Dari Pelosok Desa untuk Masa Depan Bangsa: Dinamika Pendidikan Sulawesi Tengah

Lulusan S1 Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Tadulako, Pendidikan Profesi Guru FKIP Universitas Tadulako
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sem Pakiding tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan di Provinsi Sulawesi Tengah terus menunjukkan dinamika perkembangan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai salah satu sektor strategis dalam pembangunan daerah, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman. Dalam konteks pembangunan daerah, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen utama dalam menciptakan mobilitas sosial, mengurangi kesenjangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, di balik berbagai capaian yang telah diraih, realitas pendidikan di Sulawesi Tengah masih menyimpan berbagai persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2025, Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) pada tahun 2024 mencapai 13,34 tahun (sumber: https://share.google/hENXpHC0lOf5L1x8p). Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan menjadi indikator bahwa akses masyarakat terhadap pendidikan mulai mengalami perkembangan positif. HLS merepresentasikan rata-rata lamanya pendidikan yang diharapkan dapat ditempuh oleh penduduk sejak usia dini hingga jenjang pendidikan tertentu. Peningkatan angka ini mencerminkan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan sebagai investasi masa depan. Di sisi lain, capaian tersebut juga menunjukkan adanya upaya pemerintah dalam memperluas layanan pendidikan melalui berbagai program pembangunan sektor pendidikan di daerah.
Selain itu, data Angka Partisipasi Murni (APM) di Sulawesi Tengah memperlihatkan adanya ketimpangan partisipasi pendidikan antarjenjang. Pada tahun 2024, APM tingkat SD/MI mencapai 94,84 persen, SMP/MTs sebesar 77,55 persen, dan SMA/SMK/MA sebesar 65,62 persen (sumber: https://share.google/gbqNjUYgsfz7RhuM9). Data ini menunjukkan bahwa akses pendidikan dasar relatif telah menjangkau sebagian besar masyarakat, tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan pada jenjang pendidikan menengah atas. Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa masih terdapat banyak anak usia sekolah yang belum mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Faktor ekonomi keluarga, keterbatasan akses transportasi, hingga kondisi geografis wilayah menjadi penyebab utama rendahnya partisipasi pendidikan di beberapa daerah.
Kondisi geografis Sulawesi Tengah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pemerataan pendidikan. Wilayah yang didominasi pegunungan, desa terpencil, serta akses jalan yang belum sepenuhnya memadai menyebabkan distribusi layanan pendidikan belum berjalan secara optimal. Beberapa daerah seperti Kabupaten Sigi, Donggala, dan Tojo Una-Una masih menghadapi persoalan keterbatasan akses sekolah dan tenaga pendidik. Tidak sedikit siswa yang harus menempuh perjalanan jauh demi memperoleh pendidikan yang layak. Dalam perspektif sosial, kondisi ini memperlihatkan bahwa pendidikan di daerah terpencil masih menjadi persoalan struktural yang membutuhkan kebijakan pembangunan yang lebih inklusif dan merata.
Di samping persoalan akses, kualitas sarana dan prasarana pendidikan juga masih menjadi tantangan yang nyata. Berdasarkan kondisi riil di lapangan, masih terdapat sekolah yang memiliki keterbatasan ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, hingga fasilitas teknologi informasi. Padahal, di era digital saat ini, teknologi memiliki peran penting dalam menciptakan sistem pembelajaran yang efektif, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ketimpangan fasilitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan secara tidak langsung turut memengaruhi kualitas pembelajaran yang diterima peserta didik. Oleh karena itu, pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan angka partisipasi sekolah, tetapi juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas lingkungan belajar.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, peran mahasiswa, organisasi kepemudaan, serta komunitas sosial menjadi salah satu kekuatan penting dalam membantu perkembangan pendidikan di Sulawesi Tengah. Berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, relawan pendidikan, dan gerakan sosial literasi yang dilakukan mahasiswa di daerah terpencil menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan masih tumbuh di kalangan generasi muda. Kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu proses pembelajaran anak-anak, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju perubahan sosial. Dalam konteks ini, mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai agen akademik, tetapi juga agen perubahan sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya.
Secara akademis, dinamika pendidikan di Sulawesi Tengah menunjukkan adanya perkembangan yang cukup positif, tetapi belum sepenuhnya merata. Data BPS tahun 2025 memperlihatkan bahwa akses pendidikan masyarakat terus meningkat, namun tantangan mengenai pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Pemerintah daerah perlu memperkuat pembangunan infrastruktur pendidikan, pemerataan tenaga pendidik, serta peningkatan fasilitas belajar di wilayah terpencil. Di sisi lain, masyarakat dan generasi muda juga perlu terus dilibatkan dalam membangun budaya pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi hak bagi masyarakat perkotaan, melainkan harus menjadi hak yang dapat dirasakan secara adil oleh seluruh anak bangsa, termasuk mereka yang berada di pelosok Sulawesi Tengah.
