Gaikindo Incar Perluasan Ekspor Otomotif, Siasati Pasar Domestik yang Stagnan

Tantangan yang dihadapi pasar otomotif domestik saat ini memaksa asosiasi dan pelaku industri, untuk memaksimalkan penyerapan produksi tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, melainkan juga ekspansi ekspor.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai bahwa penetrasi ke pasar internasional menjadi kunci strategis saat daya beli konsumen lokal masih tertekan. Sekaligus untuk memaksimalkan utilitas fasilitas produksi di Tanah Air.
Sekretaris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara mengungkapkan bahwa potensi industri otomotif nasional sebetulnya masih sangat besar untuk terus berkembang. Performa ekspor mobil sepanjang tahun 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif.
"Di tengah kondisi domestik yang memang masih belum pulih, kita dapat blessing yakni ekspor kita meningkat 518 ribu unit (2025) CBU (Completely Built Up). Ini sesuatu yang belum pernah kita capai," kata Kukuh ditemui di Menteng, Jakarta (31/8/2026).
Total kendaraan roda empat atau lebih lansiran Indonesia dalam keadaan utuh selama Januari hingga Juli 2026 angkanya 293.547 unit, atau meningkat sebesar 3,5 persen dibanding periode yang sama 2025 dengan catatan 283.708 unit.
Bila melihat performa tahunan, total ekspor kendaraan roda empat atau lebih dalam bentuk CBU tahun lalu detailnya 518.212 unit. Sementara sepanjang 2024 jumlahnya 472.194 unit, 2023 totalnya 505.134 unit, dan 2022 sebanyak 473.602 unit.
Namun memang, bila menilik data secara bulanan, capaian Juli 2026 sejumlah 41.849 unit sejatinya melandai 5,9 persen dibanding bulan sebelumnya yang mampu cetak angka 44.476 unit. Begitu juga dilihat secara tahunan, turun 16,4 persen dibanding Juli 2025.
Kukuh menjelaskan bahwa peluang ekspansi ke pasar global sangat bergantung pada kepercayaan pemegang merek utama di tingkat internasional. Restu dari prinsipal global serta kesiapan fasilitas manufaktur di dalam negeri menjadi syarat mutlak agar alokasi ekspor bisa terus ditambah.
"Kalau kita bisa ekspor, ditambah domestik bisa mencapai satu juta unit juga, itu kan sesuatu yang positif. Beberapa negara tujuan ekspor juga sangat tertarik dengan produk-produk Indonesia," ungkapnya.
Peningkatan volume ekspor ini secara langsung berpotensi mendongkrak pemanfaatan kapasitas produksi pabrik otomotif di Indonesia yang secara total mencapai 2,6 juta unit per tahun. Saat ini, tingkat keterpaksaan fasilitas manufaktur domestik tercatat baru terisi sekitar 60 persen.
Gaikindo pun menekankan pentingnya kehadiran merek-merek otomotif baru agar tidak sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar komoditas semata. Kehadiran produsen baru diharapkan mampu membawa dampak berganda melalui penguatan rantai pasok lokal dan penyerapan tenaga kerja.
"Harapannya kalau industrinya masuk ke sini, industrinya juga mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi kita. Jangan kemudian Indonesia hanya dijadikan pasar tanpa mendorong industrinya," kata Kukuh.
Peningkatan daya saing produk serta kepastian regulasi investasi jangka panjang dinilai bakal memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi otomotif di kawasan regional. Langkah ini diyakini sanggup mendorong pergerakan ekonomi nasional sekaligus memperluas jangkauan pasar ekspor di masa mendatang.
"Negara-negara Amerika Latin sekarang diminati cukup tinggi, untuk Asia kita salah satu yang masih paling besar adalah Filipina," pungkas Kukuh.
