Konten dari Pengguna

Bahasa Digital dan Pengaruhnya dalam Komunikasi di Era Modern

Selvy Mey Ananta

Selvy Mey Ananta

Mahasiswa S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah A.R Fachrudin

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvy Mey Ananta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi interaksi digital masa kini: aktivitas belajar, bekerja, dan bersosialisasi melalui laptop dan perangkat mobile. Sumber: ilustrasi oleh penulis menggunakan canva.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi interaksi digital masa kini: aktivitas belajar, bekerja, dan bersosialisasi melalui laptop dan perangkat mobile. Sumber: ilustrasi oleh penulis menggunakan canva.

Tahun 2025, hampir semua interaksi kita bisa berlangsung secara digital. Baik belajar, bekerja, bahkan bersosialisasi. Bahasa yang digunakan pun ikut berubah. Media sosial, grup chat, dan konten daring menciptakan ragam bahasa baru yang santai, ekspresif, bahkan kadang tak terduga.

Bahasa yang digunakan dalam dunia digital berkembang secara dinamis. Tidak hanya mengalami perubahan bentuk, tetapi juga fungsi dan cara penyampaiannya. Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai ragam bahasa digital, yakni gaya berbahasa yang khas di lingkungan daring. Bahasa ini sering kali tidak mengikuti kaidah formal, tetapi tetap dapat dipahami oleh komunitas penggunanya.

Bahasa di media digital kini tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan identitas dan gaya hidup penggunanya. Hal ini terlihat dari pilihan kata, penggunaan emoji, hingga pembentukan istilah-istilah baru dalam komunitas tertentu. Variasi bahasa tersebut menunjukkan kebebasan berekspresi di ruang digital yang terbuka dan serba cepat.

Dengan kata lain, perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga membentuk cara baru dalam menggunakan bahasa yang lebih sesuai dengan konteks, kreatif, dan lebih peka terhadap perubahan zaman.

Gaya Bahasa Digital yang Mewarnai Komunikasi Kita

  1. Bahasa Gaul yang Dinamis

    Kata-kata seperti “healing,” “auto sedih,” atau “bestie” muncul dan menyebar dengan cepat. Bahasa gaul ini tidak hanya untuk bersenang-senang, tapi juga mencerminkan identitas komunitas digital. Remaja aktif menciptakan istilah baru untuk mempererat hubungan dan mencerminkan emosi. Bahasa gaul di media digital mencerminkan bagaimana anak muda menggabungkan kreativitas, tren, dan kebutuhan emosional dalam interaksi daring. Uniknya, banyak istilah ini berasal dari pengalaman sehari-hari dan dipopulerkan melalui video pendek, meme, atau thread media sosial yang viral.

    Istilah-istilah itu cepat berubah sesuai dengan situasi. Suatu kata bisa terkenal dalam beberapa hari, lalu diganti dengan kata baru. Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa gaul digital mencerminkan budaya pop yang terus berubah.

  2. Emoji dan Simbol Jadi Bahasa Baru

    Emoji kini bukan hanya sekadar hiasan, melainkan telah menjadi bahasa emosi yang penting di dunia maya. Emoji berfungsi sebagai jembatan ekspresi dalam komunikasi virtual yang biasanya kurang mengandung gestur dan intonasi. Sebagai contoh, simbol hati bisa memiliki berbagai makna, seperti kasih sayang, dukungan, atau bahkan sarkasme, tergantung pada konteksnya.

    Penggunaan emoji kini menjadi bagian dari bahasa di dunia digital. Misalnya, gabungan beberapa emoji bisa menyampaikan makna baru yang tidak disampaikan secara langsung lewat kata-kata. Emoji mata + mulut + mata (👁️👄👁️), misalnya, sering digunakan untuk mengekspresikan keterkejutan atau keheranan dengan cara yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata.

    Selain emoji, GIF, stiker, dan reaction juga menjadi bagian dari sistem komunikasi non-verbal yang memperkuat pesan dan suasana hati dalam percakapan online.

  3. Campuran Bahasa dan Singkatan

    Kalimat seperti “Gue literally udah capek banget” merupakan contoh percampuran Bahasa Indonesia dan Inggris. Fenomena ini dikenal sebagai campur kode dan sudah menjadi bagian dari gaya komunikasi generasi muda. Penggunaan campur kode sering kali mencerminkan cara mereka membentuk identitas dan menunjukkan keakraban dalam pergaulan.

    Code mixing mencerminkan fleksibilitas dan adaptasi generasi digital terhadap pengaruh global. Bahasa Inggris sering digunakan untuk menekankan ekspresi atau memberi kesan modern dan ‘gaul’. Tak hanya itu, penggunaan singkatan seperti “LOL”, “FYI”, “OOTD”, atau “CMIIW” sudah menjadi bagian umum dalam komunikasi daring karena efisiensinya dan kemampuannya menangkap nuansa tertentu dalam waktu singkat.

Kenapa Bahasa Digital Disukai?

  • Lebih Akrab dan Ringkas

    Percakapan terasa santai dan tidak kaku. Misalnya, kata “oke sip” lebih akrab daripada “baik, saya setuju.” Bahasa digital memungkinkan interaksi terasa lebih manusiawi dan personal, meskipun berlangsung melalui layar.

