Katanya Baca Al-Waqi’ah Bikin Kaya, Tapi Apa Cuma Itu Tujuannya?

Mahasiswi Ilmu Al-quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Indah Septi Yani Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Waktu Subuh selalu punya ruang sunyi yang berbeda. Langit masih gelap, jalanan belum gaduh, dan suara azan seperti satu-satunya hal yang hidup. Biasanya, setelah salat Subuh aku langsung rebahan, ngelamun sebentar, lalu akhirnya ketiduran. Tapi belakangan ini, aku coba tahan mata buat sesuatu yang katanya ringan, tapi diam-diam dalam: baca Surah Al-Waqi’ah.
Awalnya iseng aja. Katanya, kalau rutin baca surah ini tiap Subuh, rezeki bisa lancar. Gak bakal jadi orang miskin. Ada yang bilang ini amalan biar dapet kerjaan, biar dagangan laris, biar gak seret hidupnya. Dan jujur aja, aku butuh itu. Hidup akhir-akhir ini rasanya… sempit. Gak selalu sempit secara materi, tapi sempit di hati.
Jadi aku baca. Setiap pagi. Kadang sambil ngantuk, kadang setengah sadar, kadang cuma sekadar menggugurkan bacaan. Tapi semakin sering aku baca, semakin aku sadar: kok ayat-ayatnya gak ngomongin rezeki ya?
Yang Dibahas Justru Tentang Kematian
Surah ini malah buka-bukaan banget tentang hari kiamat. Tentang manusia yang dibagi jadi tiga golongan. Yang kanan, yang kiri, dan yang ‘terdepan’ dalam amal kebaikan.
Di bagian itu, aku mulai ngerasa kayak ditampar.
Aku mulai nanya ke diri sendiri: “Aku ini di golongan yang mana?”
Yang kanan? Terlalu tinggi. Yang sabiqun? Wah, jangankan terdepan, ikut antrian kebaikan aja masih bolong-bolong. Dan bagian yang paling bikin merinding: golongan kiri. Yang dosanya gak seberapa kelihatan di dunia, tapi dibongkar semua nanti.
Dari sini aku sadar, aku selama ini baca Al-Waqi’ah dengan niat duniawi, tapi isinya justru ngegas soal akhirat. Aku cari rezeki, tapi Allah malah ajarin: “Ayo siap-siap, hidupmu gak selamanya.”
Subuh yang Pelan-Pelan Bikin Takut
Di luar, suara motor mulai terdengar. Tanda hari akan mulai. Tapi di dalam dada, justru mulai muncul ketakutan.
Ketakutan bahwa aku selama ini hidup cuma buat bertahan, bukan buat berjalan.
Ketakutan bahwa aku terlalu sibuk ngejar dunia, padahal yang sedang mengejar aku adalah kematian.
Ayat demi ayat, surah ini bukan cuma cerita. Tapi kayak surat peringatan.
Allah ajak kita mikir: gimana manusia yang mati, yang jasadnya membusuk, yang gak bisa menolak, yang gak bisa nego. Lalu ditanya: “Kamu pikir kamu yang nyiptain dirimu sendiri? Kamu pikir kamu yang kontrol rezekimu? Kamu yang bikin tanaman tumbuh? Air turun? Api hidup?”
Di bagian itu, aku diam. Gak bisa jawab.
Karena sejujurnya, aku terlalu sering merasa seolah-olah semua ini hasil usahaku. Padahal enggak.
Gak Salah Pengen Rezeki, Tapi Salah Kalau Lupa Tujuan
Aku gak bilang salah baca Al-Waqi’ah buat minta kelapangan rezeki. Tapi yang salah adalah kalau kita berhenti di situ.
Kalau kita cuma cari manfaat dunia, tapi gak peduli pesan akhiratnya.
Aku pernah ada di titik itu. Minta rezeki tapi lupa bersyukur. Baca ayat tapi gak mikir. Salat tapi pikiran di mana-mana.
Dan aku gak pengen terus-terusan hidup kayak gitu. Capek. Kosong.
Sekarang, baca Al-Waqi’ah jadi semacam cermin pagi.
Bukan buat minta, tapi buat ngaca:
“Udah sejauh apa aku hidup? Udah segelap apa hatiku?”
Dan pelan-pelan, aku belajar buat minta bukan cuma rezeki, tapi juga hidayah. Bukan cuma kemudahan dunia, tapi juga kelapangan hati.
Sebuah Doa yang Pelan-Pelan Aku Hafal
Setelah selesai baca, biasanya aku duduk lama. Gak langsung berdiri. Kadang diam. Kadang bisik doa yang sama berulang-ulang:
“Ya Allah, cukupkan aku dengan yang halal dan berkah.
Jangan cuma buatku merasa cukup secara harta, tapi buatku juga merasa cukup untuk tidak mengejar yang Engkau benci.
Tempatkan aku di golongan kanan.
Meski aku tahu, aku belum sepantas itu.”
Dan di situ, aku percaya: rezeki yang paling besar bukan uang. Tapi kesadaran untuk pulang sebelum terlambat.
