Konten dari Pengguna

Seminggu Tanpa Rutinitas Kelas: Begini Cara SDN Buncitan Merayakan Kemerdekaan

Raya Desita Larasati

Raya Desita Larasati

Mahasiswa PGSD Universitas Negeri Surabaya

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raya Desita Larasati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana hari terakhir di Pekan Kemerdekaan. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Suasana hari terakhir di Pekan Kemerdekaan. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Ada yang sibuk merangkai kata, ada yang berusaha memasukkan sedotan ke dalam botol, ada yang menjaga keseimbangan sambil berjalan menggunakan balok kayu, dan ada pula yang berdiri di depan teman-temannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Selama sepekan, pemandangan seperti itu mewarnai SDN Buncitan. Ruang kelas yang biasanya dipenuhi kegiatan belajar mengajar seolah berganti fungsi menjadi ruang persiapan, sementara halaman dan berbagai sudut sekolah berubah menjadi arena perlombaan. Para siswa tidak menjalani rutinitas pembelajaran seperti biasanya. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan sekolah untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan Indonesia.

Suasana sekolah pun terasa berbeda. Sorak-sorai siswa terdengar ketika teman mereka berhasil menyelesaikan tantangan. Tawa pecah ketika sebuah percobaan tidak berjalan sesuai rencana. Guru-guru turut memberikan dukungan dari sekitar arena. Bagi siswa, pekan tersebut menjadi kesempatan untuk menikmati sekolah dengan cara yang berbeda.

Ketika Lomba Disesuaikan dengan Jenjang

SDN Buncitan menyiapkan beragam perlombaan yang melibatkan para siswa. Kegiatan berlangsung selama empat hari dengan bentuk perlombaan yang berbeda antara satu jenjang dan jenjang lainnya.

Siswa kelas 1, misalnya, mengikuti lomba merangkai kata "Indonesia". Tantangan tersebut tidak hanya mengajak siswa bermain, tetapi juga bersinggungan dengan kemampuan mereka dalam mengenali dan menyusun kata.

Memasuki kelas 2, tantangan berubah menjadi permainan yang membutuhkan ketelitian sekaligus koordinasi. Siswa harus memasukkan sedotan ke dalam botol menggunakan mulut. Di kelas 3, mereka ditantang memindahkan bola pingpong menggunakan sendok.

Siswa kelas 5 mengikuti lomba memasukkan pensil. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Sementara itu, siswa kelas 4 harus menjaga keseimbangan saat berjalan menggunakan balok kayu. Tantangan yang berbeda diberikan kepada kelas 5, yaitu memasukkan pensil ke dalam botol dengan bantuan alat pancing.

Lomba meniup gelas yang diikuti siswa kelas 6. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Di kelas 6, siswa harus meniup gelas yang bergerak sepanjang benang.

Beragamnya perlombaan membuat setiap jenjang memiliki pengalaman yang berbeda. Tidak semua permainan menuntut kecepatan. Beberapa membutuhkan konsentrasi, koordinasi gerak, ketelitian, keberanian, hingga kemampuan menyelesaikan tantangan dengan cara yang kreatif.

Kegiatan tersebut juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengikuti aktivitas sesuai alur yang telah disiapkan sekolah. Selama rangkaian berlangsung, kegiatan sekolah lebih banyak diisi dengan aktivitas non pembelajaran yang dirancang untuk memeriahkan pekan kemerdekaan.

Bagi siswa, perubahan suasana ini tentu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Mereka dapat bertemu, bermain, berkompetisi, sekaligus memberikan dukungan kepada teman-temannya. Guru-guru pun ikut mengambil bagian dengan memberikan semangat selama perlombaan berlangsung.

Dari Lomba Kelas ke Panggung Classmeeting

Suasana lomba adu penalti dalam kegiatan classmeeting. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Selain perlombaan yang disesuaikan dengan jenjang kelas, SDN Buncitan juga menghadirkan classmeeting. Kegiatan ini diikuti siswa kelas 3, 4, 5, dan 6 dengan sejumlah cabang perlombaan, mulai dari menyanyi, mendongeng, adu penalti, hingga pantomim.

Di antara berbagai cabang tersebut, pantomim menjadi salah satu yang cukup mencuri perhatian.

Pantomim bukan perlombaan yang setiap saat ditemui dalam perayaan 17 Agustus di sekolah dasar. Jika lomba pada umumnya mengandalkan kemampuan berbicara, bernyanyi, atau aktivitas fisik, pantomim justru menantang siswa untuk bercerita tanpa suara.

Peserta harus menggunakan gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Tidak ada dialog yang bisa digunakan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Karena itu, peserta tidak hanya dituntut berani tampil, tetapi juga harus mampu membuat penonton memahami cerita melalui gerakan yang mereka tampilkan.

Foto bersama peserta pantomim dalam kegiatan classmeeting. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Lomba pantomim tersebut diikuti siswa kelas 4, 5, dan 6. Sebelum tampil, para peserta mempersiapkan diri melalui latihan. Salah seorang peserta mengaku berlatih sekitar satu minggu sebelum perlombaan.

Waktu tampil di hadapan teman-teman dan guru, rasa gugup tetap muncul.

"Pas tampil deg-degan. Kalau latihan sekitar semingguan, tapi senang bisa mewakili kelas. Nggak nyangka juga bakal menang," ujar salah seorang peserta.

Ada rasa bangga karena dapat membawa nama kelas, tetapi kemenangan ternyata bukan sesuatu yang sejak awal ia bayangkan. Latihan selama sekitar satu minggu akhirnya berbuah hasil yang tidak disangka.

