Konten dari Pengguna

Di Antara Ayyamul Bidh dan Asyura: Mencari Ruang Spiritual di Tengah Rutinitas

Indah Septi Yani Lubis

Indah Septi Yani Lubis

Mahasiswi Ilmu Al-quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indah Septi Yani Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi spiritual malam hari: saat Ayyamul Bidh dan Asyura menjadi momen muhasabah bagi jiwa yang rindu kembali pada Allah.(Gambar AI original – tanpa pelanggaran hak cipta)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi spiritual malam hari: saat Ayyamul Bidh dan Asyura menjadi momen muhasabah bagi jiwa yang rindu kembali pada Allah.(Gambar AI original – tanpa pelanggaran hak cipta)

Kadang, kita merasa asing dengan diri sendiri. Bangun pagi, sibuk seharian, lalu tidur dalam kelelahan yang sama—berulang setiap hari. Rutinitas terus berjalan, tapi hati terasa tertinggal.

Di tengah dunia yang bergerak tanpa jeda, kita butuh ruang untuk bernapas. Tapi bagaimana caranya mengisi ulang ruhani tanpa harus pergi jauh atau cuti panjang? Jawabannya bisa jadi ada pada puasa sunah—praktik sederhana yang menyimpan kekuatan luar biasa: Ayyamul Bidh dan Asyura.

Jeda di Tengah Kesibukan

Di tengah padatnya aktivitas pekerjaan, tugas kuliah, hingga urusan rumah tangga, banyak dari kita merasa lelah, kosong, bahkan jenuh. Hidup modern bergerak cepat, seperti jalan tol tanpa lampu merah: terus melaju tanpa sempat menepi.

Dalam arus deras ini, kita sering ingin berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat kembali arah hidup. Tetapi, di mana tempat yang tepat untuk mengambil jeda itu?

Salah satu jawabannya bisa jadi terletak pada ibadah yang sering kita anggap kecil: puasa sunah, terutama Ayyamul Bidh dan Asyura. Meski terlihat ringan, dua puasa ini menyimpan kedalaman spiritual yang tak terduga.

Puasa: Menahan Diri, Melatih Jiwa

Dalam pandangan para ulama fikih, puasa bukan sekadar praktik ibadah, tetapi juga bentuk kedisiplinan. Ibnu Taimiyah, dalam Sharḥ al-ʿUmdah, menjelaskan bahwa secara bahasa, puasa berarti “menahan diri” dan “berhenti.”

Sementara itu, Wahbah az-Zuhaili, melalui Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu, mendefinisikan puasa sebagai menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkannya sejak fajar hingga matahari terbenam, dengan niat karena Allah.

Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid juga menegaskan bahwa puasa adalah ibadah yang mengharuskan kita menjaga diri dari segala pembatalnya, dan hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur’an, sunah, serta ijmak para ulama.

Dengan kata lain, inti puasa dalam fikih adalah soal menahan diri secara fisik dan hukum.

Namun, jika direnungkan lebih dalam, justru dari “menahan” itulah muncul pelajaran paling berharga. Ketika kita membatasi tubuh, kita sedang melatih jiwa. Kita belajar untuk sabar, mengelola keinginan, dan memperlambat ritme hidup yang terlalu cepat.

Meski kitab-kitab fikih tidak menyebut puasa sebagai latihan spiritual secara eksplisit, siapa pun yang menjalaninya dengan kesadaran hati akan merasakan: ada yang berubah di dalam.

Ayyamul Bidh: Saat Langit Terang, Jiwa pun Jernih

Ayyamul Bidh dilakukan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Disebut “hari-hari putih” karena pada malam-malam itu bulan tampak terang. Rasulullah SAW bersabda:

“Cukuplah bagimu berpuasa tiga hari setiap bulan. Setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Maka itu setara dengan berpuasa setahun penuh.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Di hari-hari tenang ini, puasa menjadi jalan untuk menjernihkan hati dan memperlambat langkah hidup yang terlalu hiruk-pikuk.

Asyura: Sejarah, Syukur, dan Pembersihan Dosa

Asyura, tanggal 10 Muharam, memiliki sejarah yang sarat makna. Nabi Musa AS berpuasa sebagai wujud syukur karena diselamatkan dari kezaliman Fir’aun. Rasulullah SAW pun menganjurkan umat Dalam padatnya rutinitas, dua hari puasa sunah—Ayyamul Bidh dan Asyura—bisa menjadi ruang spiritual untuk berhenti sejenak. Bukan pelarian, tapi perhentian bagi jiwa yang lelah.Islam untuk ikut berpuasa pada hari itu sebagai bentuk syukur dan solidaritas atas perjuangan kebenaran.

“(Puasa Asyura) menghapus dosa setahun yang telah lalu.”

(HR. Muslim)

Asyura bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga pengingat bahwa berjuang melawan keburukan—baik di luar maupun dalam diri—perlu disyukuri dan dirawat.

Puasa: Bukan Sekadar Fisik, tetapi Batin

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan tujuan, melainkan sarana. Ia mengasah ketakwaan, membentuk kesadaran diri, dan melatih kita untuk tidak dikendalikan oleh ego.

Dalam dunia yang menuntut kesibukan tiada henti, puasa bisa menjadi ruang spiritual—tombol reset untuk hati yang letih.

Amalan Sederhana, Dampak Besar

Dalam budaya hari ini, jeda sering dianggap kelemahan. Tetapi dalam Islam, berhenti sejenak untuk menyambung hubungan dengan Allah justru adalah bentuk kekuatan.

Ayyamul Bidh dan Asyura mengajarkan bahwa meluangkan waktu untuk jiwa bukanlah kemunduran, melainkan kemajuan.

Tidak semua ibadah sunah bisa kita lakukan. Tetapi satu atau dua hari puasa dalam sebulan bisa menjadi langkah awal yang berdampak. Rasulullah SAW bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hiruk-pikuk dunia, dua hari bersama Allah bisa cukup menjadi tempat berlabuh bagi jiwa yang penat.

Penutup: Menepi Bukan Melarikan Diri

Agar puasa sunah tidak hanya menjadi ibadah musiman, kita bisa memulainya dari hal-hal kecil: saling mengingatkan, mengajak keluarga, atau berbagi inspirasi di media sosial.

Sebab spiritualitas tak selalu lahir dari ceramah panjang—kadang cukup lewat keteladanan yang konsisten.

Jangan biarkan kesibukan memutus hubungan kita dengan langit. Jadikan Ayyamul Bidh dan Asyura bukan sekadar tanggal di kalender, tetapi momen perenungan—ruang spiritual yang kita ciptakan di tengah rutinitas.

Mungkin yang kita cari selama ini bukan pelarian, tetapi perhentian. Dan dua hari puasa bisa menjadi tempat terbaik untuk itu.