    Gaya ini memudahkan pengguna merasa dekat satu sama lain, bahkan ketika belum pernah bertemu langsung. Nuansa informal inilah yang membuat komunikasi lebih cair dan mudah diterima di berbagai kalangan, khususnya generasi muda.

  • Cepat dan Efisien

    Terbatasnya ruang karakter di media seperti X (Twitter) membuat singkatan seperti “btw,” “idk,” atau “cmiiw” jadi pilihan praktis. Singkatan adalah bentuk efisiensi dalam komunikasi digital. Di dunia yang serba cepat, efisiensi menjadi kebutuhan. Selain menghemat waktu mengetik, singkatan juga memudahkan penyampaian informasi tanpa banyak mengurangi makna. Karena itu, bahasa digital menjadi sangat mudah menyesuaikan diri dengan media yang serba cepat dan tanggap.

  • Menunjukkan Kreativitas

    Bahasa digital seringkali lucu, inovatif, dan menyenangkan. Video TikTok atau caption Instagram kini tak lepas dari permainan bahasa yang kreatif dan menarik. Bentuk seperti typo yang disengaja (“capeeekkkk banget”), penggunaan huruf kapital acak (“AKu lApAR bAnGet”), atau bahasa campur gambar jadi cara unik dalam menyampaikan perasaan.

    Gaya bahasa seperti ini tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga menjadi cara mengekspresikan diri dan menunjukkan keunikan pribadi di tengah banyaknya konten digital yang serupa.

Tantangan dan Dampak yang Perlu Diwaspadai

  1. Makna Bisa Membuat Bingung

    Terkadang, pesan digital bisa disalahartikan karena tidak ada ekspresi wajah atau nada suara. Emoji pun bisa membingungkan. Kurangnya konteks dalam komunikasi digital sering kali menyebabkan interpretasi ganda, yang membuat maksud baik bisa disalahpahami.

  2. Bahasa Baku Jadi Jarang Digunakan

    Bahasa resmi kini mulai tergeser oleh bahasa santai, yang dapat memengaruhi kemampuan menulis formal di sekolah atau dunia kerja. Penggunaan media sosial turut berperan dalam penurunan pemakaian ejaan yang benar dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Bahasa Digital Tidak Selalu Dimengerti Semua Orang

    Istilah baru di media sosial sering sulit dipahami oleh orang tua atau mereka yang tidak aktif di dunia maya. Ini bisa menyebabkan kesenjangan komunikasi antar generasi. Penggunaan bahasa yang terlalu khusus membuat komunikasi digital menjadi kurang mudah dipahami oleh semua orang.

Ragam bahasa di dunia digital adalah gambaran budaya modern yang kreatif dan cepat berubah. Bahasa ini mendekatkan kita, mempercepat komunikasi, dan menciptakan ruang ekspresi yang luas. Namun, kita juga harus bijak dengan tetap menjaga bahasa baku, menghargai keberagaman bahasa, dan memastikan pesan kita bisa dipahami dengan baik.

Literasi digital bukan hanya soal menggunakan teknologi, tetapi juga soal memilih kata yang tepat, memahami situasi, dan berkomunikasi dengan sopan, terbuka, dan bertanggung jawab. Di tengah banyaknya informasi, kemampuan berbahasa yang baik tetap penting untuk membangun hubungan yang sehat, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Dengan literasi yang baik, kita bisa berkomunikasi lebih bijak dan menghindari salah paham.

Sumber Referensi

Mila Rosa Amelia, Siti Uswatun Hasanah, & Ratna Dewi Kartikasari. (2022). Ragam Bahasa Remaja dalam Media Sosial TikTok: Kajian Sosiolinguistik.

Marisa Oktaviana, Zainal Abidin Achmad, Heidy Arviani, & Kusnarto Kusnarto. (2021). Budaya Komunikasi Virtual di Twitter dan TikTok: Perluasan Makna Kata Estetik.

Ridwan Rustandi & Enjang As. (2022). Komunikasi Virtual pada Masa Pandemi Covid-19.

Syahfitri Purnama & Kasno Atmo Sukarto. (2022). Penggunaan Bahasa di Media Sosial Ditinjau dari Kesantunan Berbahasa.

Yulianto A. Saputra. (2022). Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Marketing Digital pada Platform Shopee.

Anastasia Yuni Widyaningrum. (2021). Kajian Tentang Komunitas Virtual: Kesempatan dan Tantangan Kajian di Bidang Ilmu Komunikasi.

Yanti Dwi Astuti. Tinjauan Komunikasi Virtual Melalui Sosial Media di Cyberspace.

Alda Fadhilah & Erina Pratiwi. (2021). Penggunaan Variasi Bahasa di Media Sosial Instagram “Ridwan Kamil”.

F. B. Saputra. (2021). Pengertian Aesthetic di Media Sosial.

Zainal Abidin Achmad, Heidy Arviani, & Budi Santoso. (2021). Budaya Komunikasi di Twitter dan TikTok.