Orang Indonesia Ganti Motor Tiap 4-5 Tahun, Penjualan Terus Tumbuh

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga berjalan saat kepadatan lalu lintas di DI Panjiatan, Jakarta, Senin (6/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga berjalan saat kepadatan lalu lintas di DI Panjiatan, Jakarta, Senin (6/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Tingginya populasi kendaraan roda dua di Indonesia sering kali memicu persepsi bahwa pasar sepeda motor sudah berada di titik jenuh. Namun penjualan segmen ini nyatanya masih sangat berkontribusi terhadap industri otomotif nasional.

Dibanding sektor roda empat atau lebih beberapa tahun terakhir, penjualan sepeda motor lima tahun belakangan sejak pandemi Covid-19 konsisten meningkat. Rasio kepemilikan moda transportasi andalan masyarakat Indonesia ini sangat sesak.

"Density sepeda motor itu banyak perhitungannya. Ada kalau kita hitung density selama 10 tahun itu 1 banding 4, artinya (setiap) empat orang (punya) satu motor dari populasi 10 tahun," kata Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Yosef Suparman di temui di Jakarta, Jumat (30/10).

Yosef bilang, selain masih memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat luas, penyerapan sepeda motor di Tanah Air yang masih tinggi juga disumbang dari siklus penggantian unit terbilang tinggi dan sering.

Skutik new Honda ADV 160 tampil di IMOS 2025. Foto: dok. AHM

"Tapi kalau kita hitung populasi dari jumlah populasi Indonesia ya sudah 1 banding 2 lebih, lah. Tapi itu kita meyakini bahwa orang kan berganti ya. Konsumen berganti motor, cycle gantinya itu sekitar 4 sampai 5 tahun orang berganti motor," terangnya.

Dirinya menambahkan, perilaku konsumen yang rutin memperbarui kendaraan mereka dalam rentang waktu yang terbilang terukur menciptakan pasar yang sangat dinamis. Pola ini membuat industri tidak hanya mengandalkan pembeli pertama (first-time buyer), melainkan juga daya serap dari pemilik kendaraan lama.

"Dua segmen ini replacement utamanya, dan juga new entrance (pembeli baru), itu yang kita bidik," pungkas Yosef.

Setelah lebih dari satu dekade, AISI optimistis penjualan sepeda motor tahun ini bakal mampu melampaui capaian 6,5 juta unit. Artinya kembali jadi yang tertinggi sejak 2015 silam pada angka sekitar 6,4 juta unit.

Warna baru motor skutik Yamaha Grand Filano di IMOS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparan

Hingga September 2026, penyaluran sepeda motor dari pabrik ke diler (wholesales) sudah mencapai 5.016.421 unit. Ketua Umum AISI, Thomas Wijaya mengatakan bahwa industri sepeda motor menunjukkan iklim pasar yang kian bergairah.

"Sampai September 2026, AISI mencatatkan penjualan sepeda motor sebanyak 5.16 juta unit atau naik 3,7 persen dibanding periode yang sama 2025 lalu," buka Thomas saat sambutan konferensi pers Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2026 di Jakarta, Jumat (30/10).

Bila target minimal 6,5 juta terwujud, Thomas bilang hasil tersebut akan melewati catatan 2015 dengan total 6.480.155 unit. Setelahnya sempat melandai pada level sekitar 5 juta unit per tahun, kemudian pada 2018 dan 2019 melonjak lagi menjadi sekitar 6 juta unit.

"Tahun ini mencapai rekor baru. Harapannya dengan IMOS tahun ini bisa menjadi tonggak menggairahkan market kembali di 2027 tentunya," jelasnya.

Sebelumnya, AISI mengungkapkan bahwa sepeda motor masih menjadi alat transportasi untuk mobilitas masyarakat luas yang paling relevan. Selain untuk konsumsi pribadi, moda ini turut terserap untuk dimanfaatkan di sektor komersial.

Sepeda motor memiliki peran berganda, asosiasi bilang manfaatnya tak hanya sebagai alat untuk berpindah dari dan ke lokasi lain. Namun, nilai gunanya sudah lebih dalam untuk kebutuhan lainnya seperti aktivitas bisnis.