Ratna Riantiarno, dari Film Hingga Teater

Saya seorang mahasiswa asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat ini saya merantau jauh dari ayah dan ibu di Sumatra. Harapan saya semoga bisa jadi PNS suatu saat nanti.
Tulisan dari Septara Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teater bukanlah suatu hal yang baru lagi di dunia pertunjukkan. Sebagai sebuah seni bebas, teater bisa membantu pemahaman penonton terhadap semesta dan dunia yang kita tinggali sekarang ini. Sebagai seni teater adalah sebuah objek merupakan kombinasi dari berbagai bentuk seni. Dengan teater persepsi kita dibantu, dipapah satu persatu. Teater sebagai bentuk seni ini bersifat tidak natural, karena diciptakan, misalkan sebuah contoh lakon atau pertunjukkan adu senjata. Di kehidupan nyata kegiatan adu pedang bisa melukai bahkan membunuh. Tapi ketika hal ini di set di atas panggung, permainan dengan senaja dimainkan, tidak ada kegiatan yang bisa melukai, sebab sudah direncanakan. Berbicara mengenai tetaer maka tak lengkap jika tidak berisinggungan langsung dengan tetaer yang masih eksis hingga hari ini, tulisan ini sedikit banyaknya membahas Teater Koma dan sosok perempuan tangguh yang ada di dalamnya.
Berkenalan dengan Ratna Riantiarno
Tak asing bagi kita para penikmat film tanah air mendengar nama beliau. Berawal dari seorang penari Bali yang mengantarkannya keliling dunia kemudian merambat kedunia teater hingga sekarang yang masih tetap aktif di dunia perfilman. Perempuan berdarah Manado yang lahir 68 tahun lalu merupakan istri dari Robertus Riantiaro atau yang kita kenal Nano Riantiarno, salah satu pionir Tetater Koma. Ratna bersama teman-temannya termasuk Nano saat itu tergerak hatinya untuk mendirikan Tetater Koma pada 1 Maret 1977. Koma (,) dipilih sebegai simbol keberlanjutan dan pengharapan. Ibu tiga orang anak ini dikutip dari Pesona.id menyatakan alasannya mau dan tetap menggeluti dunia teater, berawal dari tahun 70-an masa-masa di mana teater masih sangat hangat dan ramai diperbincangkan, sebelum memilih bergabung ke Teater Kecil beliau mengatakan pula sudah mengenal banyak orang-orang teater, di teater menurutnya orang-orang yang selalu berujar cepat dan tergesa-gesa sangat diuntungkan. Bagaimana cara mengatur nada dan volume suara, memberikan penekanan, mengatur emosi dll.
Nama pemain teater perempuan memang tak banyak dibanding laki-laki, mengingat rezim yang berlaku sejak dulu mengahruskan perempuan untuk tetap di rumah dan mengurusi urusan rumah hingga ke dunia pendidikan. Nano Riantiarno dalam bukunya “Kitab Teater: Tanya Jawab Seputar Seni Pertunjukkan” menyatakan bahwa jika ada karakter perempuan bahwakan diperankan oleh laki-laki, lengkap dengan dandanan, pakaian, cara bicara dan sebagainya. Semoga saja sosk Ibu Ratna Riantiarno muda masih banyak zaman ini.
Prestasi Ratna Riantiarno
Pemain tetaer yang sudah banyak melalang buana ini peran bahkan sering terlibat di lakon-lakon penulis dan drama dunia , seperti Orang Kaya Baru, Rome Juliet, dan masih banyak lagi. Di dunia perfilman, mulai dari tahun 1981 sampai 2019 tak heni beliau menyumbangkan karyanya untuk nusantara, terakhir film-film popular sepert Terlalu Tampan, Love for Sale 2, Imperfect juga turut beliau jamah sebagai aktris. Pada tahun 2012 beliau pernah memenangkan Piala Vidia untuk pemeran Utama Wanita FTV Terbaik di Festival Film Indonesia, lalu di tahun dan pernghargaan yang sama pernah pula memenangkan pemeran pembantu wanita terpuji. Lalu tahun 2020 juga memenagkan pemeran pendukung perempuan terbaik di film Love for Sale 2.
