Sekolah Dasar Tanpa Guru BK: Beban Guru Bertambah, Masalah Anak Terabaikan

Mahasiswa Prodi PGSD Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Septiana Anggraini Kristin Hutabarat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah dasar merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, kepribadian, serta kemampuan sosial dan emosional anak. Namun, setiap kali muncul kasus perundungan, kekerasan antarsiswa, rendahnya kemampuan mengendalikan emosi, hingga persoalan kesehatan mental anak di sekolah, sorotan publik hampir selalu tertuju kepada guru. Sekolah dianggap lalai, guru dinilai kurang peka, bahkan tidak sedikit yang mempertanyakan kualitas pendidikan karakter di sekolah. Tetapi, di balik berbagai tuntutan tersebut, ada persoalan mendasar yang hingga kini belum benar-benar mendapat perhatian serius, yaitu minimnya keberadaan guru Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah Dasar. Padahal, pada jenjang inilah fondasi karakter, kemampuan sosial, dan kesehatan emosional anak mulai dibentuk. Ironisnya, sebagian besar sekolah dasar di Indonesia masih belum memiliki guru BK secara khusus. Akibatnya, seluruh persoalan psikologis peserta didik harus ditangani oleh wali kelas yang sejatinya telah memikul tanggung jawab besar sebagai pelaksana pembelajaran. Dalam praktiknya, wali kelas seolah mengemban dua jabatan sekaligus. Di satu sisi, mereka harus memastikan target kurikulum tercapai, menyusun perangkat pembelajaran, melaksanakan asesmen, menyelesaikan administrasi yang tidak sedikit, serta mendampingi proses belajar peserta didik. Di sisi lain, mereka juga dituntut menjadi konselor yang mampu memahami kondisi psikologis anak, menyelesaikan konflik antarsiswa, menangani kasus perundungan, menghadapi anak yang mengalami trauma keluarga, hingga menjadi penengah ketika terjadi persoalan antara peserta didik dengan orang tua. Beban ganda seperti ini tentu bukan kondisi yang ideal. Tidak semua guru memiliki latar belakang keilmuan di bidang konseling, sementara persoalan yang dihadapi peserta didik saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu.
Ketika saya mengadakan wawancara kepada seorang wali kelas di salah satu sekolah dasar, beliau mengungkapkan bahwa realitas di lapangan menunjukkan semakin banyak guru yang menghabiskan waktunya bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga menyelesaikan berbagai persoalan nonakademik peserta didik. Ada siswa yang mengalami perubahan perilaku akibat konflik dalam keluarga, anak yang sulit mengendalikan emosi, korban maupun pelaku perundungan, hingga peserta didik yang menunjukkan gejala kecemasan dan kehilangan motivasi belajar. Semua persoalan tersebut pada akhirnya bermuara kepada wali kelas. Tidak sedikit wali kelas yang harus mengorbankan waktu istirahat, bahkan membawa persoalan siswa hingga ke luar jam kerja demi mencari solusi terbaik. Kondisi ini menunjukkan bahwa sekolah sebenarnya membutuhkan tenaga profesional yang secara khusus menangani layanan bimbingan dan konseling, bukan sekadar mengandalkan kepedulian guru kelas yang kapasitas dan waktunya sangat terbatas.
Persoalan menjadi semakin rumit ketika sekolah harus membangun komunikasi dengan orang tua. Dalam berbagai kesempatan, guru menyadari bahwa pembentukan karakter tidak mungkin berhasil apabila hanya dilakukan di lingkungan sekolah. Anak menghabiskan lebih banyak waktunya bersama keluarga dibandingkan di ruang kelas. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter justru sangat bergantung pada sinergi antara sekolah dan orang tua. Sayangnya, fakta di lapangan masih menunjukkan adanya sebagian orang tua yang bersikap acuh terhadap perkembangan anaknya di sekolah. Ketika saya melakukan wawancara juga, wali kelas tersebut mengungkapkan, ketika guru mengundang orang tua untuk berdiskusi mengenai perubahan perilaku anak, tidak sedikit dari mereka yang memilih mengabaikan undangan tersebut. Ada pula yang menganggap seluruh tanggung jawab pendidikan telah berpindah ke sekolah sejak anak didaftarkan sebagai peserta didik. Bahkan, ketika muncul persoalan perilaku, sebagian orang tua justru lebih memilih menyalahkan guru daripada bersama-sama mencari akar masalah. Pola pikir seperti inilah yang menjadi salah satu keresahan terbesar bagi para pendidik. Guru tidak mungkin bekerja sendiri membentuk karakter anak apabila lingkungan keluarga tidak memberikan dukungan yang sejalan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, keberadaan guru BK di sekolah dasar seharusnya tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai kebutuhan yang mendesak. Adanya peran BK bukan hanya menangani peserta didik yang bermasalah, tetapi juga melakukan pencegahan melalui layanan konseling, pemetaan kebutuhan peserta didik, penguatan karakter, pendampingan sosial-emosional, hingga membangun komunikasi yang lebih efektif dengan orang tua. Kehadiran guru BK juga akan memberikan ruang bagi wali kelas untuk lebih fokus menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik tanpa harus menanggung seluruh persoalan psikologis peserta didik seorang diri. Kolaborasi antara wali kelas dan guru BK akan menciptakan penanganan yang lebih profesional, terarah, dan berkelanjutan sehingga setiap anak memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.
Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius terhadap layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar. Kebutuhan guru BK tidak cukup dijawab melalui pelatihan singkat bagi guru kelas, melainkan melalui kebijakan yang menghadirkan tenaga BK secara bertahap dan merata di sekolah-sekolah dasar. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat regulasi mengenai kolaborasi sekolah dengan orang tua melalui program parenting yang berkelanjutan sehingga komunikasi tidak hanya terjalin ketika muncul masalah, tetapi menjadi budaya pendidikan yang dibangun bersama. Sekolah pun perlu didukung dengan sistem layanan psikososial yang lebih komprehensif agar setiap persoalan peserta didik dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang mampu membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan juga harus melahirkan generasi yang sehat secara mental, matang secara emosional, serta memiliki karakter yang kuat. Tujuan besar tersebut tidak mungkin dibebankan sepenuhnya kepada wali kelas yang telah mengemban begitu banyak tanggung jawab. Sudah waktunya negara hadir melalui kebijakan yang berpihak pada kebutuhan nyata sekolah. Guru BK harus menjadi bagian dari sistem pendidikan dasar, bukan lagi menjadi kebutuhan yang terus ditunda. Ketika sekolah, keluarga, dan pemerintah mampu berjalan dalam satu langkah yang sama, maka pendidikan karakter tidak lagi menjadi sekadar slogan, melainkan menjadi gerakan bersama untuk mempersiapkan generasi Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Katolik Santo Thomas Medan
