Konten dari Pengguna

Rupiah di Persimpangan: Menjaga Stabilitas di Tengah Badai Ekonomi Global

Selvin Septyana

Selvin Septyana

Mahasiswa Universitas Pamulang - Program Studi Pendidikan Ekonomi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvin Septyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Di tengah gelombang kenaikan suku bunga global, ketegangan geopolitik, dan pelemahan ekonomi Tiongkok, rupiah kembali diuji ketahanannya. Sejak awal tahun, nilai tukar rupiah sempat bergerak di kisaran Rp 15.800–16.200 per dolar AS, dipengaruhi arus modal keluar dari pasar obligasi dan tekanan eksternal lainnya.

“Kebijakan moneter kita saat ini tidak bisa hanya reaktif, tetapi juga harus antisipatif,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia. “Stabilitas nilai tukar adalah kunci menjaga kepercayaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.”

1. BI Rate Tetap di Level 5,25%

Bank Indonesia memilih untuk menahan suku bunga acuan di 5,25% hingga kuartal III 2025. Langkah ini diambil untuk menyeimbangkan tekanan inflasi dan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi.

Tahun BI Rate (%)

2023 5.75

2024 5.50

2025* 5.25

Sumber: Bank Indonesia (September 2025)

2. Rupiah Menjadi Fokus Utama

Sepanjang 2025, rupiah menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian global. Namun BI melakukan intervensi di pasar valuta asing serta penguatan cadangan devisa untuk menahan pelemahan lebih jauh.

Bulan Nilai Tukar (Rp/USD)

Jan 2025 15.850

Mar 2025 15.950

Mei 2025 16.100

Okt 2025 15.920

Sumber: Bank Indonesia

3. Sinergi Moneter dan Fiskal

Sinergi antara BI dan pemerintah terus diperkuat melalui percepatan realisasi belanja negara dan dukungan untuk sektor produktif serta UMKM. Kebijakan ini bertujuan menjaga momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas makro.

Kutipan Resmi

“Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara agresif, baik di pasar domestik melalui instrumen spot, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global.

Sementara itu, Sri Mulyani, Menteri Keuangan, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga pelaksanaan APBN dan konsistensi kebijakan fiskal: “Kami akan memastikan pelaksanaan fiskal yang hati-hati, kredibel, dan responsif demi menjaga stabilitas makroekonomi.”

Menurut Bhima Yudhistira, ekonom dari INDEF, stabilitas nilai tukar rupiah harus dibarengi dengan dorongan ekspor dan investasi jangka panjang. “Menjaga kurs saja tidak cukup, yang penting adalah menciptakan daya saing struktural agar ekonomi tetap tumbuh di atas 5%,” ujarnya.

Sumber kutipan: Bank Indonesia, Kemenkeu, dan INDEF.

III. Sisi Positif: Stabilitas yang Terjaga

Meskipun banyak tekanan eksternal, ekonomi Indonesia masih tumbuh stabil di angka 5,1% (yoy) pada kuartal II 2025. Konsumsi rumah tangga, pariwisata, dan sektor digital menjadi pendorong utama. Selain itu, inflasi yang terkendali dan kinerja ekspor nonmigas menunjukkan daya tahan ekonomi nasional yang cukup kuat.

IV. Penutup

Rupiah kini benar-benar berada di persimpangan. Tekanan global masih tinggi, tetapi langkah hati-hati Bank Indonesia dan pemerintah menunjukkan arah yang jelas: menjaga stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan. Jika sinergi moneter-fiskal tetap solid, ekonomi Indonesia bukan hanya bertahan — tapi bisa bangkit lebih tangguh dari sebelumnya.

Data: Bank Indonesia, BPS, Kemenkeu RI, INDE