujuan dari sekolah daring agar tidak terlalu intens dalam berinteraksi, seakan jadi tidak bermakna apa-apa di sini.

Anak sudah tidak belajar, memilih main, tugasnya dikerjakan ibunya; membuat geleng-geleng kepala. Para ibu pusing harus belajar lagi, memikirkan piutang di tukang sayur, omelan dari ibu kontrakan, kotak listrik yang teriak-teriak.

Apalagi, para ibu yang punya latar belakang pendidikan yang minim. “Lah, dulu ma mana ada belajar ginian, lulus SMP langsung kerja nyari duit,” begitu kiranya. Belum lagi pembelajaran yang mengharuskan siswa memiliki perangkat canggih, ketika file dari gurunya tidak bisa dibuka, pusingnya minta ampun.

Ayah saya merupakan guru sekolah dasar, tepatnya menjadi wali kelas untuk SD kelas 6. Keresahan Ayah membuat saya ikut tahu persoalannya. Diberikan satu tugas dikirimnya bisa seminggu kemudian. Tidak lain, HP-nya sedang dibawa ibunya bekerja, anaknya ngambek tidak mau belajar, atau lupa membuka grup kelas. “Maaf, ya, Pak. HP-nya ini saya bawa kerja, Ayahnya juga kerja. Anak saya di rumah ngga keawas,” begitu kiranya.

Lalu, ada juga yang mengumpulkan tugas dengan cepat. Setelah dilihat, tulisannya rapi dan benar semua. Ketika ditanya, lucunya ada yang menjawab dengan apa adanya: “PR-nya dikerjain ibu.”

“Haduh, ini ma belajar lagi. Orang mikir dapur udah capek, ini ditambah suruh mikir rumus matematika.” Para Ibu terpaksa harus belajar lagi, demi tugas anaknya selesai dan cepat dikumpulkan di waktu yang telah ditentukan.

Dampaknya, anak yang seharusnya benar-benar belajar di rumah, justru tidak mendapatkan pembelajaran apa-apa. Mereka tetap berambisi untuk bermain dengan temannya dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan.

Kemudian, di sini mulai ada yang mempertanyakan, “Ke mana sosok Ayah?”. Mungkin tidak perlu dibahas lebih dalam. Bisa ditengok sendiri kanan kiri rumahnya, gimana peran Ayah dalam sekolah daring seperti ini.

Ayah berfokus pada bagaimana mencari dan mendapatkan uang. Memikirkan besok makan pakai apa, bayar cicilan rumah uang dari mana, membayar kredit motor ada berapa dendanya.

Para ibu sudah seperti mengenyam berbagai ahli. Ahli masak, ahli mencuci, ahli membersihkan rumah, ahli dapur, dan sekarang ditambah ahli mengerjakan tugas sekolah.