Digital Parenting Upaya Mencegah Kecanduan Game dan Judi Online pada Anak

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Septian Wahyu Rahmanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena judi online semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Kemudahan akses internet menjadi pintu masuk bagi banyak orang untuk terjerat dalam judi online. Kecanduan bermain judi online telah merambah ke berbagai kalangan, mulai dari kalangan menengah ke bawah hingga kalangan ke atas, termasuk pada remaja hingga dewasa. Anak yang berada pada fase remaja yang sedang berada dalam fase penting perkembangan emosional dan sosial, memiliki kerentanan terhadap godaan dunia maya yang sering kali menjerat mereka ke dalam lingkaran kecanduan.
Kecanduan game dan judi online menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh orang tua di era digital ini. Tahun 2019 lalu, kita dihebohkan dengan berita tiga anak yang berusia rata-rata 9 tahun yang dirawat di RSJD Amino Gondohutomo karena kecanduan game. RSJD Amino sebenarnya menerima banyak pasien, tapi hanya tiga anak yang didiagnosis adiksi berat.
Di tahun 2019 juga ada informasi bahwa RSJD Dr. Arif Zainudin Kota Surakarta menangani puluhan pelajar karena kecanduan game online yang harus menjalani terapi. Pasien anak kecanduan game online yang menjalani pengobatan di RSJD Kota Surakarta rata-rata dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga SMA.
Kenyataannya, game dan judi online merupakan aktivitas yang banyak memberikan efek negatif, baik itu untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Kecanduan game online pada remaja akan berdampak pada beberapa aspek kehidupan, seperti aspek kesehatan, aspek psikologis, aspek akademik, aspek sosial dan aspek keuangan
Anak yang kecanduan game menggunakan waktu di atas 8 jam sehari. Setiap hari mereka akan terus mengulang rutinitas itu, bukan sekadar untuk refreshing atau rekreasi. Mereka biasanya mengalami gangguan tidur dan tidak mau makan, dan kondisi ini membuat daya tahan tubuh yang lemah akibat kurang waktu tidur, dan sering terlambat makan serta kurangnya aktivitas fisik seperti berolahraga.
Gejala kecanduan yang muncul biasanya adalah gangguan emosi seperti mudah marah, perilaku agresi, mudah mengucapkan kata-kata kotor. Kecanduan game juga ditandai dengan perilaku yang tidak produktif seperti tidak mau belajar dan mengerjakan tugas sekolah, membolos sekolah, hingga tidak mau sekolah.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan dalam pengasuhan yang lebih efektif, terarah, dan positif. Artikel ini akan membahas bagaimana orang tua dapat menyesuaikan cara pengasuhan di era digital sebagai upaya pencegahan kecanduan game dan judi online pada anak. Digital parenting atau pengasuhan digital pada dasarnya merujuk pada pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak menggunakan gawai digital atau smartphone yang dapat diakses oleh mereka.
Elemen atau prinsip penting dalam pengasuhan perlu diketahui oleh orang tua dalam mengasuh anak supaya bisa diterapkan dalam digital parenting. Prinsip penting pengasuhan terdiri dari dukungan secara emosional, monitoring (pemantauan), recognition (pengenalan), dan disiplin yang efektif. Prinsip pertama adalah praktik pengasuhan yang mengandung dukungan emosional yang terdiri dari tiga perilaku. Perilaku yang pertama adalah kasih sayang yang meliputi penerimaan, kehangatan, pelukan, ikatan, kasih sayang, senyuman, perasaan positif, dan hubungan akrab. Perilaku kedua berupa dukungan, meliputi dukungan emosional, pengertian, tolong menolong, dan kepercayaan. Sedangkan perilaku yang ketiga adalah kedekatan yang meliputi keterlibatan, perhatian, kekompakan, keterikatan, perhatian, dan kepedulian.
