Chevrolet Cabut dari China Setelah Berkiprah 21 Tahun

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chevrolet Groove. Foto: dok. GM Authority
zoom-in-whitePerbesar
Chevrolet Groove. Foto: dok. GM Authority

Langkah dramatis diambil General Motors (GM) di pasar otomotif terbesar dunia. Merek legendaris asal Amerika Serikat, Chevrolet, secara resmi menghentikan seluruh aktivitas penjualan ritel mobil baru di China setelah berkiprah selama 21 tahun.

Keputusan ini mengakhiri perjalanan panjang Chevrolet yang sempat mencatatkan masa keemasan di Tiongkok. Merek ini sebelumnya berhasil membukukan penjualan kumulatif hingga lebih dari 7,5 juta unit sejak pertama kali mengaspal di negara tersebut.

Kendati menyetop penjualan domestik, fasilitas manufaktur hasil kerja sama SAIC-GM tidak lantas ditutup total. Pabrik Chevrolet di China akan dialihfungsikan menjadi basis produksi ekspor untuk memenuhi permintaan pasar global, disitat Car News China.

Raksasa otomotif Amerika Serikat tersebut memilih mengalihkan fokus bisnisnya di China ke segmen kendaraan energi baru (NEV). Langkah strategi baru ini nantinya akan difokuskan melalui pengembangan lini produk lini mewah Buick dan Cadillac.

Wuling Motors Indonesia ekspor Almaz dengan emblem Chevrolet Captiva ke Thailand Foto: Ghulam M. Nayazri/kumparan

Keputusan Chevrolet menyiratkan makin ketatnya peta persaingan industri roda empat di China. Dominasi merek lokal yang agresif menggempur pasar dengan mobil listrik murah berfitur canggih membuat prinsipal asing kian terdesak.

Fenomena hengkangnya merek global dari pasar Tiongkok ini sejatinya bukan hal baru. Merek kenamaan lain seperti Mitsubishi dan Jeep sebelumnya juga telah angkat kaki akibat angka penjualan yang merosot signifikan.

Hingga kini, tren dominasi mobil listrik buatan pabrikan lokal diprediksi bakal terus menekan estimasi pangsa pasar pabrikan tradisional di China. Kondisi ini memaksa sejumlah merek otomotif global untuk menghitung ulang strategi bisnis mereka di sana.