KKN 193 UMM Sulap Gedebog Pisang Jadi Keripik 'BokSang' Bernilai Jual

Mahasiswa, Program Studi Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Malang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari SEPTIAN ANANDA DWI PUTRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelompok KKN 193 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengabdi di Desa Jatimulyo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, meluncurkan inovasi olahan limbah tanaman berupa keripik gedebog pisang bernama BokSang. Sosialisasi dan pelatihan pembuatan produk ini digelar bersama ibu-ibu PKK bertempat di Balai Desa Jatimulyo.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berjalan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ir. Wahyu Andhyka Kusuma, S.Kom., M.Kom., Ph.D. Program ini diketuai oleh M. Saifullah Hadi Wizaksono serta dianggotai oleh Septian Ananda Dwi Putra, Muhamad Firman Sofiyan, Novia Anggita Shafitri, Nurkumalasari, Luthfiyah Nadhiroh, dan Fitriani.
Program kerja yang berlangsung selama masa pengabdian 31 Juli hingga 27 Agustus 2026 ini diinisiasi untuk memanfaatkan limbah rumah tangga yang selama ini terabaikan. Selain menekan tumpukan sampah organik, inovasi ini diarahkan untuk membuka peluang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) baru bagi warga setempat.
Berawal dari Potensi dan Permasalahan Limbah Pekarangan
Desa Jatimulyo memiliki corak kehidupan masyarakat yang erat kaitannya dengan sektor pertanian dan perkebunan rumahan. Pohon pisang menjadi salah satu tanaman yang sangat umum dijumpai di kebun warga. Namun, selama ini pemanfaatan tanaman pisang hanya terbatas pada buahnya saja.
Bagian batang atau gedebog pisang kerap diabaikan dan dibuang begitu saja. Jika dibiarkan menumpuk, limbah basah ini berpotensi menimbulkan masalah lingkungan seperti bau tidak sedap akibat pembusukan serta menjadi sarang hama di sekitar pekarangan.
Melihat kondisi tersebut, tim KKN 193 berkoordinasi dengan Kepala Desa Jatimulyo pada 3 Agustus 2026 untuk menentukan bentuk pemanfaatan limbah yang ekonomis. Dari hasil diskusi, disepakati program pembuatan keripik gedebog pisang sebagai produk olahan bernilai guna dan berdaya saing.
Tahapan Eksperimen hingga Perancangan Produk
Sebelum dipaparkan kepada masyarakat, tim KKN melakukan serangkaian uji coba (trial and error). Berbagai aspek teknis diperhitungkan secara matang, mulai dari metode perendaman untuk menetralkan getah pahit, pemilihan racikan tepung krispy, formulasi varian rasa, hingga perancangan kemasan yang menarik dan strategi pemasaran digital via media sosial.
Koordinator Program UMKM, M. Saifullah Hadi, menjelaskan langkah-langkah praktis mengolah gedebog pisang menjadi keripik siap konsumsi:
1.Pemotongan: Iris tipis bagian dalam gedebog pisang yang seratnya lembut.
2.Perendaman: Rendam irisan gedebog dalam larutan air kapur sirih dan garam selama 24 jam penuh untuk melunakkan tekstur dan melarutkan getah.
3.Pembersihan: Bilas irisan gedebog menggunakan air bersih berulang kali hingga benar-benar higienis.
4.Penepungan & Penggorengan: Baluri irisan dengan adonan tepung secara tipis, lalu goreng dalam minyak panas hingga berwarna kuning keemasan dan renyah.
5.Penambahan Rasa: Tiriskan keripik yang telah matang, kemudian berikan bumbu tabur perasa sesuai selera.
Harapan Keberlanjutan Usaha Mandiri Warga
Hadirnya inovasi BokSang menjadi bukti nyata bahwa bahan sederhana di sekitar pekarangan dapat memiliki nilai ekonomi tinggi apabila diolah secara kreatif.
Tim KKN 193 UMM menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kepala Desa, para pelaku UMKM, serta masyarakat Desa Jatimulyo atas partisipasi aktif dan dukungan penuh sepanjang kegiatan.
Harapannya, inovasi keripik gedebog pisang ini tidak berhenti usai masa KKN berakhir, melainkan terus dikembangkan secara berkelanjutan oleh warga sebagai peluang usaha mandiri untuk menambah pendapatan keluarga.
