Konten dari Pengguna

Omong Kosong Kesejahteraan ASN

Sepri

Sepri

ASN Kabupaten Aceh Tenggara

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sepri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketimpangan kesejahteraan ASN. Sumber : Rekayasa ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ketimpangan kesejahteraan ASN. Sumber : Rekayasa ChatGPT

Banyak orang berpikir bahwa dengan menjadi ASN, baik itu Pegawai Negeri Sipil Maupun PPPK akan menjadikan hidupnya lebih sejahtera dan berlimpah uang. Namun pada kenyataannya asumsi seperti itu benar – benar salah besar. ASN yang sejahtera mayoritas hanyalah ASN Pusat seperti Kementerian dan Lembaga Tinggi Negara, dan ironisnya ASN daerah yang jumlahnya lebih banyak dari ASN Pusat tidak mendapatkan kesejahteraan yang seimbang dengan ASN Pusat.

Masalah seperti ini telah bertahun – tahun terjadi dan tidak ada solusi konkret dari pihak – pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Maka dari itu tak mengherankan bahwasannya kebanyakan dan ASN Daerah selalu menggadaikan SK nya ke bank dan mendapatkan uang dengan mudah dari hal tersebut. Bukan saja menggadaikan SK, praktek – praktik kotor juga banyak terjadi di daerah seperti korupsi kecil – kecilan, mengurus sesuatu harus pakai uang, hingga jual beli jabatan. Hal – hal kotor seperti ini terjadi salah satunya karena ketimpangan pendapatan ASN yang sangat berbeda antara Pusat dan Daerah.

Memang praktik kotor yang terjadi di daerah memiliki banyak penyebab namun jika masalah ketimpangan pendapatan antara ASN Pusat dan Daerah segera dicarikan solusinya, maka hal hal kotor seperti di atas dapat diminimalisir dan secara perlahan bisa dihilangkan. Fakta tentang ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan tersebut semakin ditegaskan dengan kebijakan efisiensi gila – gilaan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Padahal efisiensi yang dilakukan hanya menambah penderitaan Pemerintah Daerah sedangkan Pemerintah Pusat masih dengan enaknya menikmati berbagai kemewahan.

Sebagai seorang ASN, tentu saja saya merasa sedih dengan fakta ini, apalagi saya sebagai ASN Daerah benar – benar merasakan adanya ketidakadilan dalam hal kesejahteraan ASN. Masyarakat, yang sebagian dikenal dengan SDM rendah pun banyak yang mencaci maki apabila ada rencana pemerintah untuk menaikkan gaji ASN. Seolah - olah mereka tidak sadar bahwa makian dan cacian mereka telah membuat banyak ASN yang patah hati dan kecewa. Jika hal - hal seperti ini selalu dipelihara dan tidak dicarikan solusinya oleh pengambil kebijakan yang ada di Jakarta.

Sebagai seorang ASN saya sadar akan banyak paradoks tentang kesejahteraan ASN ini. Seperti akan ada yang berpikir percuma ASN sejahtera tapi pekerjaan mereka tidak selesai, kerjaan mereka cuma absen lalu duduk berjam jam di kedai kopi. lalu akan ada juga yang berpikir bahwa kesejahteraan ASN akan berdampak pada kinerja mereka dan pelayanan publik yang maksimal. Intinya adalah apa pun kebijakan yang dilakukan oleh pengambil kebijakan yang ada di Jakarta, orang pertama yang merasakannya adalah ASN entah itu dampak positif atau negatif.

Dampak dari ketimpangan kesejahteraan antara ASN Pusat dan Daerah dapat dilihat dari banyaknya ASN, terutama ASN Daerah yang mencari pekerjaan sampingan. Baik itu pekerjaan sampingan yang positif maupun negatif. Pekerjaan sampingan positif yang banyak dilakukan ASN seperti jualan online, membuat konten di platform media sosial hingga berjualan kecil-kecilan seperti UMKM. Daripada itu ada juga ASN nakal yang melakukan kerjaan sampingan yang tidak baik seperti judi online, ikut pinjaman online, hingga suap menyuap terkait pengurusan berkas untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Fakta mengejutkan lainnya mengenai ketimpangan kesejahteraan ASN adalah mengenai besarmya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dari anak yang orangtuanya adalah ASN. Universitas masih kolot berpikir bahwa semua ASN di Indonesia Raya ini kaya raya semuanya, tapi mereka salah besar. Mereka hanya ingin memeras uang dari para ASN agar universitas mereka bertambah kaya dan sejahtera. Begitu menyedihkannya fakta mengenai hal ini. Dan dampak negatifnya banyak para ASN pada akhirnya kembali meminjam dan terus meminjam dari bank demi memenuhi kebutuhan hidup keluargnya termasuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) anaknya.

Pada akhirnya, yang ingin saya sampaikan bahwa ini adalah masalah. Masalah yang besar dan perlu dicarikan solusinya. Saya tidak punya solusinya. Solusi dari permasalahan ini harusnya dipikirkan oleh para pejabat-pejabat yang ada di Jakarta. Seperti kata Pandji Pragiwaksono, mereka dipilih oleh rakyat bukan untuk duduk-duduk saja, tapi untuk mencari solusi dari permasalahan-permasalahan yang di rasakan dan dialami oleh rakyat Indonesia. Dengan seimbangnya kesejahteraan dan pendapatan ASN baik di Pusat dan Daerah, akan tercipta stabilitas dan peningkatan kualitas dari kinerja ASN di seluruh Indonesia yang akan berdampak pada kemajuan Indonesia dan daripada itu praktik-praktik negatif yang dilakukan oleh beberapa oknum ASN akan bisa dihilangkan.

Untuk saat ini yang bisa dilakukan oleh banyak ASN Daerah hanyalah bersabar dan berusaha dengan sekuat tenaga mencari tambahan-tambahan penghasilan lainnya yang halal dan tidak mengganggu kinerja di kantor masing-masing.