Salah satu penampilan peserta pantomim. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Bagi siswa yang menyaksikan, penampilan pantomim juga menjadi hiburan tersendiri. Gerakan dan ekspresi peserta membuat suasana classmeeting semakin meriah.

"Seru, lucu gitu, keren lah pokoknya," ujar salah seorang siswa yang menyaksikan.

Kemeriahan tersebut menunjukkan bahwa lomba tidak hanya menjadi ajang bagi peserta untuk berkompetisi. Siswa yang tidak tampil pun tetap menjadi bagian dari suasana melalui dukungan dan respons mereka sebagai penonton.

Bukan Sekadar Mencari Pemenang

Di balik kemeriahan perlombaan, ada tujuan lain yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut.

Salah seorang guru yang menjadi pencetus lomba menjelaskan bahwa perlombaan dapat menjadi kesempatan bagi sekolah untuk melihat potensi yang dimiliki siswa. Menurutnya, kemampuan anak tidak selalu terlihat dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Melalui kegiatan seni dan perlombaan, sekolah dapat menemukan siswa yang memiliki kemampuan tertentu untuk kemudian dikembangkan.

"Karena itu bisa dilombakan, jadi kita menjaring siapa-siapa yang punya potensi buat dikembangkan ke depannya. Iya, itu bisa untuk lomba seni, FLS2N itu," ungkapnya.

Dari kegiatan itu, panggung perlombaan 17 Agustus tidak berhenti pada penentuan juara. Penampilan siswa juga menjadi salah satu cara bagi guru dan juri untuk melihat kemampuan yang mungkin dapat dikembangkan lebih jauh.

Siswa yang terlihat memiliki potensi di bidang seni diharapkan dapat memperoleh pembinaan ketika ada kesempatan mengikuti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional atau FLS2N. Jika proses tersebut berlanjut, pengalaman tampil dalam perlombaan sekolah dapat menjadi langkah awal bagi siswa untuk mengikuti kompetisi di tingkat yang lebih tinggi dan membawa nama SDN Buncitan.

Di titik ini, lomba pantomim menjadi lebih dari sekadar hiburan. Seorang siswa yang awalnya mungkin hanya ingin mengikuti lomba untuk mewakili kelas, tanpa menyangka akan menjadi juara, ternyata juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang dapat dikembangkan.

Belajar dari Arena yang Berbeda

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman belajar siswa tidak selalu berlangsung di balik meja dan papan tulis.

Dalam satu pekan, siswa mendapatkan ruang untuk mencoba berbagai hal. Ada yang belajar berani tampil di depan banyak orang. Ada yang belajar berkonsentrasi menyelesaikan tantangan. Ada yang belajar menerima kemenangan maupun kekalahan. Ada pula yang belajar memberikan dukungan kepada teman.

Lomba merangkai kata untuk siswa kelas 1, misalnya, memberi pengalaman yang berbeda dari permainan ketangkasan untuk kelas-kelas berikutnya. Sementara classmeeting memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan seni, olahraga, dan ekspresi diri.

Perbedaan jenis lomba tersebut juga menunjukkan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk menemukan ruang yang sesuai dengan kemampuannya. Anak yang mungkin tidak menonjol dalam satu jenis kegiatan belum tentu tidak memiliki potensi. Bisa jadi kemampuannya justru terlihat ketika ia diberikan kesempatan untuk bernyanyi, mendongeng, bergerak, menggambar, atau tampil di depan orang lain.

Karena itu, semangat kompetisi dalam kegiatan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari siapa yang berdiri sebagai juara. Ada proses yang lebih panjang di baliknya: mencoba, berlatih, tampil, mendapatkan pengalaman, kemudian menemukan kemampuan yang dapat dikembangkan.

Ditutup dengan Jalan Sehat

Pembagian doorprize setelah jalan sehat. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Setelah empat hari dipenuhi berbagai perlombaan, rangkaian kegiatan pekan kemerdekaan di SDN Buncitan ditutup pada Sabtu melalui jalan sehat dan pembagian doorprize.

Jika empat hari sebelumnya siswa disibukkan dengan berbagai tantangan dan kompetisi, penutupan tersebut menjadi kesempatan untuk menikmati kebersamaan dalam suasana yang lebih santai. Siswa dan guru kembali berkumpul dalam satu kegiatan sebagai penutup rangkaian perayaan kemerdekaan.

Selama sepekan, SDN Buncitan tidak hanya menghadirkan perlombaan untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan. Sekolah juga memberikan ruang kepada siswa untuk bermain, berekspresi, berkompetisi, dan menunjukkan kemampuan mereka.

Bagi siswa, pekan tersebut mungkin akan dikenang melalui tawa, sorakan teman, rasa gugup ketika tampil, kebanggaan karena mewakili kelas, atau kejutan ketika namanya dipanggil sebagai pemenang.

Namun, bagi sekolah, ada sesuatu yang mungkin lebih berharga dari sekadar kemenangan.

Dari sebuah panggung kecil bernama lomba 17 Agustus, sekolah dapat melihat keberanian seorang anak untuk tampil. Dari gerakan pantomim, guru dapat melihat potensi seni yang mungkin belum pernah muncul sebelumnya. Dari sebuah perlombaan sederhana, bisa saja lahir langkah pertama menuju panggung yang lebih besar.

Sebab, tidak semua potensi anak terlihat ketika mereka duduk diam di dalam kelas. Terkadang, potensi itu justru muncul ketika mereka diberi kesempatan untuk bergerak, mencoba, bermain, dan berani tampil.

Dan di SDN Buncitan, pekan kemerdekaan menjadi salah satu ruang untuk menemukan hal tersebut.