Pasar Otomotif Tertekan, Industri Minta Ekonomi Nasional Mampu Tembus 6 Persen

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Antusiasme pengunjung dalam pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS). Foto: Dok. Gaikindo
zoom-in-whitePerbesar
Antusiasme pengunjung dalam pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS). Foto: Dok. Gaikindo

Pasar kendaraan roda empat atau lebih di Indonesia dinilai masih mengalami stagnasi dan belum mampu melompat dari kisaran penjualan satu juta unit per tahun. Bahkan, beberapa tahun terakhir perolehannya cenderung menyusut.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menilai laju pertumbuhan ekonomi nasional menjadi kunci utama untuk mendongkrak daya beli masyarakat terhadap produk mobil dan kendaraan baru.

Sekretaris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara bilang industri otomotif domestik membutuhkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 6 persen. Tanpa capaian indikator makro tersebut, volume penjualan kendaraan diprediksi akan terus tertahan pada level serupa.

"Data kita menunjukkan kalau ekonominya mendekati 6 persen itu penjualan mobil meningkat. Nah, kalau selama ekonominya masih main di 5 persenan, ya itu kemudian stagnan," kata Kukuh ditemui di kantor Gaikindo, Menteng, Jakarta (31/8/2026).

Sekretaris Umum Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), Kukuh Kumara. Foto: Sena Pratama/kumparan

Kondisi stagnasi ini tecermin dari tren penjualan yang belum mampu beranjak naik dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, penjualan mobil baru nasional tercatat berada di angka 835 ribu unit, sebelum kembali mengalami penurunan menjadi 800 ribu unit pada 2025.

Pencapaian tersebut menempatkan rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih berada di angka 99 unit per 1.000 penduduk. Figur ini dinilai jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia.

"Malaysia yang ekonominya lebih bagus rasio kepemilikannya sudah 490 mobil per 1.000 penduduk. Sementara Thailand dengan penduduk 70 jutaan rasio kepemilikannya 270-an mobil, kita masih 99 mobil per 1.000 penduduk," imbuh Kukuh.

Selain dorongan ekonomi makro, industri otomotif juga dihadapkan pada tertekan daya beli masyarakat kelas menengah yang menjadi basis konsumen potensial. Melebarnya jurang antara kenaikan pendapatan harian dan kenaikan harga kendaraan baru membuat sebagian besar konsumen menunda pembelian.

Gaikindo menilai pemulihan ekonomi secara menyeluruh menjadi syarat mutlak agar pasar otomotif domestik dapat berkembang optimal. Penguatan daya beli masyarakat diyakini akan secara otomatis mendongkrak kembali volume penjualan kendaraan baru di Tanah Air.

Penjualan mobil dari pabrik ke diler (wholesales) bulan Juli 2026 mencapai 81.115 unit, atau melesat 4,5 persen dibanding bulan sebelumnya yang berada pada angka 77.603 unit. Pun secara year on year (YoY), naik 33,3 persen dari 60.837 unit pada Juli 2025.

Vice Chairman Market Development Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, menilai kenaikan penjualan pada Juli menjadi sinyal positif bagi industri otomotif. Ia melihat pergerakan pasar mulai membaik setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami tekanan.

"Penjualan sekitar 81.115 (unit), lumayan tadinya sekitar 77 ribu kan bulan Juni? Kalau dilihat memang trennya membaik, pertumbuhan ekonomi juga membaik dan lain-lain," buka Jongkie ketika ditemui di ICE BSD, Tangerang belum lama ini.

Menkeu Purbaya bidik target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui usai rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan di Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Sebelumnya Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan target pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2027. Proyeksi tersebut diselingi dengan upaya menjaga kesehatan dan keberlanjutan fiskal, dengan defisit RAPBN 2027 diusulkan sebesar 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Dia menjelaskan bahwa RAPBN 2027 dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat, di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Karena itu, setiap rupiah APBN harus memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat dan mendukung tercapainya cita-cita pembangunan nasional. Pada saat yang sama, keberpihakan kepada rakyat harus berjalan seiring dengan disiplin dan keberlanjutan fiskal. Karena APBN tahun 2027 kita rancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih cepat dengan tetap menjaga kesehatan APBN,” kata Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR RI, Kamis (27/8/2026).

Target 6 persen tersebut dipasang setelah ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29 persen pada kuartal II 2026, yang didorong investasi dengan pertumbuhan 6,87 persen. Secara semester I 2026, ekonomi tumbuh 5,45 persen.