Prinsip kedua dalam praktik pengasuhan anak adalah monitoring (pemantauan) yang meliputi memeriksa kegiatan, pengecekan pekerjaan rumah, memeriksa keberadaan anak, maupun bentuk pengawasan (supervisi) lainnya. Prinsip ketiga adalah recognition (mengenali perilaku yang bertentangan dengan norma sosial) yang mencakup kemampuan orang tua dalam mengenali bila anak terlibat dalam perilaku anti-sosial. Prinsip keempat adalah disiplin efektif, yaitu dengan menggunakan metode hukuman yang adil dan non fisik, meliputi diskusi, perhatian, disiplin yang konsisten, dan hukuman yang proporsional dan responsif.
Orang tua dalam digital parenting sebaiknya tidak melakukan cara-cara berikut agar anak tidak mengalami kecanduan game, smartphone, dan internet. Orang tua perlu menghindari cara-cara tersebut antara lain memaksa anak meminta maaf atas perilaku buruknya, menceramahi anak atas perilaku buruknya, berteriak atau marah, membuat anak merasa tidak enak atau bersalah, berdebat dengan anak tentang kelakuan buruknya, menyerah dan melakukan tugas anak, mengancam namun tidak menindaklanjuti, memukul, dan menuruti tuntutan anak.
Indikator pertama dari digital parenting yang baik adalah menjaga dialog terbuka antara orang tua dan anak dan mendiskusikan apa yang penting bagi mereka, tetap tenang meski ada sesuatu yang membuat Anda kesal, dan jujur satu sama lain. Orang tua dapat mengingatkan dengan komunikasi yang baik. Penelitian yang dilakukan van den Eijnden, Spijkerman, Vermulst, van Rooij, & Engels (2010) memberikan bukti bahwa komunikasi orang tua tentang penggunaan internet merupakan cara yang efektif untuk mencegah kecanduan internet. Hal ini mengindikasikan perlunya jalinan komunikasi yang baik antara orang tua dan anaknya.
Orang tua memegang peranan penting dalam pencegahan perilaku bermasalah remaja terutama kecanduan dengan memberikan perhatian dan monitoring kegiatan anak. Pemantauan orang tua dapat dilakukan, selain dengan menjalin komunikasi yang baik dengan anak dapat juga menempatkan berbagai produk teknologi di tempat yang mudah diamati, mengetahui keberadaan anak, menunjukkan perhatian terhadap kegiatan sekolah anak, dll. Hal tersebut dapat mengurangi waktu anak dalam bermain game online dan mencegah tingkat kecanduan game online yang lebih parah.
Orang tua perlu menjaga kedisiplinan dalam menggunakan screen time saat mengakses smartphone, game, atau internet karena apa yang akan dibicarakan orang tua bukanlah hal baru bagi anak. Pada masa usia dini, anak terkadang melakukan tindakan yang konyol dan beresiko tanpa mempertimbangkan dan memperhatikan akibat yang telah diajarkan, dan orang tua harus bijak dalam membimbingnya dalam belajar. Misalnya, ketika keluarga sedang berkumpul, buatlah kesepakatan untuk tidak ada penggunaan smartphone baik itu smartpshone maupun tablet. Aturan ini harus konsisten atau disiplin dilakukan sebagai bentuk pembelajaran bagi anak,
Digital parenting penting untuk terus disosialisasikan karena penelitian Ngulandari, Oktaviani, dan Elmanora tahun 2024 menemukan bahwa variabel digital parenting dan dimensi yang diteliti menunjukkan kategori rendah. Hal ini menunjukkan kurangnya kontrol dan kehangatan yang diberikan orang tua kepada anak. Menggunakan gawai bersama anak tanpa mengkomunikasikan aturan yang telah dibuat bersama akan membuat anak merasa leluasa dalam menggunakan gawai. Anak tidak merasa dekat dengan orang tuanya karena kurangnya komunikasi dan tidak bisa membatasi diri dalam mengakses situs-situs di internet.
