19 Contoh Kruna Lingga dalam Bahasa Bali

Mengulas serba serbi kota Bali, mulai dari pariwisata hingga budayanya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Seputar Bali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang awam perlu mempelajari beberapa contoh Kruna Lingga dalam bahasa Bali agar semakin paham. Kruna Lingga adalah kata dasar yang belum ditambahkan dengan afiksasi awalan, sisipan, dan akhiran dalam bahasa Bali.
Bahasa Indonesia kaya akan beragam kosakata. Kosakata tersebut berupa kata dasar maupun kata yang telah mendapatkan modifikasi atau afiksasi.
Contoh Kruna Lingga
Selain bahasa Indonesia, bahasa Bali juga mempunyai kata dasar, imbuhan, dan kata yang sudah diberi imbuhan. Dikutip dari buku Geografi Dialek Bahasa Bali, I Made (1985: 22), kruna lingga merupakan kata dasar yang belum mendapatkan imbuhan atau pawewehan atau pengangge.
Ada beberapa contoh tentang kruna lingga yang dapat dipahami. Berikut ini beberapa contoh kruna lingga dalam bahasa Bali yang perlu dipelajari.
Kruna lingga saut (jawab) mendapatkan pengater pa menjadi pesaut (jawaban).
Kruna lingga tutur (tutur kata) mendapatkan pengater pi menjadi pitutur (nasihat).
Kruna lingga gagah (gali) mendapatkan pengater ka menjadi kagagah (digali).
Kruna lingga jaum (jarum) mendapatkan pengater kuma menjadi kumajaum (peribahasa yang berarti bulu yang baru tumbuh).
Kruna lingga jani (saat ini) mendapatkan pengater pra menjadi prajani (saat ini juga).
Kruna lingga jalan (jalan) mendapatkan pengater ma menjadi majalan (berjalan).
Kruna lingga tulung (tolong) mendapatkan seselan in menjadi tinulung (menolong).
Kruna lingga sangsaya (ragu) mendapatkan seselan um menjadi sumangsaya (meragukan).
Kruna lingga gudug (suara gudug seperti suara petir) mendapat seselan er menjadi gerudug (seperti suara petir yang bersahutan).
Kruna lingga tunjuk (menunjuk) mendapat seselan el menjadi telunjuk (jari telunjuk).
Kruna lingga kelid (hindar) mendapatkan pengiring in menjadi kelidin (hindari).
Kruna lingga cenik (kecil) mendapatkan pengiring an menjadi cenikan (kekecilan).
Kruna lingga baca (baca) mendapatkan pengiring ang menjadi bacaang (bacakan).
Kruna lingga bapa (ayan) mendapatkan pengiring n menjadi bapan (ayah untuk kepemilikan).
Kruna lingga celana (celana) mendapatkan pengiring ne menjadi celalane (celananya).
Kruna lingga carik (sawah) mendapatkan pengiring e menjadi carike (sawahnya).
Kruna lingga sirep (tidur) mendapatkan pengater pa dan pengiring an menjadi pasirepan (tempat untuk tidur).
Kruna lingga sugih (kaya) mendapatkan pengater ka dan pengiring an menjadi kesugihan (kekayaan).
Kruna lingga tebek (tusuk) mendapatkan pengater ma dan pengiring an menjadi metebekan (saling tusuk).
Baca juga: 5 Aktivitas di Sanur Bali yang Wajib Dilakukan saat Liburan
Demikianlah beberapa contoh kruna lingga dalam bahasa Bali yang perlu dipelajari dan dipahami untuk orang awam. (Msr)
