Sepenggal Kisah Pengorbanan Demi Meraih Mimpi

Writing Enthu.
Tulisan dari Starlight tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah menjadi hal wajar, ketika ada sebuah pengorbanan di balik setiap usaha yang dilakukan. Bagi Azkal, pengorbanan itu bak batu loncatan yang dapat membawanya ke keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.
Aku ingat betul bagaimana seorang Azkal Fauzan memperjuangkan kelanjutan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi setelah pendidikan menengah atas. Dan kini, aku kagum atas pencapaian yang ia dapat setelah mengorbankan apa yang ia perjuangkan sebelumnya.
Ya, Azkal memilih untuk mengundurkan diri dari perkuliahannya dan mengikuti seleksi BUMN yang diadakan oleh PT KAI. Saat aku bertanya apa alasan di balik keputusannya itu, ia menjelaskan memang itulah impiannya, memiliki penghasilan dan tidak merepotkan finansial keluarganya di usia 20 tahun.
Namun, setelah pengorbanannya itu, ia juga tidak serta merta langsung mendapatkan impiannya. Ia menjelaskan, ada lima tahap seleksi yang harus ia jalani. Mulai dari seleksi administrasi, tes kesehatan awal, psikotes, wawancara, dan tes kesehatan akhir. Dari apa yang ia ceritakan kepadaku, ia sudah merasa kesulitan sejak tahap seleksi administrasi karena banyaknya jumlah pendaftar dan mereka sama sekali tidak mengetahui berapa jumlah yang akan diterima.
"Tetapi memang, artinya kami para pendaftar harus memiliki mental dan tekad yang kuat. Bagaimana kesungguhan dan kepercayaan diri kami agar tetap mendaftarkan diri meskipun tidak mengetahui jumlah kuota yang diterima," jelas Azkal.
Tidak hanya tahap seleksi administrasi, Azkal juga merasa kesulitan pada tahap psikotes. Namun, setelah kesulitan-kesulitan yang ia rasakan, ia membuktikan bahwa ia mampu dan berhasil lolos dalam seleksi BUMN PT KAI. Ketika mendapati dirinya lolos, ia mengaku merasa campur aduk.
“Pas keterima, rasanya semangat banget, ada kebahagiaan yang tidak terbendung. Tapi, disisi lain juga merasa tidak percaya karena berhasil menyingkirkan para pesaing lainnya,” ungkapnya.
Azkal pun sadar, lolos seleksi berarti ia akan berhadapan dengan sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, sebagai cara beradaptasi, ia terbiasa untuk membuka obrolan dan mengakrabkan diri dengan yang lainnya.
Kini, Azkal fokus untuk bekerja dan belajar, memperdalam ilmu yang sudah didapatkan. Ia pun berharap agar dirinya terus menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki karir yang berkembang, tidak stuck di situ-situ saja.
Dari pengalamannya, Azkal mengajarkan kita semua agar percaya diri dan berani mengambil resiko. Ia juga menitipkan pesan untuk para calon pendaftar selanjutnya agar tetap semangat, mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, memperbanyak doa, serta memohon doa restu kepada kedua orang tua dan keluarga.
(Septia Sapoetri/Politeknik Negeri Jakarta)
