Modus Pura-Pura Mobil Rusak Kembali Marak, Jangan Asal Tepikan Kendaraan

Salah satu pengguna media sosial Threads (@studio.art19) membagikan cerita saat mengalami insiden pencurian barang ketika sedang berkendara mobil. Modusnya, sekelompok pemotor pura-pura memberi tahu ada sesuatu yang tidak beres pada kendaraannya.
"Saya dikecoh secara psikologis dengan modus kasih tahu trouble mobil. Saya turun, lalu mereka ambil barang dari dalam kabin. Tas kerja berisi laptop dan barang berharga lainnya," urai pemilik akun tersebut.
Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu mengatakan pola kejahatan yang mengincar pengendara mobil seperti itu sudah ada sejak lama. Meski caranya berbeda-beda, namun disebutnya polanya serupa.
"Biasanya melibatkan beberapa orang, pakai motor untuk membagi secara tim yang mendistraksi korban dan satu bertugas eksekusi menjarah harta korbannya," buka Jusri saat dihubungi kumparan, Selasa (27/10).
Untuk itu Jusri mengimbau kepada pengendara mobil, terutama yang kerap mengemudi sendirian untuk memegang prinsip defensive driving yang dipadukan dengan kesadaran personal security. Mengemudi tidak sekadar fokus pada keselamatan, tetapi juga keamanan diri sendiri.
"Modus kejahatan dapat berubah, tapi prinsip pencegahannya tetap sama. Pengemudi harus memiliki kesadaran situasional, mampu membaca potensi ancaman, kemudian tidak melakukan keputusan secara spontan atau impulsif," jelasnya.
Guna menangkal aksi kejahatan di jalan, pengemudi disarankan memegang tiga pilar utama keselamatan, yakni situational awareness (kesadaran situasional), risk assessment (penilaian risiko), dan risk control (pengendalian risiko).
"Kesadaran situasional atau situational awareness artinya kita sebagai pengemudi harus mampu mengenali situasi-situasi yang tidak wajar. Termasuk orang-orang yang berusaha mengalihkan perhatian atau memaksa kendaraan kita berhenti," imbuh Jusri.
Tahap berikutnya adalah melakukan penilaian risiko terhadap setiap provokasi atau intimidasi dari orang asing di jalan. Keputusan untuk menepi tidak boleh diambil secara spontan hanya karena gertakan dari orang lain atau pihak luar.
"Intinya, segala sesuatu yang mengintimidasi, mendireksi, memprovokasi, atau seakan-akan menginformasikan dari orang-orang yang tidak dikenal, jangan melakukan tindakan secara spontan. Evaluasi situasi itu!" tegas Jusri
Langkah terakhir adalah pengendalian risiko dengan selalu memprioritaskan keselamatan jiwa di atas kerugian materiil. Jika terpaksa harus berhenti, pengemudi wajib memilih lokasi yang ramai dan aman seperti kantor polisi atau SPBU.
"Prioritas kan keselamatan jiwa, itu prioritas utama! Keselamatan kita dan penumpang merupakan prioritas kita dibandingkan properti kita. Kalau perlu berhenti, cari tempat aman. Jangan berhenti sembarangan atau spontan," pungkas Jusri.
