Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Batuan Temple: Pura Cagar Budaya dengan Arsitektur Klasik dan Patung Batu Kuno
14 Februari 2024 0:48 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Seputar Bali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Batuan Temple, atau Pura Batuan, memiliki sejarah yang tercatat sejak seribu tahun yang lalu, demikian yang disebutkan dalam buku Bali & Lombok, Ryan Ver Berkmoes, Iain Stewart (2007, 206). Pengaruh Hindu dan India di wilayah desa ini terlihat jelas dari ukiran dan pura-puranya.
ADVERTISEMENT
Didirikan tahun 944 Isaka (sekitar 1020 Masehi), pura ini merupakan bagian dari konsep 'Tri Kahyangan' atau 'Tri Murti' yang diajarkan oleh Mpu Kuturan kepada masyarakat Hindu Bali pada abad ke-10. Dalam konsep ini, ada pura desa sebagai tempat untuk memuja Dewa Brahma (Pencipta), Pura Puseh untuk memuja Dewa Vishnu (Pemelihara), dan Pura Dalem untuk memuja Dewa Shiva (Pemusnah).
Keunikan Batuan Temple Bali dan Keindahannya
Nama "Batuan" atau "Baturan" yang disebutkan membuat para penduduk desa sering bercanda tentang menjadi "sekeras batu" atau "makan batu". Namun, nama tersebut kemungkinan merujuk pada tradisi megalitik kuno, di mana batu-batu berdiri digunakan sebagai tempat pertemuan dan situs upacara untuk pemujaan roh leluhur.
Batuan Temple merupakan destinasi wisata cagar budaya dengan arsitektur klasik dan koleksi patung batu kuno. Pura ini, yang juga dikenal sebagai Pura Puseh Batuan, memang dihiasi dengan ornamen batu ukir yang rumit dan telah melewati berbagai pemugaran untuk mempertahankan keindahannya.
ADVERTISEMENT
Saat datang, pengunjung disambut oleh Candi Bentar, gerbang masuk yang dibangun dari batu bata merah dan dihiasi ornamen khas Bali, memisahkan area luar pura dari bagian tengahnya. Terdapat patung Dwarapala yang menjaga pintu masuk, memberikan nuansa unik dibandingkan pura lainnya, karena posisinya berdiri dan tanpa membawa senjata.
Di dalam, terdapat Kori Agung dengan pintu yang dipercaya sebagai gerbang dewa, dengan akses alternatif bagi umat Hindu melalui pintu samping jika ingin bersembahyang. Pura Batuan saat ini memang masiih aktif digunakan untuk ibadah lokal, menawarkan pengalaman budaya autentik bagi pengunjung.
Selain itu, pura ini juga memiliki panggung untuk pertunjukan tari, menambah kekayaan pengalaman bagi pengunjung. Desa Batuan sendiri terkenal dengan rumah tradisionalnya yang menampilkan arsitektur khas Bali, menunjukkan keindahan dan keunikan budaya lokal.
ADVERTISEMENT
Lokasi, Rute, Jam Buka, dan Harga Tiket Masuk
Batuan Temple berlokasi di Dusun Tengah, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Untuk mengunjunginya, menggunakan mobil atau motor pribadi adalah salah satu cara ternyaman untuk sampai ke Pura Batuan, dengan perjalanan sekitar 30 menit dari Denpasar.
Namun, jika memilih transportasi umum, bisa turun di terminal bus Sukawati dan melanjutkan dengan ojek, baik konvensional maupun online, yang mudah ditemukan di area tersebut.
Fasilitas di Pura Batuan meliputi area parkir, tempat ibadah Hindu, toilet, tempat istirahat, dan ruang makan. Kunjungan ke Pura Batuan gratis, tetapi pengunjung diharapkan menyumbang untuk pemeliharaan pura melalui kotak donasi yang tersedia. Dalam hal ini, masyarakat Bali percaya akan prinsip keikhlasan atau "Medana punia".
ADVERTISEMENT
Waktu dan Cara Terbaik Mengunjungi Pura Batuan
Pura Batuan buka untuk umum dari pukul 09.00 sampai 18.00 setiap hari, sementara untuk kegiatan keagamaan, pura tetap buka 24 jam. Kunjungan terbaik adalah saat perayaan upacara keagamaan, yang berlangsung dua kali setahun sesuai dengan kalender lokal yang berdurasi 210 hari.
Perayaan ini dimulai dengan hari kedatangan dewa dan mencapai puncaknya pada hari ke-10, dikenal sebagai Kuningan, dihiasi dengan tarian, musik, dekorasi, dan persembahan makanan.
Pura merupakan elemen penting dari budaya Bali, memberikan wawasan kepada pengunjung tentang kehidupan setempat. Penting bagi pengunjung untuk menunjukkan rasa hormat di tempat ibadah ini, terutama dalam berpakaian.
ADVERTISEMENT
Baik pria maupun wanita diharapkan memakai sarung dan selendang saat berkunjung. Di Batuan Temple, sarung dan selendang tersedia untuk digunakan gratis oleh pengunjung, memastikan agar pengunjung dapat mengikuti aturan berpakaian saat di pura. (CR)