Prime Time Masih Sakti? Mengukur Kembali Waktu Emas Televisi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Senia Aprianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, menonton televisi identik dengan menunggu. Penonton harus menyesuaikan waktu luangnya dengan jadwal program yang ingin ditonton. Kalau ingin menonton sinetron, acara musik, berita, atau program hiburan lainnya, penonton harus menunggu sampai acara tersebut tayang. Karena itu, pemilihan waktu tayang menjadi salah satu hal penting dalam strategi televisi.
Salah satu waktu yang paling dikenal dalam dunia televisi adalah prime time. Secara sederhana, prime time merupakan waktu ketika jumlah penonton televisi cenderung tinggi sehingga menjadi waktu yang strategis untuk menayangkan program unggulan. Tidak heran jika berbagai stasiun televisi menempatkan program-program andalannya pada waktu tersebut.
Namun, kebiasaan penonton sekarang sudah mengalami perubahan. Kehadiran YouTube, TikTok, Netflix, dan berbagai platform digital lainnya membuat masyarakat tidak harus menunggu sebuah program pada jam tertentu. Mereka dapat memilih sendiri apa yang ingin ditonton dan kapan ingin menontonnya.
Lalu, apakah prime time masih menjadi “waktu emas” bagi televisi?
Prime Time Bukan Sekadar Jam Tayang
Dalam mata kuliah Programming Media, penyusunan program televisi tidak hanya berbicara mengenai program apa yang akan dibuat. Ada berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan, salah satunya adalah scheduling atau penjadwalan program.
Menurut Eastman dan Ferguson dalam Media Programming: Strategies and Practices, programming berkaitan dengan bagaimana media memilih, menyusun, dan mengelola program agar sesuai dengan kebutuhan audiens sekaligus tujuan media. Dengan demikian, penentuan jadwal merupakan bagian dari strategi programming.
Dari sini dapat dipahami bahwa prime time tidak muncul begitu saja. Ada pertimbangan mengenai kebiasaan penonton, karakteristik audiens, jenis program, hingga persaingan dengan program lain.
Misalnya, program hiburan yang memiliki target penonton keluarga akan lebih masuk akal jika ditempatkan pada waktu ketika anggota keluarga sudah selesai melakukan aktivitas utama mereka. Sementara itu, program dengan target audiens tertentu dapat memiliki waktu tayang yang berbeda sesuai dengan kebiasaan target tersebut.
Artinya, programmer perlu mengenal audiens sebelum menentukan jadwal. Program yang bagus belum tentu mendapatkan respons yang baik jika ditempatkan pada waktu yang kurang sesuai dengan target penontonnya.
Ketika Penonton Tidak Lagi Menunggu
Perubahan terbesar dalam pola menonton terjadi ketika penonton mulai memiliki lebih banyak kendali.
Jika dulu stasiun televisi menentukan kapan sebuah program dapat ditonton, sekarang penonton dapat menentukan sendiri waktu menontonnya. Mereka bisa membuka YouTube ketika sedang ingin menonton video tertentu, mencari konten di TikTok ketika memiliki waktu luang, atau memilih film dan serial melalui layanan streaming.
Kondisi ini membuat konsep scheduling televisi menghadapi tantangan baru.
Penonton tidak lagi selalu berpikir, “Jam berapa acara ini tayang?” tetapi bisa berubah menjadi, “Kapan saya mau menontonnya?”
Perubahan sederhana tersebut sebenarnya cukup penting dalam dunia programming. Televisi yang sebelumnya memiliki kendali terhadap waktu tayang harus berhadapan dengan media yang memberikan fleksibilitas lebih besar kepada penonton.
Persaingan Tidak Lagi Hanya Antarstasiun Televisi
Dahulu, ketika sebuah stasiun televisi menyusun jadwal prime time, persaingan utamanya adalah dengan stasiun televisi lain. Jika satu stasiun menayangkan sinetron populer, stasiun lain harus mempertimbangkan program apa yang akan ditempatkan pada waktu yang sama.
