Konten dari Pengguna

Mengapa Pelaku KDRT dalam Pernikahan Bisa Terlihat Baik di Depan Orang Lain?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Septian Wahyu Rahmanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi KDRT. Foto: Africa Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi KDRT. Foto: Africa Studio/Shutterstock

“Padahal dia baik sama semua orang”

“Kalau di luar rumah ramah, kenapa di rumah justru menyakiti pasangannya?”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar familiar ketika kita mendengar cerita tentang permasalahan dala pernikahan, yaitu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bagi orang yang hanya mengenal seseorang dari lingkungan sosialnya, sulit membayangkan bahwa sosok yang ramah, humoris, bahkan dikenal sebagai suami yang baik ternyata dapat melakukan kekerasan kepada pasangannya.

Film "Suamiku Lukaku" menggambarkan situasi tersebut melalui kisah Amina dan Irfan. Di depan publik, Irfan dikenal sebagai suami yang baik. Namun ketika berada di rumah, Amina justru mengalami tekanan dan kekerasan yang membuatnya hidup dalam ketakutan.

Kisah seperti ini membawa kita pada satu pertanyaan penting, Bagaimana seseorang bisa terlihat begitu baik di luar rumah, tetapi melakukan kekerasan kepada orang yang paling dekat dengannya?

KDRT Bukan Sekadar “Khilaf karena Marah”

Ketika mendengar seseorang melakukan KDRT di pernikahan, kita sering langsung berpikir, “Dia pasti tidak bisa mengendalikan emosinya.”

Kemarahan memang dapat muncul dalam situasi kekerasan atau KDRT. Tetapi, marah dan melakukan kekerasan adalah dua hal yang berbeda. Seseorang dapat merasa kecewa, tersinggung, frustrasi, atau marah tanpa harus memukul, mengancam, menghina, atau mengintimidasi pasangan. Karena itu, persoalannya bukan hanya tentang seberapa besar kemarahan seseorang, tetapi juga tentang bagaimana ia memahami konflik dan memilih meresponsnya.

Dalam banyak kasus, KDRT dapat berkaitan dengan keinginan untuk menguasai atau mengontrol pasangan. Bentuknya pun tidak selalu berupa kekerasan fisik. Mengatur secara berlebihan dengan siapa pasangan boleh berteman, membatasi aktivitas, mengancam ketika keinginannya tidak dipenuhi, merendahkan, mengintimidasi, atau memberikan “hukuman” ketika pasangan tidak mengikuti keinginannya juga dapat menjadi bagian dari pola kekerasan.

Artinya, KDRT tidak selalu berupa satu ledakan emosi. Pada sebagian hubungan, kekerasan justru berkembang menjadi sebuah pola perilaku.

Kalau Dia Bisa Mengontrol Diri di Luar, Kenapa Tidak di Rumah

“Kalau seseorang bisa bersikap sabar kepada atasannya, mengapa ia tidak bisa melakukan hal yang sama kepada istrinya?”

“Kalau ia mampu menjaga sikap ketika bertemu teman, mengapa perilakunya berubah ketika pintu rumah tertutup?”

Itu mungkin pertanyaan yang muncul dan jawabannya tidak selalu sederhana. Setiap kasus memiliki dinamika yang berbeda. Namun, satu hal penting untuk dipahami adalah bahwa seseorang dapat memiliki kemampuan mengendalikan perilakunya dalam situasi tertentu.

Ia tahu kapan harus tersenyum, ia tahu kapan harus menahan ucapan, dan ia tahu bagaimana bersikap di depan orang lain.

Karena itu, perilaku kekerasan di rumah tidak otomatis dapat dijelaskan sebagai ketidakmampuan total untuk mengendalikan diri.

Ada berbagai faktor yang dapat berkontribusi terhadap perilaku kekerasan, seperti pola koping yang tidak sehat, pengalaman masa lalu, cara seseorang memandang hubungan, kesulitan menyelesaikan konflik, kecemburuan, penggunaan alkohol atau zat tertentu, maupun kondisi psikologis tertentu.

Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa Memahami faktor yang berkontribusi terhadap kekerasan bukan berarti membenarkan kekerasan.

Alasan bukan pembenaran, pelaku tetap memiliki tanggung jawab atas perilakunya.

Mengapa Seseorang Melakukan Kekerasan?

Penelitian tentang KDRT menunjukkan bahwa dorongan melakukan kekerasan tidak selalu sama pada setiap pelaku.

Pada sebagian orang, kekerasan berkaitan dengan keinginan menguasai pasangan. Pada orang lain, kekerasan dapat muncul dalam konteks konflik, kecemburuan, kritik, frustrasi, atau pola coping yang telah terbentuk sebelumnya.

Ada pula faktor lain yang dapat memperburuk situasi, seperti penggunaan alkohol atau narkoba.

Artinya, seseorang dapat memiliki lebih dari satu faktor yang berkontribusi terhadap perilaku kekerasannya.

Inilah alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat “Dia cuma sedang emosi”

Mungkin emosi memang ada, tetapi KDRT tidak selalu sesederhana emosi sesaat. Jika kita hanya melihatnya sebagai persoalan marah, solusi yang muncul mungkin hanya “belajar sabar”. Padahal, bisa jadi ada persoalan yang lebih dalam: cara memandang pasangan, pola kontrol, cara menyelesaikan konflik, kemampuan regulasi emosi, atau kebiasaan menggunakan ancaman ketika keinginan tidak terpenuhi.

“Dia Baik Kok” Justru Bisa Membuat Korban Semakin Sendirian

Ada satu dampak lain yang sering tidak kita sadari. Ketika lingkungan terus mengatakan, “Dia orang baik, tidak mungkin melakukan KDRT” maka bisa jadi korban mulai meragukan pengalamannya sendiri.

“Jangan-jangan aku terlalu sensitif?”

“Jangan-jangan memang aku yang membuat dia marah?”

“Orang lain saja melihat dia sebagai suami yang baik”

Padahal, orang luar hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Tidak semua luka terlihat dan tidak semua kekerasan meninggalkan memar. Ada luka yang muncul dari ancaman, penghinaan, intimidasi, kontrol, dan rasa takut yang terus-menerus. Karena itu, ketika seseorang bercerita tentang kekerasan yang dialaminya, jangan terburu-buru membela pelaku hanya karena kita mengenalnya sebagai “orang baik."

Dengarkan dan validasi pengalamannya dulu, dan bantu mencari pertolongan yang aman jika diperlukan. Sebab rumah yang tampak harmonis dari luar belum tentu menjadi tempat yang aman bagi orang-orang di dalamnya.