Pengamat: Insiden Truk di Bekasi Cerminkan Pola Berulang Tanpa Solusi Konkret

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro. Foto: Dok. Istimewa

Insiden lalu lintas yang melibatkan kendaraan angkutan berat seperti truk kembali menjadi sorotan tajam publik dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena fatalitas di jalan raya ini dinilai sudah bukan lagi sekadar permasalahan teknis mekanis pada kendaraan semata.

Pada Senin (29/6) pagi, insiden maut terjadi di Jalan Cut Meutia, tepatnya di lampu merah Simpang Unisma, Bekasi Timur. Melibatkan sebuah truk yang menabrak mobil dan motor yang tengah menunggu rambu lalu lintas lampu merah di persimpangan.

Penyelidikan awal, pemicu kejadian tersebut berawal dari sistem rem truk yang tak berfungsi sebagaimana mestinya. Pengakuan pengemudi, sekitar 50 hingga 100 meter sebelum lokasi kejadian truk tidak dapat melakukan perlambatan sehingga terjadinya tabrakan.

Melihat lokasinya, peristiwa tersebut hampir serupa dengan rentetan kasus kecelakaan di wilayah lain yakni Gerbang Tol Ciawi. Karakteristiknya hampir sama, yakni ujung dari jalan menurun merupakan titik berkumpulnya kendaraan (gerbang tol dan lampu merah).

instagram embed

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menilai kasus tersebut bukan sekadar kejadian nahas semata. Tetapi, pola yang menunjukkan lemahnya keselamatan transportasi dalam negeri.

"Secara teknis, rem blong hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Rem blong lebih sering merupakan indikator buruknya budaya pemeliharaan armada daripada penyebab utama itu sendiri," ujar Yannes kepada kumparan, Selasa (30/6/2026).

Dirinya menambahkan bahwa lemahnya pengawasan sepanjang siklus hidup kendaraan turut memperparah kondisi di lapangan. Ditambah lagi, tekanan bisnis yang ketat sering kali membuat pengusaha angkutan longgar terhadap aspek investasi keselamatan dan pemeliharaan unit.

"Dalam kondisi margin usaha yang ketat, biaya pemeliharaan sering dipandang sebagai beban perusahaan, bukan investasi keselamatan truk sebagai aset. Ini sebuah bentuk egoisme dan ketidakpedulian pengusaha angkutan," ucap Yannes.

Ilustrasi kecelakaan truk. Foto: Timofeev Vladimir/Shutterstock

Di sisi lain, minimnya kompetensi dan sertifikasi praktis bagi para pengemudi truk juga menjadi mata rantai krusial yang belum terselesaikan. Banyak sopir yang belum dibekali kemampuan mendalam untuk mengenali gejala awal kerusakan sistem rem maupun teknik pengereman darurat yang benar.

"Masalah berikutnya adalah pengawasan yang cenderung lebih bersifat administratif daripada berbasis kondisi kendaraan. Uji KIR memang diwajibkan, tapi inspeksi periodik belum mampu menjamin bahwa kendaraan yang setiap hari beroperasi tetap berada dalam kondisi laik jalan," tutur Yannes.

Kasus kecelakaan seperti itu, Yannes bilang turut membuka kembali bagaimana regulator sejatinya belum menyelesaikan akar masalah dari keselamatan transportasi darat. Setiap insiden, hanya direspons secara proaktif.

"Akibatnya, Indonesia mengalami siklus kecelakaan yang berulang, ya. Kendaraan tidak laik jalan tetap beroperasi, pengawasan kurang efektif, kecelakaan besar terjadi, investigasi dilakukan, korban mendapat santunan, lalu aktivitas kembali berjalan tanpa perubahan mendasar," tandasnya.