Konten dari Pengguna

Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja di Indonesia

Selvina Nurhastuti

Selvina Nurhastuti

Saya adalah mahasiswi UPN Veteran Jakarta, program studi S1 Akuntansi. Saya adalah pribadi yang mampu berkomunikasi dengan baik, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, dan dapat bekerja sama secara tim ataupun individual.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvina Nurhastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Foto: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Foto: Pixabay.com

Jika berbicara tentang teknologi, teknologi itu tidak dapat dipisahkan oleh masyarakat. Hampir semua masyarakat menggunakan teknologi, baik orang tua, orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Teknologi dapat membantu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Dengan adanya teknologi, masyarakat menjadi mudah memperoleh informasi. Selain itu, masyarakat juga akan mudah untuk berkenalan dengan yang lain, misalnya dengan menggunakan sosial media.

Hootsuite (We Are Social) menerbitkan laporan pada bulan Februari 2022 yang berisi hasil riset mengenai pola pemakaian media sosial di beberapa negara. Menurut laporan tersebut, orang Indonesia memiliki rata-rata 197 menit sehari untuk menghabiskan waktu mengakses media sosial. Sejak tahun 2014, pengguna media sosial di Indonesia selalu naik sampai tahun 2022. Pengguna media sosial aktif di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 191,4 juta dengan persentase 68,9% dari jumlah populasi di Indonesia (2021 : 170 juta, naik 12,6%).

Jika membahas tentang tiga platform media sosial yang sering digunakan di Indonesia kita pasti berpikir jika TikTok termasuk karena semenjak adanya pandemi banyak warga Indonesia yang menggunakan TikTok untuk mengisi waktu luang dengan cara membuat konten atau hanya scroll untuk mencari hiburan, faktanya Tiktok berada di urutan keempat. Menurut laporan yang diterbitkan Hootsuite (We Are Social), tiga platform media sosial yang sering digunakan di Indonesia, yaitu WhatsApp sebanyak 88,7% dari jumlah populasi, Instagram sebanyak 84,8% dari jumlah populasi, dan Facebook sebanyak 81,3% dari jumlah populasi. Pengguna TikTok di Indonesia sebanyak 63,1% dari jumlah populasi, pada tahun sebelumnya sebanyak 38,7%.

Dampak Positif Media Sosial

Bagi remaja, media sosial dapat menjadi tempat untuk menyampaikan perasaannya, seperti nge-tweet tentang kegiatan mereka sehari-hari. Terkadang remaja hanya ingin menyampaikan perasaannya tanpa harus dihakimi oleh orang lain dan remaja butuh orang yang mendukung mereka. Makin mampu remaja untuk menyampaikan perasaannya, makin sedikit stress, kecemasan, dan depresi yang mereka alami. Hasilnya, mereka memiliki pengalaman media sosial yang positif.

Selain itu, remaja dapat memperluas pertemanannya melalui media sosial. Jarak dan waktu tidak menjadi masalah. Dengan menggunakan media sosial bisa mendapat teman yang beda pulau bahkan beda negara. Jika mendapat teman beda negara dapat menjadi tempat untuk belajar bahasa asing atau memperlancar bahasa asing yang sudah dipelajari. Remaja dapat berkenalan satu sama lain dengan menggunakan media sosial dan menemukan orang yang sepemikiran dengannya. Dari pertemanan melalui media sosial yang sepemikiran, dapat dijadikan sebagai teman dekat untuk bertukar cerita dan saling mendukung dalam keadaan sulit. Namun, bagi remaja harus tetap hati-hati dan perlu untuk menyaring pertemanan.

Media sosial juga dapat dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan kenangan. People come and go, but memories stay forever. Dengan meng-upload foto atau video ke instastory dan untuk waktu yang lama kita dapat melihat di arsip cerita. Bisa juga dengan membuat akun yang dikhususkan menyimpan kenangan untuk meng-upload foto atau video.

Dampak Negatif Media Sosial

Tidak hanya dampak positif dari media sosial, media sosial tentu memiliki dampak negatif terhadap remaja. Bermain media sosial dapat menyebabkan rusaknya manajemen waktu. Berawal dari menit tanpa disadari sampai berjam-jam. Dari hal tersebut, tanpa disadari bahwa remaja sudah kecanduan terhadap media sosial. Kecanduan media sosial dapat menimbulkan rasa malas dan menunda-nunda pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal ini menyebabkan penurunan produktivitas. Selain itu, remaja merasa cemas karena takut ketinggalan informasi yang sedang trend di sosial media. Tak heran jika banyak remaja yang begadang hanya untuk scroll sosial media.

