Pura Agung Gunung Raung Taro: Simbol Sejarah Penting di Bali

Mengulas serba serbi kota Bali, mulai dari pariwisata hingga budayanya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Bali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pura Agung Gunung Raung Taro di Gianyar Bali adalah lebih dari sekadar tempat suci. Pura ini adalah monumen yang membawa kisah panjang dan penting bagi masyarakat di Pulau Dewata.
Pura ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi saksi bisu perkembangan sistem pertanian di Bali. Sejarahnya yang kaya mengungkapkan bagaimana tempat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat Bali selama berabad-abad.
Pura Agung Gunung Raung Taro dan Sejarah Singkatnya
Dikutip dari situs desawisatataro.com, Pura Agung Gunung Raung Taro merupakan salah satu pura yang paling megah di Taro, dan terkenal dengan nama Amunduk Taro. Tempat ini melingkupi sekitar 39 desa di area sekitarnya, menjadi pusat spiritual bagi banyak komunitas.
Sejarah pura yang agung ini berawal dari abad ke-17, ketika Maha Rsi Markandeya melakukan perjalanan dari India. Maha Rsi Markandeya melintasi Jawa Timur dalam rangka menyebarkan ajaran Hindu ke Pulau Bali.
Beliau mengajarkan tentang keharmonisan hidup bersama Ibu Pertiwi dan mengajarkan tentang pertanian yang berkelanjutan. Dengan begini, para penduduk dapat hidup dari tanah milik sendiri, tanpa perlu merantau.
Warisan Maha Rsi Markandeya bertahan hingga hari ini, dan dikenal sebagai Subak. Subak adalah sistem pengelolaan air untuk sawah yang memanfaatkan ekosistem alam. Sistem ini terus dipertahankan dan diajarkan dari generasi ke generasi di Bali.
Lokasi, Suasana, dan Aktivitas
Lokasi pura ini tepatnya berada di Taro, Kec. Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Menginjakkan kaki di gerbangnya, pengunjung akan dibuat kagum oleh keindahan dan uniknya desain candi. Pura ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kekayaan budaya dan sejarah.
Nama Gunung Raung sendiri diambil dari gunung tertinggi di Jawa Timur, menggambarkan asal Maha Rsi Markandeya yang pernah tinggal di sana sebelum melanjutkan perjalanannya ke Bali dan menetap di desa Taro.
Menurut informasi yang ada di jadesta.kemenparekraf.go.id, beragam kegiatan menarik dapat dilakukan selama mengunjungi pura ini. Salah satunya adalah kesempatan untuk berpartisipasi dalam sembahyang bersama. Selama kunjungan, pengunjung juga akan diberikan kamen dan selendang, busana adat Bali, yang menambah pengalaman autentik selama berada di pura.
Tidak hanya itu, setiap pengunjung akan disambut dengan welcome drink sebagai tanda keramahtamahan. Ada juga kesempatan untuk menikmati makan siang dan coffee break, memberikan kesempatan untuk mencicipi kuliner khas Bali sambil menikmati pemandangan sekitar.
Untuk pengunjung yang ingin merasakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam, tersedia opsi untuk memesan Banten Pejati untuk persembahyangan. Paket ini dikenakan biaya tambahan sebesar Rp150.000, termasuk layanan dari pemuka agama atau Pemangku.
Baca juga: Pura Tanah Kilap, Pura di Denpasar yang Punya Cerita Mistis
Demikianlah, Pura Agung Gunung Raung Taro tidak hanya menonjol karena arsitekturnya yang megah, tetapi juga karena peranannya dalam membentuk dan memelihara sistem pertanian yang unik di Bali. (CR)