Sekarang, persaingannya menjadi lebih luas.
Sebuah program televisi bukan hanya bersaing dengan program dari stasiun lain, tetapi juga dengan konten YouTube, TikTok, film streaming, podcast, dan berbagai bentuk hiburan digital lainnya.
Bahkan, penonton bisa berpindah platform hanya dalam hitungan detik. Ketika sebuah program televisi dianggap kurang menarik, penonton dapat mengambil ponsel dan mencari hiburan lain.
Hal ini membuat perhatian penonton menjadi sesuatu yang semakin sulit dipertahankan.
Bagi programmer, kondisi tersebut berarti pemilihan program dan jadwal saja tidak cukup. Program juga perlu memiliki daya tarik yang mampu membuat penonton memilihnya di tengah banyaknya pilihan.
Apakah Prime Time Masih Relevan?
Menurut saya, prime time masih relevan, tetapi maknanya tidak bisa lagi disamakan dengan kondisi televisi pada masa lalu.
Prime time tetap menjadi bagian penting dari strategi televisi karena waktu tayang dapat memengaruhi kesempatan sebuah program untuk bertemu dengan audiensnya. Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh apakah program tersebut ditayangkan pada jam yang ramai.
Programmer perlu melihat lebih jauh: siapa target audiensnya, bagaimana kebiasaan mereka, apa yang sedang mereka minati, serta media apa yang mereka gunakan.
Di sinilah konsep audience research menjadi penting dalam Programming Media. Programmer tidak bisa hanya mengandalkan asumsi bahwa semua orang akan menonton televisi pada waktu yang sama.
Perubahan perilaku penonton membuat strategi programming harus semakin fleksibel. Sebuah program juga dapat dikembangkan melalui platform digital agar hubungan dengan audiens tidak berhenti ketika siaran televisi selesai.
Dari Prime Time ke Prime Attention
Mungkin sudah waktunya kita melihat prime time dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.
Jika dulu yang paling penting adalah mendapatkan penonton pada jam tertentu, sekarang tantangannya adalah mendapatkan perhatian penonton di mana pun mereka berada.
Konsep ini bisa disebut sebagai prime attention, yaitu bagaimana sebuah program mampu menarik perhatian audiens di tengah banyaknya pilihan media. Jam tayang tetap penting, tetapi perhatian penonton menjadi semakin berharga.
Sebuah program televisi bisa saja memiliki jadwal yang strategis, tetapi jika tidak mampu menarik perhatian audiens, jadwal tersebut tidak akan banyak membantu.
Karena itu, programming di era digital tidak hanya tentang kapan program ditayangkan, tetapi juga bagaimana program tersebut dibuat, kepada siapa program ditujukan, dan bagaimana program dapat menjangkau audiens di berbagai platform.
Televisi Harus Beradaptasi
Pada akhirnya, perkembangan platform digital bukan berarti prime time harus ditinggalkan. Justru, perubahan tersebut menunjukkan bahwa televisi perlu semakin cermat dalam menjalankan strategi programming.
Penonton saat ini memiliki lebih banyak kebebasan untuk menentukan apa yang ingin mereka konsumsi. Mereka tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga memiliki kontrol lebih besar terhadap waktu dan pilihan tontonan.
Karena itu, televisi perlu memahami bahwa mempertahankan penonton bukan hanya soal menempatkan program unggulan pada jam prime time. Ada proses membaca audiens, memilih program, menyusun jadwal, melakukan promosi, dan memanfaatkan berbagai platform untuk mempertahankan hubungan dengan penonton.
Jadi, apakah prime time masih sakti?
Jawabannya mungkin bukan tentang masih atau tidaknya kekuatan sebuah jam tayang. Yang lebih penting adalah bagaimana televisi memahami perubahan penontonnya.
Karena di era ketika penonton bisa memilih apa saja dan kapan saja, waktu emas televisi bukan lagi sekadar soal jam tayang, tetapi tentang bagaimana merebut perhatian penonton.