Ketika masa remaja, seseorang merasa perlu mengembangkan harga dirinya. Remaja membuat identitas palsu di media sosial yang dimana menggambarkan diri bagaimana mereka seharusnya bukan sebenarnya. Hal ini dilakukan agar mereka disukai oleh orang lain dan menerima komentar baik tentang dirinya. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak semua unggahan di sosial media dapat dipercayai karena belum tentu aslinya seperti itu.

Sosial media hanya membagikan hal-hal yang baik dari penggunanya, dan hal ini mengakibatkan para pengikutnya merasa rendah diri, selalu merasa kurang dari orang lain. Ketika melihat kehidupan orang lain di sosial media, mudah untuk menyimpulkan bahwa kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita sendiri. Secara khusus, remaja perempuan melihat unggahan selebgram dan dia merasa tidak percaya diri terhadap tubuhnya atau bahkan ada orang yang memberikan komentar bahwa dirinya gemuk, sehingga dia melakukan program diet yang tidak sehat. Dampak diet yang tidak sehat tidak hanya menimbulkan masalah fisik, tapi juga kesehatan mental seperti memicu depresi.

Contoh lain masalah kesehatan mental remaja akibat sosial media, yaitu Social Media Anxiety Disorder yang merupakan gangguan kesehatan mental dalam bentuk obsesi. Penderita merasa kecanduan dengan akun media sosialnya, seperti selalu membuka akun media sosialnya dimanapun dan kapanpun untuk mengecek jumlah followers, like, dan komentar. Selain itu, media sosial juga dapat membuat penggunanya mengagumi dirinya secara berlebihan, ingin semua perhatian tertuju padanya, butuhnya pengakuan diri di media sosial, sulit fokus pada satu aktivitas, dan memiliki kepribadian yang berbeda antara dunia maya dengan dunia nyata.

Upaya Mengatasi Pengaruh Sosial Media Terhadap Kesehatan Mental Remaja

Kesehatan mental remaja di Indonesia karena sosial media dapat diatasi dengan cara membatasi waktu penggunaan sosial media. Berlama-lama menggunakan sosial media dapat membuat mood menjadi buruk. Hal ini dikarenakan tidak semua konten di media sosial menyajikan hal yang baik. Bisa saja konten yang dilihat dapat mengganggu pikiran. Selain membatasi waktu penggunaan, pengguna juga harus membatasi tempat penggunaan media sosial. Jika berada dalam suatu perkumpulan, misalnya acara makan malam keluarga, pengguna harus menjaga komunikasi dengan orang-orang di dunia nyata, nikmati quality time bersama keluarga.

Selain membatasi penggunaan sosial media, remaja perlu ubah rasa iri menjadi motivasi untuk lebih baik. Jika dirimu merasa insecure terhadap orang lain, jadikanlah motivasi bahwa dirimu juga bisa menjadi seperti itu atau bahkan lebih baik dari orang itu. Misalnya, kamu merasa iri karena melihat unggahan teman di media sosial yang diterima di perguruan tinggi negeri yang diinginkan, sedangkan kamu belum diterima dan berniat untuk mengulang ujian tahun depan. Kamu ubah rasa iri tersebut dan jadikan motivasi untuk belajar lebih giat untuk ujian perguruan tinggi tahun depan. Jadi, saat kamu merasa iri atau insecure, ubah mindset kamu agar dapat memacu kamu menjadi lebih baik.

Remaja juga perlu menerapkan periode detoks. Bisa dimulai dari meluangkan waktu selama 10-15 menit tanpa sosial media. Dengan melakukan itu, remaja dapat melakukan hal produktif yang lain. Hal ini juga dapat menurunkan rasa kecemasan dan depresi dari sosial media. Untuk remaja yang sering menggunakan sosial media memang agak sulit, tapi harus dilakukan untuk menjaga kesehatan mental sendiri.

Tidak lupa juga untuk selektif dalam memilih lingkaran sosial. Pada awalnya, mungkin remaja tidak memperhatikan siapa yang menjadi teman di media sosialnya. Bisa juga, akun yang dahulu di follow karena memberikan informasi yang menarik dan menghibur, sekarang tidak lagi memberikan dampak tersebut bahkan kontennya menyebalkan dan membuat mood menjadi buruk. Dari hal itu, remaja perlu untuk unfollow, mute, atau unfriend akun tersebut demi menjaga kesehatan mental yang baik. Akun media sosial adalah milik kita dan kita punya hak apa saja untuk itu. Jadi, lebih bijak lagi dalam menggunakan sosial media dan mulai sekarang ayo jaga kesehatan mental menjadi lebih baik!