Kesusasteraan Bali Purwa: Pengertian, Sejarah, dan Contohnya

Mengulas serba serbi kota Bali, mulai dari pariwisata hingga budayanya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Seputar Bali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesusasteraan Bali Purwa merupakan salah satu karya klasik Bali yang sangat indah. Prosa tersebut tentunya dalam Bahasa Bali yang memiliki makna mendalam.
Tidak hanya alamnya saja yang indah, Bali juga menyimpan karya sastra yang indah. Para pencinta sastra tentunya wajib tahu.
Pengertian dan Sejarah Kesusasteraan Bali
Dikutip dari p2k.stekom.ac.id, kesusasteraan Bali purwa adalah sastra Bali yang diwarisi secara tradisional dalam bentuk naskah-naskah lama. Kesusasteraan ini dibagi menjadi dua yaitu Kesusasteraan Gantian dan Kesusasteraan Sesuratan.
Kesusasteraan Gantian sendiri berbentuk folklore atau satua. Sementara Kesusasteraan Sesuratan Sesuratan berbentuk sastra tertulis.
Untuk mengenal lebih dalam mengenai kesusasteraan ini, perlu tahu lebih dulu kapan dan mengapa kesusasteraan ini ada. Kesusasteraan Bali purwa sendiri menjadi cikal bakal munculnya kesusasteraan lainnya di Bali salah satunya Kesusasteraan Anyar atau Sastra Modern.
Kesusasteraan tradisional ini sudah ada sejak zaman Dinasti Warmadewa di abad IX. Lalu seiring perkembangan zaman, sastra tersebut ikut berkembang dengan pengaruh Jawa.
Hal itu terbukti dengan raja Dharmawangsa Teguh yaitu keturunan warta Sindok dari Jawa Timur menerjemahkan Bhagawan Byasa ke dalam bahasa Jawa. Lalu proyek terjemahan tersebut digantikan oleh Raja Erlangga yang merupakan putra dari Raja Udayana.
Lalu pada saat Kerajaan Majapahit muncul, sastra Jawa semakin berkembang pesat sehingga pengaruh masuk ke Bali. Sejak saat itu hingga sekarang, sastra Bali sudah semakin banyak jenisnya.
Contoh Kesusasteraan Bali
Untuk lebih memahami tentang kesusasteraan Bali Purwa, berikut ini beberapa contoh yang bisa dijadikan referensi untuk mempelajarinya.
Ida Peranda Nyoman Pidada Kidung Tantri dan Gita Wangbang Turida.
Mpu Kanwa: Arjuna Wiwaha.
Pangeran Telaga: Kidung Rangga Wungu, Amretamasa, Patol, Wilet Sih Tan Pegat, Kakangsen, Rara Kedura, Tepas, dan Caruk Amretamasa.
Ida Wayan Dangin: Geguritan Pan Bongkling.
Dang Hyang Nirartha: Kidung Sebun Bangkung, Sara Kusuma, Ampik, Legarang, Mahisa Langit, Ewer, Mayadanawantaka, Dharma Pitutur, Kawya Dharma Putus, Dharma Sunya Keling, Mahisa Megat Kung, Gegutuk Mneur, Wilet Demung Sawit, Brati Sasana, Siwa Sesana, Putra Sasana, dan Kidung Aji Pangukiran.
Ida Padanda Made Sidemen: Kakawin Cayadijaya, Kakawin Candra Bherawa, Kakawin Kalphasanghara, Kidung Rangsang, Geguritan Salampah Laku, dan Siwagama atau Siwa-Budhagama.
Baca juga: 3 Rekomendasi Agrowisata Kopi di Bali untuk Referensi saatLiburan
Itulah informasi mengenai Kesusasteraan Bali Purwa yang bisa dijadikan sarana edukasi. Selain punya beragam jenis, karya sastranya pun dinilai indah dan penuh makna. (VIN)
